Penyelenggaraan Ilahi

9 02 2006

Narasumber: Bruder Martinus Sariagiri, FIC dan Bapak Gabriel Ora; Host: Tengkar Seputro dan Lily Gandakusuma

earth.jpgTuhan Sang Pencipta menyelenggarakan semua yang ada di bumi ini. Kehidupan, alam semesta dan segala isinya. Hal ini kita sebut dengan ‘Penyelenggaraan Ilahi’. 

Ipoet: Bruder, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan Penyelenggaraan Ilahi ini?
Bruder Martinus:
Bagi Gereja, penyelenggaraan Ilahi kita sebut sebagai misteri Allah, yaitu hal-hal atau kejadian-kejadian dalam hidup manusia yang tidak bisa dimengerti, dipahami dan ditangkap oleh akal budi manusia. Kalau menurut pandangan Gereja, ciptaan mempunyai kebaikan dan kesempurnaannya sendiri. Namun ia tidak keluar dari tangan pencipta dalam keadaan benar-benar selesai. Ia diciptakan demikian bahwa ia masih “ditengah jalan” (in statu viae) menuju kesempurnaan terakhir yang baru akan tercapai, yang dipikirkan Allah baginya. Dengan dan melalui penyelenggaran Ilahi ini, Allah menghantar ciptaan-Nya menuju penyelesaian itu. Dalam Denzinger-Scoenmetzer (DS) dikatakan: “Allah melindungi dan mengatur melalui penyelenggaraan-Nya, segala sesuatu yang diciptakan….” (KV I, DS 3003)
Kesaksian KS mengakui dengan suara bulat: pemeliharaan penyelenggaraan adalah kongkret dan langsung; ia peduli akan segala sesuatu dari kejadian yang paling kecil sampai kejadian-kejadian besar yang membentuk sejarah dunia. Buku-buku suci dengan tegas menekankan kedaulatan Allah absolut (tak terbatas, tak diragukan lagi, tak tertanyakan lagi, sepenuhnya) dalam peredaran kejadian: “Allah kita disurga, ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya” (Mzm 115:3). Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi hanya keputusan Tuhanlah yang terlaksana” (Ams 19:21)

Ipoet: Bruder, apa peranan kita dalam penyelenggaraan Ilahi ini?
Bruder Martinus: Ada penyelenggaraan yang mutlak dimana manusia tidak memiliki kuasa untuk mengubah atau terlibat di dalamnya. Misalnya: kelahiran dan kematian. Kelahiran merupakan panggilan awal dari Allah bagi manusia untuk menjalankan rencanaNYA. Dikatakan penyelenggaraan Allah yang mutlak karena manusia tidak bisa memilih/meminta. Apakah lalu ada penyelenggaraan yang tidak mutlak? Kiranya dapat dikatakan pen
yelenggaraan relatif. Penyelenggaraan relatif adalah jalan hidup manusia dimana manusia masih bisa terlibat di dalamnya dengan usaha dan perjuangan hidup. Misalnya: rejeki, jodoh, sakit, dsb. Menurut pengajaran Gereja, kepada manusia Allah memberi kemungkinan untuk mengambil bagian secara bebas dalam penyelenggaraan dunia, dengan menyerahkan tanggung jawab kepada mereka, untuk “menaklukan dunia”dan berkuasa atasnya. Dengan demikian Allah memungkinkan manusia menjadi sebab yang berakal dan bebas untuk melengkapi  karya penciptaan dan untuk menyempurnakan harmoninya demi kesejahteraan diri dan sesama

Lily: Dalam kitab Kejadian disebutkan bahwa segala ciptaan Tuhan adalah baik. Tuhan maha baik, dan segala yang berasal dari Tuhan adalah baik. Tetapi mengapa pada kenyataannya dunia ini penuh dengan kejahatan dan hal-hal yang tidak baik?
Bruder Martinus: Tentu kita akan berpikir juga, bukankah Allah itu maha sempurna?  Dan karena kesempurnaan-Nya, maka semua ciptaan Tuhan adalah sudah sempurna. Benarkah demikian? Bukankah Tuhan itu maha kuasa, tetapi mengapa Ia tidak menciptakan dunia ini sedemikian sempurna, sehingga tidak ada unsur jahat di dunia ini? Dalam kuasanya yang tidak terbatas Allah dapat saja menciptakan sesuatu yang lebih baik. Tetapi dalam kebijaksanaan dan kebaikanNya yang tidak terbatas, karena kehendak bebas Allah, Ia ingin menciptakan satu dunia yang berada di “jalan” menuju kesempurnaannya yang terakhir. Maka Allah menempatkan proses perjalanan manusia ini sebagai “PANGGILAN UNTUK SEMPURNA”. Semua manusia diundang supaya menerima panggilan ini. Tetapi manusia dapat juga menolaknya sejak awal dan dengan bebas. Dan inilah yang dalam Gereja disebut sebagai suatu misteri. Lihatlah bahwa tidak ada satu unsurpun pewartaan Kristen yang tidak merupakan jawaban atas masalah kejahatan. Tujuan hidup manusia adalah keselamatan.Karena kebebasan manusia, ia bisa menyimpang dari jalan Tuhan dan bukan mengarahkan diri pada tujuan Allah karena cinta. Pada kenyataannya manusia justru semakin berdosa. Kejahatan moral jauh lebih buruk daripada kebobrokan fisik yang merasuki dunia.  Bagaimanapun juga baik langsung maupun tidak langsung, Allah bukanlah penyebab kejahatan moral manusia. Namun Ia membiarkannya terjadi karena Ia menghormati kebebasan makhlukNya dan dengan cara yang penuh rahasia Allah mampu mengambil yang baik darinya. Agustinus menuliskan, “Allah yang mahakuasa…….dalam kebaikanNya yang tanpa batas tidak mungkin membiarkan kejahatan apapun berada dalam karyaNya, kalau Ia tidak begitu mahakuasa dan baik, sehingga ia juga mampu mengambil kebaikan dari kejahatan”

Lily : Bagaimana pendapat pak Gabriel mengenai Penyelenggaraan Ilahi atau kehendak Allah ini?
Bpk. Gabriel Ora: Sesuatu yang tidak bisa diubah. Mengubah berarti melawan kehendak Allah. Menjalankan hidup dengan pasrah dan percaya – tapi juga berusaha.Yang terjadi menurut Allah, rahasia Allah harus tetap diterima.Kita harus mencari apa kehendak Allah terhadap diri kita sendiri, melalui iman, kitab suci, melalui ajaran gereja dan dengan renungan pribadi. Setelah menemukan, kita menyesuaikan diri kita dengan kehendak Allah tersebut.

Lily : Bagaimana pula dengan pendapat Bruder Martinus?
Bruder Martinus : Kita tidak bisa mengubah rencana absolut Allah. Yesus sendiri juga pernah bertanya, “Dapatkah kita menambahkan sehasta saja dari usia hidupmu oleh karena kekuatiranmu?”. Kita juga tidak bisa meminta agar saya dilahirkan saja dari keluarga itu atau dari ibu yang ini. Tuhan memang telah menetapkan pada rencana yang absolut ini, dan tidak ada kuasa manusia manapun yang dapat menghalangi atau mengubahnya. Namun pada garis hidup yang relatif, manusia masih dapat mengubahnya, entah menuju ke semakin baik atau ke arah yang jauh dari kehendak Tuhan. Jadi, kalaupun manusia dapat mengubah jalan hidupnya itupun tetaplah merupakan kehendak Allah. Rencana Allah tidak selalu berarti bahwa Tuhan telah menggariskan hidup saya, maka yang sudah dech orang ini sudah digariskan Allah! Kiranya Rencana Allah tidak dipahami seperti itu, tetapi lebih pada bahwa Tuhan telah mengetahui jalan-jalan hidup manusia. Tuhan telah tahu apa yang bakal terjadi dari pilihan bebas tertentu dari manusia pada saat manusia tidak pernah memikirkannya. Apa yang terjadi ini juga dapat berubah karena kecerobohan atau kesalahan manusia.  

Lily : Apa pak Gabriel pernah diramal atau ada pengalaman tentang ramalan, atau mungkin waktu membangun rumah mengikuti hong-shui, feng-shui dan semacamnya?
Bpk. Gabriel Ora : Waktu SMA saya pernah iseng-iseng diramal, melihat garis tangan tentang masa depan. Katanya huruf M yang terputus katanya kehiduapan akan susah, dan huruf M dipotong dengan dua garis artinya mempunyai 2 istri,  tapi saya tidak percaya. Menurut saya, tukang ramal hanya mencari makan saja. Percaya atau tidak, tergantung mereka yang diramal. Jika benar terjadi, itu hanya kebetulan.
Bruder Martinus: Gereja tidak berkomentar mengenai hal ini.Para peramal yang benar, adalah orang-orang dikaruniai juga oleh Tuhan dengan kemampuan itu. Mereka dikarunia Tuhan kharisma yang tidak dimiliki oleh setiap orang. Pada sisi yang pertama, mereka memang dipakai Tuhan untuk melihat kecenderungan masa depan manusia. Tentu bukan semata-mata kekuatan kemanusi
aan mereka, melainkan ada kerjasama dengan kuasa tertinggi – mereka adalah para nabi yang bernubuat. Tapi pada sisi yang kedua, mereka tidak bisa menetapkan secara definitif dan spesifik garis hidup manusia. Mereka hanya membaca, menyaksikan. Mereka sama sekali tidak bisa menetapkan. Hanyalah Tuhan yang berkuasa untuk menetapkan. ”Purbawasesa” tetap pada Allah. Kalau pun benar, memang Tuhan menghendaki demikian. Kalaupun salah, orang namanya juga ramalan. Pada sisi yang ketiga, tergantung juga pada orang yang diramal. Apakah dia yakin ataukah hanya menjadi inspirasi saja baginya.    

Lily : Kalau begitu, bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap Rencana Allah ini?
Bpk. Gabriel Ora : Kita harus percaya pada Rencana ALLAH. Apapun yang terjadi – baik atau buruk – harus dipahami bahwa semuanya adalah rencana Allah.
Bruder Martinus : Kalau terhadap ada atau tidaknya rencana Allah, orang harus percaya bahwa rencana allah itu ada. Artinya percaya bahwa Tuhan menetapkan jalan hidup seseorang, Tuhan telah mengetahui jalan hidup sebelum manusia mengetahuinya, dan Tuhanlah penyelenggara semua yang diciptakannya. Tetapi tidak berarti menempatkan seluruh peristiwa hidupnya apapun itu sebagai kehendak Tuhan atau sebentar-sebentar berkata: ”Ini sudah menjadi kehendak Tuhan, mau apa lagi?”

Ipoet: Kalau orang meninggal karena kecelakaan apa termasuk takdir?
Bruder Martinus: Tadi sudah saya singgung, kalau itu merupakan kecerobohan manusia, berarti itu bukan kehendak Allah bukan rencana Allah. Rencana Allah selalu memberikan yang terbaik bagi umatnya.

Ipoet: Apa perbedaan Penyelengaraan Illahi dengan takdir?
Bruder Martinus: Dalam kitab suci tidak pernah dikatakan soal takdir. Takdir juga tidak pernah dibahas dalam ajaran gereja. Yang dibahas adalah Penyelengaraan Ilahi atau kehendak Allah. Mungkin itu adalah istilah lain dari takdir.

Ipoet: Apakah kita bisa meminta Tuhan untuk mengubah nasib?
Bpk. Gabriel Ora : Untuk mengubah rasanya saya tidak setuju. Rencana Tuhan sudah ada, hanya manusia yang salah memahami. Kita bisa meminta tapi tidak bisa memaksa Tuhan untuk mengubah.Manusia sendiri yang berkuasa untuk mengubah nasibnya.
Bruder Martinus: Meminta sih boleh-boleh dan bisa-bisa saja. Yesus toh juga pernah bersabda: ”mintalah maka kalian akan diberi, carilah maka kalian akan mendapat, dan ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Luk 11: 9). Dalam penderitaan di taman Zaitun, Yesus juga berteriak kepada Bapa-Nya, ”Ya Bapa jika Engkau mau biarlah cawan ini berlalu dari pada-Ku. Tetapi bukanlah kehendakKulah yang terjadi melainkan kehendakMulah yang terjadi!” (Luk 22: 42). Ini adalah realittas biblis dimana seseorang boleh dan bisa meminta kepada Tuhan tentang sesuatu hal. Tetapi apakah Bapa mendengarkan doa Yesus? Ya Ia mendengarkan. Apakah Ia mengabulkan? Bapa selalu menempatkan yang terbaik. Dan yang terbaik dan terutama adalah bahwa Yesus taat kepada Bapa-Nya. Otoritas ada dalam tangan Bapa-Nya. Maka cawan tidak dapat dihindarkan lagi. Yesus menjalani dengan taat dan setia. Jika yang terjadi adalah seperti yang kita minta, maka itulah yang terbaik bagi Tuhan juga. Kita sebatas meminta dan berharap. Namun bukan tidak mungkin Tuhan mengabulkan oleh karena iman. Bukankah si sakit kusta juga menjadi tahir, si Buta menjadi melek, dan yang mati jadi hidup kembali karena Yesus melihat iman pada orang tersebut. Inilah juga mengapa Yesus selalu mengatakan, ”Imanmu telah menyelamatkan engkau.” Jadi tidak sekedar minta. Tuhan tahu kepada siapa Ia harus memberi. Maka selain meminta, kita juga harus menyertakan dalam hidup kita: hidup yang benar dihadapan Tuhan, perwujudan kasih kepada sesama, pemeliharaan hidup rohani dan doa kita.

Ipoet: Apakah operasi plastik melawan Kehendak Allah? (Apa rencana Tuhan dengan adanya kecacatan?)
Bruder Martinus: Jawabnya singkat, melawan Kehendak Allah apapun alasannya. Karena orang kurang bersyukur. Lepas dari kesalahan siapapun sebaiknya kita lihat sebagai rencana dan penyelenggaraan Tuhan yang alami. Ada maksud Tuhan yang tidak selalu k
ita  pahami dibalik ”keburukan” tersebut. Operasi plastik memang mengubah wajah supaya menjadi lebih baik tetapi ini melawan kehendak Tuhan. Seharusnya orang tetap mensyukuri walaupun menjadi cacat. Ini terjadi supaya kehendak Allah atau misteri Allah terpenuhi (Yohanes 9:2).Kalau soal kecacatan, Pertama, Anak yang dilahirkan cacat diberikan karunia dan kelebihan khusus oleh Tuhan melengkapi kecacatannya. Kedua, kelahiran cacat mempunyai nilai paedagogies bagi yang sehat, entah itu orang tuanya, saudaranya atau orang yang menjumpainya. Melalui si cacat tidak sedikit orang tua bertobat dari dosa-dosanya, melalui si cacat kesabaran orang tua semakin terbentuk dan kasih sayang orang tua kian ditambahkan, melalui si cacat Tuhan mengetuk kemurahan hati banyak orang dan melalui si cacat juga, akhirnya membuahkan rasa syukur bagi si sehat. Saya melihat Tuhan mempunyai rencana baik bagi si cacat maupun si sehat. Tetapi kembali pada mereka, apakah ini akan menjadi pembelajaran bagi mereka atau justru pen
yesalan seumur hidupnya.

Ipoet: Kalau memang kehendak Tuhan yang akan terjadi apakah artinya kita pasrah saja akan apa yang akan terjadi?
Bpk. Gabriel Ora: Pasrah bukan berarti tidak berbuat sesuatu. Tapi berusaha semaksimal mungkin yang sesuai dengan rencana Allah.Yang jelas jangan kecewa, tapi tetap bersyukur karena Tuhan pasti mempunyai maksud tertentu. Dalam hal itu, biasanya manusia yang lambat memahami (menyadarinya).
Bruder Martinus: Perlu diperjelas dulu apa itu pengertian pasrah supaya tidak jatuh pada penyamaan pada pengertian menyerah. Pasrah adalah sikap rendah hati meletakkan hidup pada kehendak dan kuasa Tuhan. Jika demikian pasrah dimengerti sebagai sikap taat pada penyelenggaraan ilahi. Dan ini positif. Yang diharapkan Tuhan atas umat-Nya memang demikian. Tetapi kalau dengan pasrah menjadikan seseorang tidak berjuang, tidak berusaha dan tidak berdoa karena merasa tidak ada gunanya lagi, maka ini negatif. Karena membawa orang menyerah pada nasib dan bisa-bisa jatuh pada penyalahan terhadap Tuhannya.


Aksi

Information

2 responses

12 07 2006
Rere

Saya ada pertanyaan dari teman dan saya tidak bisa menjawab. Pertanyaan itu ada hubungannya dengan penyelenggaraan ilahi. Dia bertanya apakah orang yang menjadi miskin karena suatu sebab juga bagian dari penyelenggaraan ilahi (kehendak Tuhan)? Lalu mengapa kita masih menyebut Tuhan itu adil jika Tuhan menaruh kita pada suatu kemiskinan?
Mohon di jawab. Terima kasih.

15 07 2006
gemawarta

Rekan Rere,

Dalam iman kita mengakui keadilan Tuhan dalam hal kesempatan yang diberikan kepada manusia. Dari Matius 5:45: “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Juga adalah kehendak Tuhan agar kita dapat memperjuangkan hidup kita. Selain itu, kita tentu saja mempercayai bahwa Tuhan memiliki rencanaNya yang bukan melulu sejalan dengan rencana kita. Semoga berkenan. Terima kasih juga sudah berkunjung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: