Campur Tangan Bunda Maria dalam Kehidupan Sehari-hari

24 05 2007

Narasumber: Sr. Susana J.J., MASF, Ria Yosefine & C. Silka.
Host: Yenni Eka Sari & Lily Gandakusuma

Mengapa bulan Mei menjadi Bulan Maria? Bagaimana dengan bulan Oktober? Berdasar pada tradisi Gereja, dua bulan tersebut memang dikhususkan untuk menghormati Maria. Tapi, bulan Mei lebih disebut sebagai bulan Maria, sedangkan bulan Oktober sebagai bulan Rosario. Sebetulnya, tradisi yang memandang bulan Mei sebagai bulan Maria sudah ada sejak abad pertengahan. penghormatan terhadap Maria juga merupakan hasil perkembangan dalam Gereja, sejak abad XVII hingga abad XIX. Pada tanggal 1 Mei 1965, Paus Paulus VI dengan ensiklik Mense Maio menegaskan kembali tradisi kesalehan ini dengan menyatakan bahwa penghormatan kepada Bunda Maria pada bulan Mei merupakan “kebiasaan yang amat bernilai“. Adapun, kebiasaan bulan Oktober sebagai bulan rosario dinyatakan pertama kalinya oleh Paus Leo XIII pada akhir abad XIX yang menganjurkan umat beriman untuk berdoa rosario setiap hari pada bulan Oktober. 

Lily : Baik, Sr. Susan, nas dari Kitab Suci apa yang akan kita bacakan malam hari ini?  

Sr. Susan, MASF: Bacaan kita ambil dari Yoh 2 : 1 – 11

2:1 Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ;
2:2 Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu.
2:3 Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.”
2:4 Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.”
2:5 Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”
2:6 Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung.
2:7 Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan merekapun mengisinya sampai penuh.
2:8 Lalu kata Yesus kepada mereka: “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu merekapun membawanya.
2:9 Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu–dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya–ia memanggil mempelai laki-laki,
2:10 dan berkata kepadanya: “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.”
2:11 Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.

Lily: Suster, dari bacaan yang barusan kita dengar bersama ini, apa maksud atau makna yang mau disampaikan oleh Pengarang Injil Yohanes ini?

Sr. Susan, MASF:

1. Saat ku belum tiba

Yesus itu punya saat, yang ditentukan oleh Bapa, saat-saat berahmat bagi dunia dan bagi manusia. Maria mau mendatangkan saat itu, bukan bagi dirinya sendiri, tetapi bagi orang lain, sepasang pengantin, yang kehabisan anggur! Bukan Rahmat rohani, tetapi sesuatu yang tak dapat ditunda lagi. Maria berani mengajukan permohonan itu, karena dari hidup tiga puluh tahun bersama di Nazareth, ibu sudah tahu kepekaan hati Putera-Nya.Yesus, Tuhan, Bapa di Surga itu tahu kebutuhan kita, mencakup jiwa raga, yang rohani maupun yang jasmani juga. Sebab dari mana kita mendapat hidup, sandang pangan, kesehatan dan segala yang baik, jika tidak dari Allah, penyelenggara segalanya? Maria disini membimbing kita untuk percaya, sampai dalam hidup sehari-hari, masuk dalam urusan dan kebutuhan rumah tangga.

2. Yesus meletakkan garis bagi pengabulan permohonan

Bukan hanya permohonan rohani, bukan pada saat-saat resmi, yang diperuntukan bagi doa-doa suci. Doa bisa disampaikan di tengah pesta, dalam kesibukan urusan rumah tangga, bahkan spontan saja, sederhana dan menurut dorongan hati, penuh percaya.Yesus dalam jawaban ”Mau apakah engkau daripada-Ku, ibu?”, menunjukan jarak. Dalam penyelenggaraan dunia dan pengaturan hidup manusia, juga bagi diriNya, Ia mengindahkan saat-saat yang ditentukan oleh Bapa. Kalau ia menjawab ”Saat-Ku belum tiba”, Ia sekaligus juga menunjukan, bahwa pada suatu saat itu akan tiba. Dan ini yang ditangkap oleh Maria, dan menjadi pegangannya. Maka ia lalu terus menyuruh para pelayan, menyiapkan segala dan menyesuaikan diri dengan yang dikatakan oleh Yesus untuk penyelenggaraan ”Saat-Nya”. Bagi kita ini bisa cepat, bisa lambat, yang penting ialah bahwa kita tetap percaya, dan membuktikan percaya itu dengan sikap sedia, melakukan kehendak-Nya, pada waktu, dengan cara, bagaimanapun juga, sesuai dengan sabda dan saat, seperti ditentukan oleh Penyelenggaraan Bapa.

Yenni:

Tadi kita sudah dengarkan kisah hidup suster dan kedekatan Suster Susan dengan Bunda Maria, bagaimana dengan mbak Oline, apa punya kisah serupa atau berbeda, mbak?

Oline: Semenjak kecil, bapak ibu saya sudah membiasakan tradisi novena 3x salam Maria, setiap saat keluarga akan keluarga kota, atau mendoakan bapak saya yang akan tugas keluar Jawa. Tradisi ini memang akhirnya terbawa sampai aku besar dan mulai mandiri – hidup sendiri di kota Bandung untuk menjalani kuliah.  Cerita ini adalah sewaktu saya masih duduk di bangku kuliah semester akhir, dan saat itu juga saya mencalonkan diri menjadi Ketua Senat Fakultas, dan singkatnya, aku terpilih menjadi Ketua Senat Fakultas, yang pastinya beban menjadi lebih banyak, karena disamping mengejar target 4 tahun lulus kuliah, juga harus berkegiatan extra sebagai anggota senat kampus.
Pada awalnya aku merasa yakin dengan diriku sendiri bahwa aku ngak mungkin telat lulusnya. Wong aku ini tergolong anak pinter, dari SD, SMP, SMA selalu rangking 10 besar ! Masa cuma kuliah aja aku ngak mampu?! Lagipula, aku sudah menjanjikan pada ortu kalopun aku nanti telat lulus, aku harus usaha sendiri untuk menyelesaikan kuliahku, tanpa bantuan biaya ortu lagi. Awal kependudukanku sebagai ketua senat penuh dengan “benefit”, maksudnya banyak kemudahan yang diberikan pihak rektorat maupun fakultas bagiku. Mulai dari dispensasi ngak masuk kuliah karena sedang ada kegiatan kampus, lalu diberikan akses gratis internet 24 jam di kampus, dan prioritas-prioritas lainnya. Ternyata hal-hal ini yang membuat aku terlena dan lupa akan janjiku dulu pada ortu.
Apalagi setelah kenal sama yang namanya internet, lalu mulai belajar email-emailan, trus naik peringkat, mulai belajar chatting, trus mulai begadang semalam suntuk di kampus cuma bela-belain online ama “pacar virtual” kita. Ngak pernah pulang ke kost lagi. Otomatis, hidupku waktu itu 70% untuk kegiatan kemahasiswaan (plus ekses-eksesnya spt chatting itu), 20% untuk belajar + kuliah, terakhir cuma 10% untuk Tuhan, tiap hari minggu rajin ke Gereja doang. Malam minggupun ku habiskan di warnet kampusku. Tiada hari tanpa dirinya…… Sampai pada batas masuk semester akhir, Puji Tuhan, Penelitian dapat aku selesaikan dengan sebaik-baiknya meskipun ngak dapetin “A”, tapi aku puas juga. Abis Penelitian masih ada satu step yang harus ditempuh untuk syarat kelulusan yaitu Ujian Akhir dimana seluruh bahan/materi kuliah dari sem 1 – 8 akan diujikan pada satu hari saja!! Ujian akhir ini merupakan momok bagi sebagian besar mahasiswa, karena bagaimana mungkin seluruh bahan 8 semester diujikan hanya pada satu hari saja. Jadi, udah ngak heran kalo ada juga mahasiswa yang fail di ujian ini.
Waktu itu, seinget aku, masih ada sisa 3 hari untuk Ujian Akhir setelah pengumuman hasil Penelitian, tapi kenapa ya hati ini belum tergerak untuk mulai belajar lagi, rasanya males, dan teringat aku telah meninggalkan internet untuk sekian lama demi Penelitian, maka dengan alasan mau “refeshing” aku mulai lagi main internet. ….Ternyata umur 3 hari itu sangat pendek, sampai-sampai pada hari Ujian Akhir, aku sama sekali tidak sempat konsentrasi untuk belajar apa-apa. 3 hari itu hanya aku pake untuk Novena 3x Salam Maria, yang biasanya ampuh untuk menghadapi masalah-masalah besar dalam hidupku ini. Jadi, dengan berbekal Novena, aku berani maju berperang melawan Ujian Akhir tsb.
Singkat kata, besok sudah mau Yudisium! Dag dig dug ngak karuan perasaan ku menghadapi Yudisium ini. Antara yakin dan ngak yakin dengan hasil ujian kemarin. Pokoknya aku coba pasrah saja. Ternyata hari itu juga telah dijatuhkan Gadam besar di atas kepalaku yang terlalu sombong ini. Tuhan menghajar aku dengan telak! Aku tidak lulus Ujian Akhir, yang artinya semua usahaku termasuk Penelitianku itu dianggap gagal total!! Limbung rasanya badan ini, malu rasanya memandang kanan kiri ke arah teman-temanku yang dengan senyum cerahnya sudah membayangkan Hari Wisuda mereka. Mati rasa sudah seluruh sendi, rasanya mau bunuh diri, rasanya mau tenggelam, masuk ke dalam bumi yang paling dasar! Aku tidak berani bertemu dengan seorang pun. Seluruh pelosok kampus itu tahu kalo pada hari itu aku ada Yudisium, seluruh pelosok kampus itu tahu siapa Silka ini di kampus, tidak mungkin tidak kenal. Semua orang tahu! Lalu bagaimana aku harus memberi kabar terburuk dalam hidupku ini kepada seluruh pelosok kampus?? Apakah tali urat rasa maluku sudah putus dan tak tersambung lagi?? Allah ku Ya Allah ku, mengapa Engkau tinggalkan aku??
Kenapa aku bilang ini peristiwa terburuk, karena aku yang dulunya “pinter”, kok ternyata skrg ini paling “bodo” ya! Ini benar2 aib dalam catatan sejarah edukasiku! Dari situ aku mencoba memahami apa yang terjadi, lalu mulai berdoa “Tuhan, ampunilah aku, aku pantas engkau hukum karena aku tidak pernah mengindahkan diriMu, juga tidak mendengarkan nasihat ortu. Terlebih aku lebih banyak bermain internet yang menjadi racun dalam hidupku, dan racun itu benar2 membunuhku sekarang. Aku benar2 mendapatkan hasil buah dari seluruh perbuatanku selama setahun terakhir ini. Tuhan, aku bersalah, aku memang pantas mendapatkannya, namun aku mohon bimbinganMu agar aku dapat menebus segala dosaku ini dengan seluruh usahaku, sampai pada akhirnya aku boleh lulus dengan baik semester depan. Tuhan, mulai hari ini juga demi menebus dosa-dosaku, aku berkaul untuk menjadi vegetarian sampai dengan aku sukses lulus dan memperoleh apa yang dicita-citakan. Tolonglah aku Tuhan. Amin.”Namun, ada pelajaran lain yang aku dapatkan bahwa Novena tidak akan selalu berhasil apabila tanpa usaha yang sungguh2. Dan demi penebusan dosa, aku menjadi vegetarian. Ini satu turning point besar dalam hidupku. Dan masih banyak tantangan yang harus aku hadapi, karena aku harus mulai cari kerja dan cari duit sendiri demi kelangsungan kuliah terakhirku yang harus aku ulang selama 1 semester itu.

Yenni: Apa yang membuat mbak Oline percaya bahwa Bunda selalu menolong kita dalam kesulitan apapun?

Oline: Setelah kegagalan yang habis-habisan dan yang merupakan peristiwa terburuk dalam record edukasiku, mulailah aku membuka mata hati dan mulai menjalani “tobat”. Pertama yang harus aku cari adalah Cari Duit! Aku coba konsultasi ke Dosen Pembimbingku dan Puji Tuhan, ternyata aku bisa langsung dapet kerjaan di salah satu Proyeknya Dosenku ini. Kebetulan saat aku curhat itu, beliau mau membantu, dan aku diberikan kerjaan sbg clerk untuk menyelesaikan satu bukunya yang akan diterbitkan beliau dalam jangka waktu dekat. Ya, jadilah aku clerk alias tukang ketiknya pak Dosen selama 6 bulan. Dengan upah hanya 300rb sebulan. Untungnya, sisa 1 semester ini aku tidak perlu bayar uang kuliah lagi karena SKS ku sebetulnya sudah pool, tinggal tunggu Ujian Ulang saja. Jadilah 300rb itu andalan hidupku selama sebulan.
Ortu juga kayaknya ngak tega-tega amat anaknya hidup di rantau orang hanya berbekal 300rb. Jadi, mereka masih ngirim 100-200rban sebulan, tapi aku sudah malu untuk “menagih” uang bulanan, spt dulu lagi.
Puji Tuhan lagi, selain aku menjadi clerk, aku juga ditawarin langsung oleh salah teman ku yang bekerja di Station Radio di Bandung. Honornya ngak seberapa, tapi aku jadi punya pengalaman tambahan kerja di Radio Station. Dan pengalaman nikmatnya mendapatkan gaji sendiri. Sebetulnya dari semester 3 pun aku sudah menjadi AsDos, Cuma rasanya kok beda ya waktu nerima honor sbg AsDos dan nerima honor sbg clerk. Honorku sbh clerk itu benar-benar lebih bernilai. Mungkin karena di situ aku benar2 berusaha dan berjuang untuk hidup ku.
Singkat kata, hidupku mulai tertata lagi, dan aku siap menghadapi Ujian Akhir tanpa ragu, dan aku tetap melakukan Novena Tiga Salam Maria. Kali ini harus dengan usaha dong, masa’ doa doang, inget kan “Iman tanpa Perbuatan adalah Sia-sia”, begitu pula sebaliknya “Perbuatan  tanpa Iman adalah Sia-sia”. Dan Puji Syukur, aku berhasil melaluinya dengan sangat baik. Saat Yudisium (kedua) itu, adalah hari terindah bagiku. Tuhan benar-benar menunjukkan KekuasaanNya & KebesaranNya. Dibalik seluruh kegagalanku, ternyata tersimpan Rencana Allah yang begitu Indah bagiku. Dan pada saatnya Tuhan akan menunjukkan bahwa RencanaNya sangatlah Indah. Tuhan memberikan kelegaan yang luar biasa pada ku. Aku berpikir flash back, ternyata “penderitaan” yang Tuhan berikan itu adalah salah satu caraNya untuk menyadarkan aku dari kedosaan yang telah aku lakukan, dan juga salah satu cara Tuhan menunjukkan KebesaranNya. Berarti dengan “penderitaan” tsb aku tidaklah mengalami suatu “kegagalan total”, namun mengalami “awal yang lebih baik”.

Lily:

Ok, skrg kita ke Mbak Ria. Mbak, apa ada kisah hidup menarik yang dapat dibagikan dengan rekan setia Gemaya malam ini, silakan mbak…

Mbak Ria:

Saya dilahirkan dari keluarga Mama Katolik dan Papah Non-Katolik, dan saya dibaptis secara Katolik semenjak saya lahir juga dengan adik-adik,  karena kebetulan orang tua saya adalah polisi, kata orang anak kolong…maka kami berpindah-pindah sekolah mengikuti orang tua yg sedang bertugas. Saya mengenal doa Salam Maria waktu saya bersekolah di Sekolah Katolik, dan saya sempat aktif mengikuti kegiatan Legio Maria, dll. Thn 1999 saya berangkat ke USA untuk mengambil kursus bhs inggris waktu itu, dan saya mulai dengan semua kesibukan di Negara Adi Kuasa tanpa saya memperhatikan kesehatan, jam berdoa, bahkan ke gereja. Karena gereja di sana jaraknya jauh-jauh, singkat kata saya melupakan TUHAN yg sudah memberikan saya kehidupan, dan berkat buat saya, sampai di awal th 2000 saya mengalami pendarahan dan sebelum saya ke USA, saya sudah mengalami Operasi 4 kali pengangkatan Ovarium kanan, kiri, usus buntu, sejak dari thn 1996 saya sudah bersahabat dengan meja operasi……. Saat, saya mengalami pendarahan pada waktu itu saya tinggal sendiri di appartement, kemudian saya decide untuk pulang ke Indonesia, karena saya takut operasi sendiri di sana, akhirnya saya kembali ke Indonesia, sampai di Jkt saya periksa ke dokter. Dan satu keputusan yg mengagetkan saya dokter bilang: RAHIM saya harus diangkat!  Karena kalau tidak, benih kanker yg ada di rahim akan menjalar kemana mana. Suatu keputusan yg tidak mudah karna pada waktu itu usia saya masih muda, dan sebagai wanita normal, menginginkan hidup berumah tangga dengan mempunyai keturunan. Saya diberi waktu 1 malam untuk mengambil keputusan. Sampai di rumah saya menangis sejadi jadinya dan mulai saya teringat akan DOA ROSARIO dan Novena Tiga Salam Maria….kemudian saya  ambil rosario, dan saya berdoa terus sampai tidak tau berapa putaran akhirnya saya ketiduran dengan menggenggam Rosario…sekitar tengah malam saya terbangun lagi dan saya deraskan Novena tiga salam Maria: saya bilang Bunda Maria tolong saya! Karna Engkau Bunda penolong buat orang2 yg membutuhkan pertolonganmu…saya mau pasrahkan semua hanya padaMu Bunda, terjadilah menurut kehendakMu! Setelah itu saya tenang tidur….ke esokan harinya saya kembali ke RS dan dengan tenang saya bilang pada Dr: Ok apapun yg terjadi saya siap di operasi pengangkatan rahim walau saya nantinya tdk akan sempurna sebagai wanita. Kemudian saya di operasi tapi mengalami kesulitan darah saya harus menerima transfusi darah pada waktu itu, padahal operasi harus dilakukan jam 8 pagi, sementara sampai jam 6 sore belum ada darah yg bisa di transfusikan, karna di PMI pada waktu itu tidak ada stock darah B yg sama dengan saya….maka saya dan mama saya berdoa Rosario lagi minta pertolongan Bunda Maria ….akhirnya saya mendapat telp dari  Frater OFM (Fransiskan) kebetulan Biaranya tdk jauh dari RS tempat saya di rawat, dan 6 frater bersedia menyumbangkan darahnya buat saya, Puji Tuhan ….papa saya bersama para Frater ke PMI dan keesokan harinya saya bisa di operasi pada waktunya karna sudah ada darah…..jadi dalam tubuh saya ini mengalir darah para frater yg sekarang sudah menjadi Romo…he he   Setelah opererasi berhasil saya kembali tak henti2 nya menderaskan doa Rosario mengucap Syukur atas kesembuhan dan keberhasilan operasi saya, walaupun saya kecewa tapi saya percaya Tuhan pasti punya rencana yg indah buat saya dan masa depan saya walau tanpa rahim. 3 hari kemudian saya di perbolehkan pulang …dan setelah di rumah tiba2 perut saya sakit lagi saya tdk bisa buang air, tdk bisa makan, sakit luar biasa…dan saya di larikan ke RS terdekat…sampai di RS saya di periksa dan dokter mengatakan ada yg tdk beres dengan usus saya karna pengaruh operasi yg sudah 5 kali, akhirnya saya di beri obat…di infus kembali dan apa yg terjadi, mungkin saya terlalu banyak obat di dalam tubuh saya, sehingga ada satu obat yg saya tidak kuat dan saya langsung kejang2 sampai biru semua …waktu itu juga saya diberi Sakramen perminyakan…..dan semua keluarga sudah berkumpul…….pada saat saya dalam keadaan sakral maut itulah mamah saya berdoa Rosario terus di telinga saya…saya sadar waktu itu walaupun tidak bisa berkata yg saya sebut hanya SALAM MARIA…SALAM MARIA…BUNDA MARIA TOLONG AKU….

Keajaiban terjadi tidak lama setelah itu saya tertidur pulas dan saya bangun keesokan harinya……..dan saya tdk merasakan sakit lagi…sampai akhirnya saya di perbolehkan pulang. Puji Tuhan.

Yenni: Mbak Ria, tadi setelah mendengar kisah mbak Ria di sesi sebelumnya, apa yang terjadi selanjutnya dan pemahaman apa yang dapat diambil oleh mbak Ria pada peristiwa tsb?

Mbak Ria: Setelah saya sehat dari operasi pengangkatan Rahim saya kembali lagi ke USA thn 2000 akhir dan saya kembali bekerja di sana…dan saya aktif melayani Chapter bahkan saya diangkat menjadi wakil seksi liturgy di Chapter dimana state saya berada…saya aktif di PD dan IC ADLA (Indonesian Community Arsideosis Los Angeles) koor, dsb….sampai di thn 2002 penyakit saya kembali kambuh saya ingat tgl 4 July 2002 bertepatan dengan Independence Day Amerika. Saat saya kerja…tiba 2 perut saya sakit sekali tidak bisa berjalan dan sakit luar biasa, pada waktu itu  hanpir semua teman2 saya camping karna summer dan mereka pergi ke luar kota …dengan siapa saya  harus minta tolong??? Dengan berbekal Rosario di tangan saya dan back pack saya ke RS dengan Bis…karna kalau naik taxi wow…mahanya bisa di bayangkan. Sampai di penerimaan Pasien saya bilang sama perawatnya saya sakit perut dan saya minta diperiksa…..setelah diperiksa, di rotgen, MRI…dlsb sampai sore hari sekitar jam 4 sore waktu setempat, dr memutuskan jam 6 pm saya harus segera di operasi 2 jam kamu  late you will be died mom! Bisa di bayangkan pada waktu itu saya sendiri di  hospital Kaiserr Permanante….dan dengan 3 dokter ahli, mereka bilang saya kena ILLIUS penyakit Usus yg terlilit akibat terlalu banyak di operasi.bayangkan yg akan saya jalani adalah operasi ke 6…Saya nawar lagi ama dr: saya tidak punya uang cukup utk bayar hospital, jadi tolong kasih saja saya obat dan saya akan kembali ke Indonesia….mereka tdk kasih, karna nyawa manusia diatas segala galanya, kemudian saya bilang sama Dr: boleh enggak saya izin 10 mts saja mau berdoa….akhirnya saya berdoa Rosario minta pertolongan bunda Maria ….dan setelah itu saya bilang sama dr saya siap! (walaupun pada waktu itu saya bingung bagaimana cara harus membayar bill hospital).Saya masuk ke Ruang operasi seorang diri saya sempat bilang sama suster perawat: saya hanya minta Rosario saya ada bersama saya selama operasi. Setelah saya sadar ……….sekitar 6 jam kemudian luar biasa teman2 dari Chapter di LA …..sudah berkumpul di ruang dimana saya di rawat……..mereka menderaskan doa Rosario.pada hari ke 6 saat semua slang di tubuh saya di lepas dr bilang masih ada kerusakan lagi di usus dan saya harus di buka lagi di tempat dimana saya  dioprasi…….aduh Tuhan saya takut luar biasa bayangkan baru 6 hari operasi masih belum kering,harus kembali operasi lagi….membayangkan dari hidung di selang , infuse kiri , cateter…aduh …kemudian sambil menunggu keputusan dr saya berdoa ROSARIO tak henti2 nya dan besok paginya setelah saya di MRI kembali dan di USG ………..dokter bilang ; TIDAK USAH DI OPERASI kembali! Puji Tuhan!  Banyak dukungan dari teman2 se iman di sana, walaupun saya sendiri tetapi Tuhan dan Bunda Maria selalu ada bersama saya.Setelah saya pulang ke rumah…….1 bln kemudian saya dapat bill tagihan dari hospital sebesar $ 85.000…bayangkan berapa kalau di hitung rupiah dan bagaimana saya harus membayar??? Akhirnya saya kembali Novena Tiga Salam Maria…saya belum selesai berdoa satu hari ada tlp dari Government saya bisa meminta apply dari Government bebas pembayaran dengan catatan saya dapat rekomendasi dari Parish dan Priest…karna saya aktif di Parish maka Romo membuat surat bahwa saya aktif di Parish…kebetulan Parish yg berbahasa Inggris….dan dapat rekomend juga dari Chaplain Romo Linus Pr yg kebetulan melayani gereja Indonesia di LA. 2 mg kemudian saya dapat
surat dari Hospital: Bahwa semua biaya akan di bebankan kepada Government dan saya bebas dari biaya apapun! Puji Tuhan……..saya sampai menangis dan Bersyukur tak henti hentinya….untuk membalas semua kebaikan TUHAN dalam hidup saya akhirnya saya mengajar bible study buat anak2 indonesia di sana dan semakin aktif melayani Tuhan dan sampai sekarang saya tidak pernah berhenti berdoa Rosario setiap hari sebelum kerja, baik di dalam kendaraan, atau sambil jalan pagi………dan Novena Tiga Salam Maria tidak pernah berhenti semuanya menjadikan saya satu kebiasaan sebelum beraktivitas untuk berdoa Salam Maria.  Dari semua sharing yg saya ambil pemahaman yg dapat saya ambil adalah : Dalam kita mendoakan Rosario, kita jadi pasrah dalam penderitaan, kita mendapat kekuatan untuk menahan derita, untuk mampu menahan rasa sakit, ada banyak contoh bahwa dengan berdoa rosario kita semakin terbuka terhadap anugrah kesembuhan dari penyakit jasmani, dan sakit jiwa, sakit hati, dan mampu mengubah orang untuk bertobat, doa rosario juga membantu kita menyiapkan diri untuk tidur malam, terutama kalau mengalami kesulitan. Tuhan Memberkati

Yenni: Terima kasih banyak sharingnya mbak Ria, tidak menyangka begitu banyak kasih Tuhan melalui Bunda Maria untuk kita, sehingga Bunda selalu menyertai kita dan menguatkan kita pada kondisi apapun dan dimana pun kita berada.


Aksi

Information

One response

23 06 2007
Lucas Nasution

catatan saja tentang kata ensiklik
ensiklik adalah surat dari Paus
apakah surat ini ex cathedra ? (artinya resmi jadi bagian iman gereja Katolik)
meski Pius XII mengatakan bahwa eksiklik punya otoritas menghentikan debat teologis, tetap kiranya ensiklik tetpalah tidak ex cathedra.
Sehingga dalam prinsip : ensiklik baik didengar, tapi tidak wajib hukumnya
menurut santu Agustinus: In Dubiis libertas

acuan:

http://www.newadvent.org/cathen/05413a.htm

http://en.wikipedia.org/wiki/Encyclical

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: