Pengalaman Batin Berziarah ke Kota Suci

13 03 2007

Narasumber: Pst. Stanislaus Maratmo, MSF, Bu Yohanna Sattu, Bpk. M. Budi Kuntjoro.
Host: C. Silka  

Silka: Apa yang dimaksud dengan jiarah?

Pst. Maratmo: Jiarah berarti perjalanan ke suatu tempat. Perjalanan yang bersifat rohani dalam kaitan dengan penghayatan iman untuk memperoleh rahmat ilahi dengan mendatangi, mengunjungi tempat-tempat yang dianggap suci oleh karena penampakan ilahi atau hadirnya hamba Allah guna menjumpai Tuhan di tempat itu. 

Silka: Bagaimana awalnya manusia menyelenggarakan jiarah itu? 

Pst. Maratmo: Awal manusia menyelenggarakan jiarah dapat dilihat dari dua segi, yang pertama dari segi keagamaan,terkait erat dengan tata cara ibadat, dan menjadi suatu kewajiban bagi semua umat untuk mengikutinya, misalnya bagaimana dalam Kitab Suci dapat kita baca, bangsa Israel, pada tiap perayaan hari besar keagamaan mereka seperti, Hari Raya Paskah, Hari Raya Pentekosta, dan Hari Raya Pondok Daun,mereka bersama-sama pergi jiarah ke Bait Suci Jerusalem. Yang kedua dari segi metaforis, gambaran, perumpamaan, bahwa hidup manusia itu merupakan suatu pejiarahan. Hidup itu ibarat sebuah perjalanan panjang dengan suka duka, sedih bahagia silih berganti. Dan suatu saat manusia akan sampai pada tempat yang dituju setelah perjuangan panjang di dunia ini. Kita semua akan mengakhirinya di suatu tempat, yaitu di alam baka. 

Silka:  Bagaimana kita bisa tahu bahwa tempat itu adalah tempat jiarah atau bukan?

Pst. Maratmo: pada umumnya muncul dengan sendirinya dari umat sendiri. Kecintaan umat untuk setia berdoa kepada Tuhan di tempat itu, apalagi kalau dikaitkan dengan hari-hari tertentu seperti Kamis pon, Jumat kliwon dst, lalu muncul gagasan dari pihak pastor parokinya untuk membangun sebuah gua Maria; membawa umatnya untuk berdoa di tempat itu secara rutin, lalu dipromosikan kemana-mana, dan diminati banyak orang (asal bukan hanya sebagai obyek wisata yang bersifat rohani lo!), lalu jadilah tempat itu sebagai tempat jiarah. Kalau berbicara mengenai tempat jiarah seperti tempat penampakan Maria, di La Salette, Lourdes dan Fatima, memang diperlukan suatu penyelidikan lama untuk membuktikannya secara teliti. Dalam hal ini pihak wewenang Gereja seperti Uskup dan para imam dan dari Vatikan, akan mengambil keputusan apakah memang benar tempat itu menjadi tempat penampakan. Karena pejiarahan seperti itu umumnya muncul karena devosi rakyat, devosi umat yang sangat luar biasa mendalamnya dan sangat diperhatikan sehingga tempat itu secara tidak langsung populer sebagai tempat jiarah, kendati pihak wewenang Gereja belum mengesahkan, misalnya Mejugorje, bisa jadi tempat jiarah juga. Ada atau tidaknya sebuah mukjijat di tempat itu, bukan syarat mutlak untuk mengatakan bahwa tempat itu bisa dijadikan tempat jiarah. Yang paling penting adalah bahwa dari tempat yang keramat itu, umat beroleh pembaharuan hidup, pertobatan dan semangat hidup menggereja,dan bermisi ini yang penting kalau orang berjiarah. Bukan hanya soal ikut-ikutan, tetapi jiarah itu dimaknai sebagai suatu peristiwa hidup seseorang yang bertujuan memberikan pembaharuan hidup,pertobatan dalam kaitannya dengan iman. Kalau tidak ada artinya, itu mah wisata saja. 

Silka:  Ada tidak di dunia ini, tempat perziarahan yang bukan Goa Maria? Apa saja?

Pst. Maratmo: Ya tidak harus ke gua Maria, kalau dari artinya sendiri jiarah adalah perjalanan rohani untuk bertemu dengan Tuhan, bisa jadi bahwa tempat keramat itu adalah sebuah makam orang suci, misalnya Makam Romo Sanjoyo di Muntilan. Bahwa kemudian orang Katolik mengadakan jiarah ke gua Maria, karena memang ini merupakan devosi yang sangat populer, umat Katolik memberikan tempat istimewa dan hormat kepada Maria. Terlepas dari apakah tempat itu pernah terjadi penampakan atau apa, yang jelas seperti tempat jiarah di Sendangsono karena peristiwa bersejarah bahwa disitu memang menjadi tempat pembaptisan orang-orang Katolik di sekitar kampung itu oleh Romo van Lith SJ. 

Silka: Tempat pejiarahan yanq bukan Goa Maria?

Pst. Maratmo: kita tahu Tanah Suci dimana Kristus tampil di hadapan orang banyak untuk mewartakan Kerajaan Allah dan wilayah-wilayah atau kota dimana Jesus membuat mukjijat-mukjijat. Bisa juga bahwa kita berjiarah ke makam Bunda Maria di Efesus, kota-kota dimana Santo Paulus mewartakan Injil di negara Yunani dst. 

Silka: Di Indonesia sendiri, sebetulnya ada berapa banyak Goa Maria atau tempat perziarahan yang resmi diakui Gereja Katolik? 

Pst. Maratmo: Saya kira cukup banyak. Nampaknya hampir semua keuskupan di Indonesia memiliki tempat jiarah Goa Maria. Yang populer saat ini Sendangsono di Promasan, Kerep Ambarawa, Sriningsih di Wedi Klaten. Kalau Luar negeri: La Salette, Lourdes, Fatima. 

Silka: Kisah selama berjiarah ke Tanah Suci Jerusalem dan sekitarnya?

Pst. Maratmo: ya bagi saya memang tempat suci yang lama sekali saya inginkan bisa dikunjungi. Tetapi memang tergantung dari dana. Sebab kita kan harus mempunyai dana cukup untuk pergi jiarah ke tempat suci seperti itu. Kebetulan saja, bahwa pada tahun 2002 umat saya di Santo Lukas Temindung waktu itu, menginginkan saya  mendampingi mereka, sebagai pembimbing rohani kebetulan peserta jiarah mencapai target sebagaimana diharapkan oleh biro perjalanan jiarah rohani itu, dan berangkatlah saya. Saya memang terkesan ketika tiba pertama kali di Israel. Oh ini, tempat dimana Kristus hidup di tengah-tengah kita. Yang lebih penting, dengan napak tilas tempat-tempat dimana Kristus berkarya, memberikan gambaran yang lebih jelas ketika membaca Kitab Suci, danau Genesaret seperti apa, Laut Mati seperti apa, Sungai Yordan seperti apa dst. 

Silka: Penqalaman yanq paling menyentuh dari semua perjalanan jiarah ?

Pst. Maratmo: yang saya alami ketika saya lulus setelah selesai pendadaran. Saya minta ijin pada Romo Rektor di Skolastikat untuk pergi jiarah berdua ke Sendangsono bersepeda dari Jogja untuk bersyukur atas kelulusan saya itu. Berangkat sekitar jam 7 malam dan sampai di Sendangsono jam 12 malam. Selesai berdoa, langsung pulang dan sekitar jam 6 pagi sudah sampai di rumah pendidikan lagi. Ada rasa sukacita yang meluap begitu saja, sehingga cara mengungkapkannya ya pergi jiarah ke Gua Maria Sendangsono saja. 

Silka: Pastor Maratmo, biasanya biaya perjalanan ditanggung siapa, Pastor?   

Pst. Maratmo: Kalau dalam negeri, ya dulu ketika masih pendidikan pakai uang saku sendiri, khan nggak seberapa besar beayanya. Kalau ke luar negeri, ya itu tadi, di depan saya ikut menjadi pembimbing rohani umat paroki Santo Lukas Temindung, sehingga digratiskan satu orang. 

Silka:  Pertanyaan terakhir, apa sih untungnya kita berziarah?  

Pst. Maratmo: Berjiarah memang bukan suatu kewajiban bagi umat Katolik, istimewanya ke luar negeri yang memakan beaya banyak. Dan memang tidak ada peraturannya dalam Gereja Katolik, setiap umat harus berjiarah ke suatu tempat tertentu, hanya dianjurkan. Sekarang ini kan yang paling penting, bagaimana umat mencintai dulu tempat jiarah yang terdekat, seperti misalnya di Putak, di Melapeh dan Paroki Sepinggan sendiri punya tempat untuk berjiarah, yaitu di Stasi Argosari. Untuk berjiarah, memang diperlukan suatu semangat prihatin, berani berlelah-lelah, mati raga. Jaman dulu berjiarah kan hanya berjalan kaki saja.


Aksi

Information

2 tanggapan

22 04 2008
mahawupilgrim

Pastur, boleh nggak kalau ziarah dikolaborasi dengan wisata religius? Di jalan salib suci mahawu, bagi yang sudah berkunjung, pasti akan menemukan kolaborasi semacam itu. Bukan disengaja tetapi memang alam menawarkan keindahan eksotik sehingga siapapun yang datang ke jssm pasti akan otomatis merasakan aura wisatanya….. boleh di klik di http://www.mahawupilgrim.com. begitu faktanya dan ada di sekitar kita…..

30 10 2010
P.Stanislaus Maratmo MSF

Nggak usah dikolaborasi, kenyataannya sekarang ini, tempat jiarah sudah “terkontaminasi” dengan tempat wisata. Lalu, hilang makna tempat jiarah dimana kita memerlukan tempat yang tenang, hening untuk bisa berdoa kepada Sang Pencipta. Keindahan alam di tempat jiarah seharusnya menjadi sarana untuk bisa berdoa dengan khidmat, bukan diganggu hiruk pikuk orang bertamasya. Begitu ! Berkat Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: