Pendidikan Iman dalam Keluarga Katolik

22 09 2005

(Narasumber: Suster Marta, MASF dan Bapak Eric Gasper. Host: Lily Gandakusuma dan Ursula Vina Murti)

familydinner.gifFase-fase perkembangan seorang anak dapat diumpamakan tangga batu. Tangga pertama sebagai dasar harus kuat karena merupakan penyangga untuk fase-fase selanjutnya dan perlu dipahami betapa penting usia pra sekolah yang merupakan awal dari suatu proses pembentukan kepribadian selanjutnya. Pada saat itulah orangtua perlu mulai menanamkan nilai-nilai iman kepada anak-anaknya.

Lily: Suster, Setelah kita dengarkan bersama ilustrasi tadi, kira-kira bagaimana pendapat suster mengenai ilustrasi singkat tersebut?
Sr. Marta: Bayi butuh belaian, dekapan kasih sayang bahkan sejak dari dalam rahim. Anak perlu mendapat kasih sayang langsung dari orang tua (kontak fisik). Walaupun Orangtua bekerja tetapi tetap harus memberi kasih sayang. Pembantu, babysitter atau nenek tidak dapat menggantikan peran orang tua. Handphone sebagai alat komunikasi tidak bisa menggantikan kehadiran orang tua.

Lily: Mungkin ada yang bisa ditambahkan pak Eric?
Eric: Intinya kasih sayang itu tidak dapat digantikan, sekalipun kepada orang yang kita percayakan seperti, nenek, pembantu atau babysitternya.

Lily: Lalu, sebenarnya kapan sebaiknya seorang anak mendapat pendidikan iman?
Sr. Marta: Seorang anak sebaiknya mendapat pendidikan iman sejak dalam rahim ibu. Komunikasi dimulai sejak masih dalam bentuk janin, karena rekaman dalam rahim akan berpengaruh kuat sekali. Kebiasaan ibu berdoa, mengajak anak berdoa walau dia masih dalam rahim.

Lily: Apakah berguna bagi anak yang belum mengerti untuk diajarkan berdoa oleh orang tuanya?
Sr. Marta: Sangat berguna, karena yang perlu ditanamkan adalah nilai-nilai doa itu sendiri. Doa tidak harus berupa hafalan, namun pengenalan yang melalui proses dan contoh-contoh yang diterapkan orang tua sehingga menjadi teladan bagi anak. Nilai doa itu tercermin melalui sikap dan perbuatan yang ditanamkan kepada anak. Kecerdasan seorang anak sudah ada sejak dalam janin : Usia 0 – 3 thn, kecerdasan 40%, Usia sampai dengan 8 thn, kecerdasan 80%.

Lily: Lalu apa saja yang perlu diajarkan pada anak?
Sr. Marta: Doa bersama, doa di Gereja, doa di lingkungan atau kring, menanamkan nilai-nilai doa sehingga menjadi kebiasaan-kebiasaan yang efektif seperti: sikap, perbuatan dan kata-kata, membuat tanda salib yang benar, kebiasaan doa-doa tradisi seperti Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan dan membiasakan bayi dibawa ke gereja. (tergantung pada perkembangan anak)

Lily: Bagaimana dengan Pak Eric, apa memang selama ini di dalam keluarga, anak juga telah diajarkan hal-hal seperti yang disebutkan oleh suster di atas? Misalnya doa bersama dalam keluarga?
Eric: Juga mengajarkan hal hal tersebut walaupun tidak terlalu intens. Tidak terlalu berperan dalam pendidikan iman anak karena anak-anak bersekolah di sekolah Katolik. Di sekolah pelajaran agama Katolik diajarkan, ini merupakan salah satu keuntungan bersekolah di sekolah Katolik. Dan bagi orang tua yang anaknya bersekolah di sekolah non Katolik, maka tugas orang tua menjadi ganda untuk mengajarkan pendidikan iman bagi anaknya dalam keluarga. Anak dilibatkan dalam doa lingkungan pada usia tertentu, diberi tugas atau ikut dalam doa rosario. Anak juga dilibatkan dalam doa keluarga, misalnya diberi giliran untuk berdoa. Saran saya: walaupun anak bersekolah di sekolah Katolik, tolong dibiasakan doa bersama dalam keluarga. Doa sebaiknya diajarkan sedini mungkin.

Lily: Lalu Suster, apakah menurut Suster penempelan slogan /pernak pernik kristiani merupakan salah satu cara pendidikan iman? (catatan : Keteladanan dari orang tua penting bagi pendidikan anak)
Sr. Marta: Iya, tetapi bukan satu-satunya cara. Misalnya: patung Bunda Maria di dalam rumah, tetapi tidak pernah mengajak anak utk berdoa di depannya. Keteladanan orang tua tetap merupakan yang terpenting bagi pendidikan iman seorang anak. Orang tua juga harus menjelaskan makna dari penempelan pernak pernik atau salib itu. Suara hati anak juga perlu dibina.

Vina: Suster, bisa jelaskan sedikit sebenarnya seberapa besar peranan orang tua dan Gereja dalam pendidikan iman seorang anak?
Sr. Marta: Peran orangtua sangat besar. Orang tua berperan menjadi Pendidik Utama dan Pertama,

  1. Utama karena orang tua bertanggung jawab mendidik anak, membawa anak dalam pembabtisan.
  2. Pertama karena orang tua yang mengawali pendidikan iman dalam keluarga. Gereja juga berperan karena memungkinkan proses pendidikan bisa berlangsung. Baik Orang Tua dan Gereja berperan bersama. Orangtua mengatakan kepada anak : ke Gereja bertemu dengan Yesus dan imam sebagai pengganti Yesus, sikap di Gereja sebagai rumah Tuhan dan hormat dalam menghadap Tuhan. Partisipasi dalam menyanyi (jika sudah mampu), sehingga menciptakan susana hidup.

Eric: Pada saat pastor kotbah, ortu harus memberikan teladan dan mencontohkan bahwa orang tua juga harus duduk tenang dan intens mendengarkan kotbah. Mengenalkan tokoh-tokoh Alkitab melalui cerita sebelum tidur malam

Vina: Lalu, cukup atau tidak jika hanya mengikuti salah satu bentuk pendidikan iman, entah sekolah minggu atau pelajaran agama  di sekolah atau misalnya hanya memperoleh pendidikan di rumah tetapi anak tidak perlu sekolah minggu?
Sr. Marta: Tidak cukup, tapi harus merupakan perpaduan antara pendidikan di sekolah, sekolah minggu juga pendidikan iman dalam rumah. Sebaiknya walau di rumah sudah meperoleh pendidikan iman dan sudah bersekolah  di sekolah katolik , anak diusahakan ikut sekolah minggu karena anak perlu bersosialisasi dengan teman-teman seiman. Pendidikan yang didapatpun harus seimbang:

  1.  Pendidikan Iman
  2.  Pendidikan Mental
  3.  Pendidikan Intelektual.

Melatih anak supaya peka thd kesusahan / penderitaan orang lain dan belajar berkomunikasi dengan teman sehingga tidak egois.

Vina: Pak Eric, kalau menurut bapak sendiri bagaimana? Apakah anak juga diikutkan sekolah minggu?
Eric: Dulu sekolah minggu belum ada, jadi pendidikan iman didapat dari sekolah. Untuk saat ini memang sekolah minggu bagus untuk anak-anak. Misdinar pada usia tertentu juga merupakan salah satu bentuk pendidikan iman.

Vina: siapa sich yang sebaiknya mengantar atau menunggui anak ikut sekolah minggu? Orangtua atau pembantu?
Sr. Marta:
Pada anak usia tertentu (mungkin dibawah 3 tahun) siapapun yang mengantar tidak menjadi masalah selama anak merasa aman,  baik salah satu anggota keluarga atau pembantu atau babysitter. Kita mempunyai kewajiban untuk hadir pada saat perayaan Ekaristi, jadi anak diserahkan kepada pengganti juga tidak apa-apa. Sedangkan untuk anak usia diatas 3 tahun, dimana anak lebih matang, sebaiknya sudah bisa dilepas sendiri sehingga anak dapat bersosialisasi, seperti dapat bergaul dengan sesamanya.

Vina: Untuk Bapak Eric sendiri apa ada masukan mengenai hal ini?
Eric: Mungkin setelah di rumah orang tua bisa menanyakan kembali apa-apa yang telah didapat dari sekolah minggu baik kepada anaknya maupun kepada pembantu yang mengantar.  Solusi terbaik adalah mencari jadwal ke gereja agar tidak bentrok dengan jadwal anak sekolah minggu, kecuali pada hari-hari raya misalnya Minggu Palma, dll. Orang tua mungkin mengalah dalam jadwal ke gereja, misalnya pagi mengantar anak sekolah minggu, dan mengikuti perayaan Ekaristi pada sore harinya.

Vina: Bagaimana pandangan masing-masing mengenai orangtua yang tidak punya waktu karena sibuk bekerja dan menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan anaknya pada TPA atau babysitter.
Sr. Marta: Sesibuk apapun orang tua bukan merupakan alasan yang bisa ditolerir. Artinya orangtua tidak menjalankan tugas/tanggung jawab sejak baptis. Pendidikan anak oleh orangtua harus jadi prioritas, tidak bisa digantikan. Orangtua harus menyempatkan diri untuk anak sehingga anak tidak menjadi anak pembantu
Eric: Kebersamaan dalam keluarga itu penting dan mahal harganya. Ikatan batin itu dibangun sejak kecil karena kebersamaan. Sebaiknya ada hari khusus buat keluarga. Walaupun seandainya ada salah satu keluarga berhalangan hadir, mungkin masih sibuk diluar dan belum pulang, sebaiknya doa keluarga juga tetap dilaksanakan.

Lily: Suster, menurut suster bentuk2 pendidikan iman yang bagaimana yang diwajibkan dalam keluarga menurut Gereja Katolik?
Sr. Marta: Bentuk yang paling efektif adalah keteladanan hidup melalui nilai cinta kasih. Pembentukan hati nurani. Doa bersama dalam keluarga sebaiknya perlu diusahakan. Melatih cara-cara berdoa sederhana. Membaca kitab suci. Cerita riwayat hidup orang kudus sebelum anak tidur, mungkin dikombinasikan dengan cerita-cerita si kancil dan buaya sehingga anak tidak bosan.

Lily: Lalu, dampak kurangnya pendidikan iman dalam keluarga akan seperti apa?
Suster Marta: Kenakalan remaja, merosotnya pendidikan moral, anak menjadi acuh tak acuh, kurang peka akan kesulitan orang lain dan egois.(lg)

About these ads

Aksi

Information

4 responses

30 05 2007
jono

ya

26 06 2007
yosep gangsar arintaka, SE

saya setuju dengan pendidikan yang melibatkan peran keluarga yang melekat, apalagi dengan tantangan jaman yang semakin hedonis dan liberal saat ini. dengan tidak ada lagi sekat-sekat antara yang boleh dan tidak boleh, antara yang tabu dengan yang tidak tabu, antara yang pantas dan tidak pantas dsb.

peran gereja semakin berat dengan semakin besarnya “godaan Jaman” yang serba materialistis, individualitis, dan semakin kristisnya umat sebagai pilar utama “gereja Kecil” didalam keluarga masing-masing.
artinya kritis dalam ekonomi, kritis dalam keteladanan rohani bergereja, kritis dalam kepercayaan iman Kristiani yang semakin abstrak tanpa menemui figur-figur yang tepat dalam menjadi sang pemimpin dalam keluarga, dan gereja.

Hambatan pendidikan akibat finansial, yang sulit diakses bagi keluarga Katolik yang miskin, hidup pas-pasan dalam menyekolahkan anak-anaknya walaupun itu untuk masuk disekolah katolik sekalipun merupakan gambaran bahwa kenyataan disana sini masih ada kekurangan, kesalahan, kekeliruan yang harus sigap segera dibenahi agar umat merasakan juga arti kehadiran ILLAHI via gereja dan derifatnya (umat sendiri, perusahaan milik umat, yayasan milik umat, atau gereja dsb).

29 06 2007
Lucas Nasution

“….walaupun itu untuk masuk disekolah katolik sekalipun …” konotasi kalimat ini seolah-olah sekolah katolik adalah murah. Sepanjang pengamatan saya sekolah katolik tidak murah…atau ?

pertanyaan untuk sidang pembaca: apa ada awam yang bersatu daya membuat yayasan pendidikan murah? boleh share ?

Lucas

31 01 2008
heri

salam dari klaten

http://indofiber.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: