Mengenal Legio Maria

22 11 2006

Presidium Legio MariaPada 7 Desember 1921 di Dublin, Irlandia, 15 orang awam Katolik berkumpul untuk membicarakan bagaimana melaksanakan pelayanan sebagai kaum awam yang merasul. Setelah memohon bantuan Roh Kudus dan mendoakan rosario, mereka memutuskan untuk pergi dalam kelompok-kelompok kecil, bisa hanya berdua, mengunjungi Rumah Sakit di Dublin yang penuh dengan pasien-pasien miskin, tanpa kerabat dan orang jompo. Mereka kemudian juga memutuskan untuk kembali bertemu setiap minggunya. Peristiwa inilah yang mendasari lahirnya Legio Maria: berdoa bersama-sama, melaksanakan pekerjaan merasul dan pertemuan mingguan. Dari awal yang sederhana, dibimbing oleh Roh Kudus dan semangat Bunda Maria dalam karya pelayanan, bentuk kerasulan Legio Maria ini menyebar ke seluruh dunia. Baca entri selengkapnya »





Hari Minggu Misi Sedunia ke-80

22 11 2006

Narasumber: Pastor Pieter Sinnema MSF. Host: Ivan dan Silka 

Rekan setia, Minggu tanggal 22 Oktober 2006 dirayakan seluruh Gereja Katolik di manapun juga sebagai Hari Minggu Misi Sedunia, yang tahun ini dirayakan sebagai Minggu Misi Sedunia yang ke 80. Pasti rekan setia juga mungkin melihat ada poster di gereja parokinya, poster dari Karya Kepausan Indonesia mengenai Minggu Misi Sedunia ke 80, juga tentang Konggres Misi Asia I di Chiang Mai-Thailand. Tahun ini juga, Misionaris Keluarga Kudus MSF, khususnya MSF provinsi Kalimantan merayakan 80 tahun karya MSF di Kalimantan. Berarti sudah sejak tahun 1926 MSF hadir dan berkarya di Kalimantan. Baca entri selengkapnya »





Liputan Kegiatan Bedah Buku, 15 Oktober 2006 di Aula Gereja Sta. Theresia, Prapatan

7 11 2006

Oleh: Lucas Nasution

Bedah BukuHidup yang tidak dipertanyakan –kata Sokrates- tidak layak untuk dijalani.
Sesungguhnya “bertanya” adalah keunikan manusia yang kiranya kerap terlewatkan begitu saja. Terlebih menghadapi kebiasaan, tradisi, otoritas, dsb. Juga dalam hal agama kerap kita tidak mempertanyakan praktek keagamaan kita. Kita lebih sering ikut arus saja tapi mau kritis.

Dalam semangat kritis ini GEMAWARTA yang baru orok dalam ukuran hidup manusia hendak memperingati hari jadi pertamanya. Bedah buku yang kiranya baru pertama kali digelar di Balikpapan dipanggungkan tidak tanggung-tangung dengan judul mentereng: Agama, Religiositas dan Spritualitas. Judul yang (bahkan untuk mengucapkannya saja
sudah kagok) sengaja dipilihkan crew GEMAWARTA untuk mengajak umat sekalian untuk menelisik sebentar mempertanyakan bagaimana penghayatan keimanan masing-masing. Sejalan dengan misi GEMAWARTA itu sendiri.
 
Tampil sebagai pebedah tidak kurang dari penulis buku itu sendiri. Seorang Jesuit yang lebih suka dipanggil “Pak”. Pak Mangun terbang dari Surabaya khusus untuk menemani bincang-bincang di aula Prapatan tanggal 15 Oktober yang lalu. Hadir sekitar 50 undangan yang dengan antusias mengikuti acara diskusi dengan aktif.  Acara yang berlangsung hampir 4 jam seolah tidak  menyurutkan semangat mereka. Hingga penghujung acara pertanyaan-pertanyaan kritis terus mengalir.

Dari wajah-wajah para hadirin tergambar kepuasan sekaligus kehausan akan acara sejenis.
Publik Balikpapan sesungguhnyalah merindukan acara-acara yang menantang intelektualitas. Dan kiranya ini dapat menjadi lahan garapan organisasi-organisasi kategorial sepeti GEMAWARTA.

(ln)