Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Negeri

16 03 2006

Narasumber: Anna Aryati dan FX Subiyanto, Host: Tengkar Seputro dan Ursula Vina Murti

muridsd.JPGMenjadi guru dan menyadari betapa besar peran seorang guru dalam pembangunan berbangsa dan bernegara, peran seorang guru dalam pengembangan mental seorang anak. Terlebih dalam membekali seorang anak dengan keimanan yang kuat untuk menempuh masa depan.Untuk itu telah hadir bersama kami, Ibu Anna Aryati, seorang guru agama Katolik di salah satu SMA Negeri di Balikpapan dan Bapak FX Subiyanto, sebagai Pengawas Pendidikan Agama Katolik Departemen Agama Kotamadya Balikpapan.

Ipoet: Ibu Anna, mengapa Ibu memilih ‘guru’ sebagai karir? Dan terutama lagi, mengapa Ibu memilih menjadi guru agama?
Ibu Anna: Saya sangat mencintai profesi guru yang dengan segala usahanya membuat peserta didik untuk menjadi ‘bisa’.Saya sangat senang, juga bahagia bila berbicara tentang agama dan menyangkut hal yang rohani (sejak saya SD). Saya pun menyadari sedikit beratnya menyangkut tindakan moral saya, tetapi justru dengan profesi ini menjadi pendorong saya untuk hidup lebih baik. Dasar dari semua itu saya hayati bahwa ini panggilan Tuhan buat saya untuk berkarya.

Ipoet: Bapak Subiyanto, sebagai seorang pengajar di sekolah negeri, yang bahkan mengajar di 6 sekolah ya Pak,… bisa Pak Subiyanto berikan gambaran kepada kami tentang pendidikan di sekolah negeri pada umumnya?
Bpk. Subiyanto: Di Balikpapan ini, terdiri dari berbagai suku bangsa dan agama. Sehingga siswa-siswi di sekolah sudah terbiasa dengan budaya multikultural, sehingga, kehidupan sosial dan beragama terjalin sangat bagus. Selain itu, bukan bermaksud membandingkan, namun, tentang kedisiplinan, tidak kalah dengan sekolah swasta.

Ipoet: Kemudian, sebagai seorang pengajar agama Katolik, bagaimana dengan pendidikan Katolik di sekolah negeri di Balikpapan ini?
Bapak Subiyanto: Kami para guru terutama Guru Agama Katolik, musti waspada, dan bisa mengarahkan siswa siswi kami, bahwa hidup berdampingan satu sekolah yang memakai seragam yang sama, tidak semua-muanya harus sama, ada yang berbeda, yaitu agama. Bukannya membeda-bedakan, namun berupa pembekalan diri dengan ajaran Katolik.
Bu Anna: Mungkin saya bisa menambahkan. Untuk pembinaan sungguh kondusif, menyangkut pembentukan mental spiritual ada ruang dan waktu, kesempatan dan juga dukungan dari pihak-pihak terkait.

Ipoet: Kemudian tentang jam pelajaran Pendidikan Agama Katolik ini bagaimana Bu ?
Ibu Anna: Kebetulan kalo di sekolah negeri dimana saya mengajar, kami tidak ada kendala sama sekali. Kami menggunakan waktu diluar jam pelajaran reguler, yaitu di sore hari untuk Pendidikan Agama Katolik. Kira-kira jam 3-4 sore.
Bpk. Subiyanto: Di sekolah tempat saya mengajar, karena tenaga pengajar minim sekali, oleh karena itu, kami kumpulkan siswa siswi Katolik, kemudian mengambil waktu sepulang sekolah; sama seperti di sekolah Bu Anna; namun bedanya adalah, kami memakai sistem belajar penggabungan kelas 1 sampai 3 dengan circle per 3 tahun di luar jam sekolah dan biasanya pada hari Jumat. Jadi waktu intra pelajaran agama di kelas siswa siswi ini biasanya ke perpustakaan.

Ipoet : Jadi, pendidikan agama Katolik ini dikolektifkan begitu ya Pak? kelas 1, 2 dan 3 menjadi 1 kelas, dengan pertimbangan: kekurangan Tenaga pengajar. Kemudian pertimbangan yang lain misalnya materi, kurikulum, apakah bisa juga disamakan Pak?
Bpk. Subiyanto: Pemberian Pendidikan Agama Katolik memang sedikit berbeda dengan pelajaran yang lain, fisika atau matematika. Namun, setiap siswa siswi secara kumulatif, pasti mendapat materi yang sama. Misal begini, di tahun ini, materi belajar kita adalah buku Agama Katolik jilid A, kemudian tahun depan adalah jilid B, dan tahun berikutnya adalah jilid C. Jadi, materi Pendidikan Agama ini sangat fleksible, tidak harus sequential A-B-C, namun bisa B-C-A dan C-A-B.

Vina: Bapak Subiyanto, ada berapa orang guru agama Katolik di Balikpapan ini? Dan bagaimana penyebarannya, apakah di tiap sekolah negeri ada setidaknya satu orang guru agama Katolik atau bagaimana?
Bp. Subiyanto: Guru Agama Katolik di Balikpapan ini berjumlah seluruhnya 25 orang. Yang tersebar di 296 sekolah, dalam hal ini, termasuk sekolah negeri dan swasta. Nah, kalau secara kasar diperbandingkan, kita akan dapatkan perbandingan 1 : 12, artinya rata-rata 1 guru menghandle 12 sekolah. Nah, tentang di setiap sekolah apakah ada gurunya, kalo dalam hal ini, guru khusus sekolah tersebut, jawabannya : belum tentu. Karena 1 orang guru bisa mengajar di beberapa sekolah. Namun, yang pasti, setiap siswa pasti menerima pelajaran agama yang sesuai dengan agama yang dianutnya.

Vina : Kemudian Pak Subiyanto, guru-guru yang tersebar di seluruh penjuru Balikpapan ini tentunya punya ‘irama’ sendiri dalam menyampaikan materi pelajarannya. Adakah wadah atau semacam paguyuban guru-guru Agama Katolik di Balikpapan ini, untuk menselaraskan persepsi, diskusi, musyawarah membahas kondisi-kondisi khusus yang mungkin ada, dan bahkan soal-soal ujian?
Bp. Subiyanto: Kami para guru agama mempunyai wadah atau paguyuban yang kami sebut dengan: KKG, yaitu kelompok kerja guru. Di paguyuban tersebut kami bertukar pikiran tentang isu-isu seputar pendidikan Agama Katolik. Termasuk di dalamnya, kami juga membuat soal-soal ujian terpadu untuk SD, SMP dan SMA di Balikpapan.

Vina : Ibu Anna, model pendidikan yang seperti apa yang ibu terapkan? Dengan perbedaan yang jelas terlihat tentunya model yang diterapkan pasti berbeda. Kita tahu bahwa di sekolah negeri tentu lebih heterogen dibandingkan dengan sekolah swasta – dalam hal ini sekolah Katolik.
Ibu Anna:

  • lebih menerapkan pola eksploratif dengan metode-metode dialog partisipatif dan eksperimental dan ini memang tuntutan dari kurikulum saat ini (KBK, Kurikulum Ber
    basis Kompetensi)
  • ada efektivitas positif dari keheterogenan ini bahwa peserta didik bisa mengaplikasi langsung pernyataan imannya ke dalam pengalamannya di masyarakat sekolah yang heterogen

Vina: Beberapa waktu yang lalu, dalam topik ini, kami sempat mewawancarai beberapa siswa sekolah negeri di Balikpapan, tentang Pendidikan agama Katolik. Kami bertanya kepada responden kami, apakah model pendidikan Agama Katolik sudah cukup memenuhi kebutuhan mereka, karena  mereka berada di tengah-tengah culture yang majemuk. Kemudian dari beberapa responden kami menyimpulkan bahwa ternyata masih kurang, baik dari tenaga pengajar, dan bahkan jam belajar yang di luar pelajaran reguler. Menurut bapak Subiyanto, sebagai seorang dari Departemen Agama dan juga sebagai seorang guru agama Katolik, apakah metodologi Pendidikan Agama Katolik di Balikpapan sudah sesuai ? dan menurut Bapak bagaimana model pendidikan Katolik yang ideal untuk diterapkan di sekolah negeri?
Bp. Subiyanto: Secara ideal, jumlah pendidik Agama Katolik sangat tidak memadai. Namun, kami juga terbentur pada peraturan pemerintah tentang UU Pendidikan, yang disitu disebutkan bahwa suatu sekolah diperbolehkan mengangkat 1 guru agama, apabila terdapat minimal 10 orang siswa. Dan banyak sekolah yang tidak memenuhi quota tersebut. Namun, untuk mengatasi hal tersebut, seperti yang sudah disebutkan di depan tadi, kami mempunyai pemecahan masalah dengan metodologi Pendidikan siklus 3 tahun, karena kekurangan tenaga pengajar.

Vina: Pak Subiyanto, tadi disebutkan bahwa ada peraturan pemerintah tentang UU pendidikan yang menyebutkan Suatu Sekolah diperbolehkan mengangkat 1 guru agama, apabila terdapat minimal 10 orang siswa.Sementara, menurut Undang Undang Pendidikan Nasional (Sisdiknas) no 20 tahun 2003, yang merupakan revisi UU 2/1989, terdapat dalam salah satu pasal demikian : “setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak atas mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya, dan diajarkan oleh pendidik yang seagama”Seolah-olah ingin menyampaikan, bahwa meskipun hanya 1 orang berada di dalam suatu sekolah, namun siswa tersebut berhak mendapat Pendidikan Agama sesuai dengan Agama yang dianutnya.Apakah 2 peraturan itu tidak tampak berseberangan Pak?
Bp. Subiyanto: Dua undang-undang tadi memang benar seperti itu bunyinya, namun bukanlah suatu hal yang seolah-olah saling mematahkan. Setiap siswa memang benar berhak untuk mendapat pelajaran agama sesuai dengan agama yang dianutnya, namun itu tidak berarti harus mengangkat seorang guru agama khusus yang ‘dedicated’ untuk sekolah tersebut.Karena pengangkatan guru memang tidak semudah itu. Mungkin bahasan akan terlalu luas, tapi baiklah saya akan menjelaskan secara singkat saja, bahwa pengangkatan guru itu tidak bisa dilaksanakan dengan mudah dan cepat, karena menyangkut anggaran negara.Namun, kami mempunyai solusi yang bisa menjembatani kedua undang-undang itu, yaitu kami mengangkat guru honorer.

Ipoet : Ibu Anna, apa saja tantangan dan hambatan yang selama ini Ibu hadapi sebagai seorang guru agama di sekolah negeri?
Ibu Anna: Hambatan kurang lebih sama, yaitu kekurangan tenaga pengajar.Yang unik adalah tantangannya, yaitu, karena jam belajar diadakan sepulang sekolah, maka siswa siswi sudah lelah, sehingga sudah mulai mengantuk daya serap nya sudah mulai menurun. Sehingga saya harus mengemas pelajaran itu menjadi sesuatu yang menarik, cerita-cerita yang menarik, sehingga membuat siswa siswi saya tetap terjaga dan bisa berkonsentrasi.
Bp. Subiyanto: Kalau saya, karena kekurangan tenaga pengajar, tidak seperti Bu Anna yang mengajar di satu sekolah saja, saya harus mengajar di 6 sekolah. Bisa dibayangkan betapa kompleksnya.

Ipoet: Ibu Anna, di sekolah Ibu, kegiatan keagamaan apa saja yang dilakukan di lembaga sekolah, bagaimana animo siswa siswi dan bagaimana dengan pendanaan kegiatan? misal mengadakan perayaan hari raya, rekoleksi, retret atau keikutsertaan dalam berbagai event umum yang diselenggarakan?  
Ibu Anna: Ada anggaran dari pihak sekolah untuk perayaan hari raya (Natal, Paskah), terkadang dari swadaya para siswa. 

Ipoet : Kemudian Dukungan dari Departemen Agama sendiri bagaimana, Pak Subiyanto?  Bp. Subiyanto:

  • mengangkat guru agama honorer menjadi PNS
  • kami juga ikut mengawasi sistem pendidikan Agama Katolik ini, dengan cara : menilai dan membina penyelenggaraan pendidikan pada sejumlah sekolah, baik negeri maupun swasta yang menjadi tanggungjawabnya.
  • Selain dukungan dari Departemen Agama, Bimas Katolik Depag pusat Jakarta memberikan bantuan dana dalam penyelenggaraan pendidikan iman, khususnya bagi generasi muda gereja, termasuk anak-anak sekolah. Bagi sekolah-sekolah yang membutuhkan bantuan dana, bisa mengajukan proposal kepada Dirjen Bimas Katolik Depag Jakarta, diketahui Kepala Sekolah dan Bimas Katolik Kanwil Depag propinsi Kaltim yang terletak di Samarinda.
  • Kemudian untuk kelompok kategorial (mudika, komka, dsb) juga bisa dengan cara membuat proposal yang sama, namun diketahui oleh Pastur Paroki dan Bimas Katolik Kanwil Depag propinsi Kaltim.

Vina: Ibu Anna, sebenarnya hasil pembelajaran yang diharapkan itu seperti apa?
Ibu Anna: Dari jenjang SLTA, memahami diri dan lingkungan baik masyarakat umum maupun gereja (sebagai komunitas hidup beriman) dan menjelaskan pribadi Yesus kemudian meneladanNya dalam kehidupan sehari-hari di manapun peserta didik berada.

Vina: Kalau dari Departemen Agama sendiri, hasil macam apa yang diharapkan, Pak Subiyanto?
Bpk. Subiyanto: Bahwa secara tegas dapat dikatakan bahwa pendidikan Agama Katolik di sekolah merupakan salah satu usaha untuk memampukan siswa berinteraksi (komunikasi). Jadi interaksi tersebut mengandung unsur pengetahuan iman, pergumulan iman dan unsur penghayatan iman. Dengan kemampuan berinteraksi pemahaman iman, pergumulan iman dan penghayatan iman itu, diharapkan iman siswa semakin diperteguh. Jadi fungsi Pendidikan Agama Katolik pada dasarnya bertujuan memampukan untuk membangun hidup yang semakin beriman. Yang memiliki keprihatinan tunggal  yakni Kerajaan Allah. Kerajaan Allah merupakan situasi dan peristiwa penyelamatan Allah kepada manusia. Situasi dan perjuangan untuk perdamaian dan keadilan, kebahagiaan dan kesejahteraan, persaudaraan dan kesetiaan, kelestarian lingkungan hidup, yang dirindukan oleh setiap orang dari pelbagai agama dan kepercayaan.

Vina: Dapat kita simpulkan bahwa pada dasarnya pendidikan agama – baik di sekolah swasta maupun di sekolah negeri – bertujuan untuk membentuk pribadi yang meneladan Yesus Kristus. Kami mengutip dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Timotius bab 4:13 Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.

About these ads

Aksi

Information

10 responses

3 08 2006
AT Seputro

Adanya Program Pendidikan Agama Katolik bagi siswa yang bersekolah di sekolah negeri merupakan satu tindakan nyata dari pihak Gereja untuk mengatasi permasalahan mengenai pendidikan ini. Saya lihat di Gereja St. Theresia sudah memulai pendaftaran Pendidikan Agama Katolik dan jika saya tidak salah, pendidikan itu akan dimulai dalam minggu pertama Agustus 2006 ini.

23 12 2006
Yoanna Greissia

Tidak hanya agama Katolik saya rasa, pengajar Agama Kristen pun masih sangat kurang untuk Sekolah Negeri. Saya mengadakan beberapa acara untuk pelajar Kristen dan Katolik di sekolah dasar negeri. Sebelumnya saya melakukan kunjungan ke beberapa sekolah dasar negeri untuk mengundang anak-anak.
Salah satu pengajar agama Islam yang menurut saya sangat bertanggungjawab, dan karenanya saya sangat berterimakasih, menanyakan bagaimana tanggungjawab gereja dan pengajar agama Kristen dan Katolik menangani masalah kurangnya pengajar agama Kristen dan Katolik di sekolah-sekolah Negeri.

Mari, para pembina agama Kristen dan Katolik. Jangan jadikan UU no 20 sebagai hambatan, tapi jadikan sebagai kesempatan kita menggembalakan setiap anak-anak yang tidak tergembalakan.

Jika anak-anak ini generasi terakhir, dan Tuhan memberikannya menjadi tanggungjawab kita, apa yang akan kita lakukan. Bagaimana kita mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan?

12 10 2007
orlando

hallo sudah mau 1 tahun nih, gimana ya kira2 perkembangannya sekarang ? ibu Anna ? pak Subyanto ?

8 11 2007
ryan

pendidikan agama katolik perlu untuk menjadi bekal siswa katolik di sekolah.
sudah menjadi sebuah tanggung jawab moral bagi para pelaku pendidikan untuk menagajarkan dan menanamkan nilai nilai religi dan moral kepada generasi muda. oleh karena itu merupakan sebuah usaha yang patut disyukuri pendidikan agama katolik kini ada atau diajarkan (juga) di sekolah negeri.

17 11 2007
Petrus Harsa

Bisa meminta buku penunjang filsafat dan teologi untuk perpustakaan Karmel Jl. Rajabasa 4, Malang

28 01 2008
widodo

pengalaman yang menarik….. saya juga guru agama SMP negeri ri Yogyakarta. murid saya satu sekolah 7, kita senasib. Maju terus….

13 06 2008
Tinus Sukarno

Aku bangga sebagai guru agama di sekolah SMP swasta non katolik, yaitu di salah satu sekolah swasta nasional di kota lumpia. Murid-muridku mayoritas cuek dengan kehidupan rohani, karena kebutuhan jasmaninya sudah dipenuhi lebih dari cukup. Karena itu kalau diajak kegiatan seperti retret atau rekoleksi umumnya mereka tidak merasakan apa-apa. Untuk menyentuh hati dan kehidupan rohaninya kugunakan metode LIVE IN selama 4 hari di pedesaan dan buahnya sungguh di luar dugaan, para murid benar-benar tersentuh dan tidak lagi ‘negative thingking’ terhadap yang namanya orang desa. Kegiatan ini ternyata memberi penghiburan rohani bagiku untuk tidak menyerah pada sikap masa bodoh para murid terhadap pembelajaran agama di sekolah.

2 10 2008
Qinimain Zain

(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)

Strategi Pendidikan Milenium III
(Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)
Oleh: Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle).

DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.

Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah?

KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan inovasi merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).

Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.

Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun – seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?

Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau menonjolkan studi pustaka di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras, kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.

WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger).

Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu, Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian.

Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata. Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi, Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.

ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).

Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.

Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka.

SUMBER daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).

Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya.

BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)

BAGAIMANA strategi Anda?

*) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

10 12 2008
Agustinus

Kami juga pengajar pelajaran agama Katolik untuk siswa non Sekolah Katolik di Karawang Jawa Barat.

Pelajaran dilaksanakan hari Minggu pagi di Gereja Kristus Raja Karawang. Kami tidak/belum punya ruangan khusus/ruang kelas untuk belajar agama Katolik, belajar dilaksanakan di mana saja dilingkungan gereja; di ula ada beberapa kelompok, di pastoran, di halaman ada beberapa kelompok, dan lain-lain.
Latar belakang pendidikan kami para pengajar kebanyakan adalah guru mata pelajaran umum bukan agama. Sementara tenaga pengajar dari guru agama Katolik terbatas sekali. dan kami ingin anak-anak Katolik di sekolah negeri dan sekolah swasta non katolik tidak terlantar dalam hal pelajaran Agama katolik. Dan akhirnya kami memberanikan diri mengajar.

Dalam keadaan yang sangat terbatas tersebut kami ingin tertib administrasi mengajar, tapi sumber bahan untuk menyusunnya kami tidak punya. pegangan kami hanya satu buku paket “perutusan Murid-Murid Yesus” terbitan Kanisius Yogyakarta. tidak lebih.
Adakah kelengkapan Silabus, RPP , Protah, Prosem yang dapat kami download dari internet yang bisa kami gunakan untuk sumber penyusunan administrasi mengajar ?
Kalau ada yang bermurah hati bisa dikirim kepada kami, semoga kita bisa semakin melengkapi administrasi mengajar kami.

Salam dalam Kasih Kristus.

Salam untuk teman-teman pengajar agama katolik di tempat lain.

27 01 2009
Ferdinand

Saya sangat senang dengan diskusi tentang “Pendidikan Agama di Sekolah Negeri” ini. Unsur keprihatinan terhadap pendidikan agama dari Pihak Umat sangat menonjol dalam diskusi tersebut. Memang membangun iman dan moral anak butuh kerja sama yang baik dari semua umat (orang tua) dan guru agama. Hal ini akan sangat menunjang bagi perkembangan iman, moralitas dan kepribadian yang baik seorang anak.
Menyangkut kekurangan tenaga guru agama katolik, memang satu-satunya cara yang bisa ditempuh oleh kita adalah menggabungkan siswa dari beberapa sekolah (kecuali tingkat SD sistem penggabungan yang sedikit berbeda, yang mungkin bisa dibagi dalam 3 kelompok: yakni kelas 1& 2, satu kelompok, 3 & 4 satu kelompok, 5 & 6 satu kelompok) dan memberikan pelajaran dengan sistem “materi bergilir” seperti yang dijelaskan oleh Bpk. Subiyanto, A, B, C. Dan berkaitan dengan waktu untuk tatap muka pelajaran agama, memang harus diakui sangat tidak efektif karena diadakan setelah anak pulang sekolah. Kemampuan anak untuk menerima materi pada jam-jam tersebut sudah menurun dan pasti akan sangat sedikit materi yang dipahami. Untuk mengatasi masalah ini, orang tua dituntut untuk turut berperan dalam hal memberikan pemahaman-pemahaman tentang Agama Katolik kepada anak mengingat 75% waktu anak adalah bersama orang tua. Apa bila hal ini tidak dilakukan, maka sampai kapanpun keprihatinan ini tidak akan teratasi.
Siapa yang mau disalahkan?
Mari kita pikir bersama!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: