Ketua: Kamilus Ude (Paroki St. Klemens I, Sepinggan)
Waka: Johanes Anton Witono (Paroki Sta. Theresia, Prapatan)
Bendahara: Bernadetta WH (DIAS) (Paroki St. Klemens I, Sepinggan)
Sekretaris: Sisca Anggarini (Paroki Sta. Theresia, Prapatan)
Ketua: Kamilus Ude (Paroki St. Klemens I, Sepinggan)
Waka: Johanes Anton Witono (Paroki Sta. Theresia, Prapatan)
Bendahara: Bernadetta WH (DIAS) (Paroki St. Klemens I, Sepinggan)
Sekretaris: Sisca Anggarini (Paroki Sta. Theresia, Prapatan)
GEMA WARTA dalam rangka menyambut usia 2 tahunnya, menyelenggarakan “Tour de Church ke kurang lebih 10 Gereja Katolik yang tersebar dari Balikpapan s/d Samarinda.
TOUR de CHURCH (TdC) adalah istilah yang digunakan oleh Panitia GEMA WARTA sebagai kata lain dari ZIARAH atau harafiahnya, Wisata ke Gereja-gereja. GEMA WARTA telah dengan sukses menyelenggarakan TOUR de CHURCH Pertama, pada tanggal 11-12 Agustus tahun lalu. Diikuti oleh 75 peserta yang merupakan umat Katolik dari 3 Paroki di Balikpapan.
Perjalanan Hari Pertama TdC (11 Agustus 2007) dimulai dengan Upacara Pembukaan di pelataran parkir Gereja Katolik Sta. Theresia oleh Pastor Josef Kristianto, MSF, yang saat itu masih menjabat sebagai Pastor Kepala Paroki Sta. Theresia Prapatan, sekaligus berperan sebagai Pastor Penanggung Jawab GEMA WARTA. Dengan ditemani oleh Suster Susana, MASF sebagai Pembimbing Rohani TdC, dari Gereja Sta. Theresia, peserta berangkat dengan 2 bus besar menuju Gereja tujuan pertama yaitu Gereja Katolik Stasi St. Yosef, Argosari, Amborawang. Kami berjumpa dengan Pak Wagiran sebagai Ketua Stasi, yang berkenan menerima kedatangan kami dan memberikan sekilas kisah sejarah dibangunnya Gereja tersebut. Kami juga melakukan Rosario bersama Peserta dan Umat setempat di Rumah Bunda. Rumah Bunda adalah tempat patung Bunda Maria berdiri yang terletak di belakang Gereja ini. 
Dari Argosari, kami bertolak ke Handil II, dimana terletak Gereja Stasi Ratu Rosari. Di sana kami juga disambut dengan gembira oleh Umat Katolik setempat dan Pak Vincent selaku Ketua Stasi, yang berkenan memberikan sambutan dan sekilas cerita mengenai perjuangan Umat Katolik di Handil untuk membangun rumah Tuhan di Handil II. Di sini juga kami disuguhi berbagai macam makanan dan minuman ringan sebagai pelepas lelah dan dahaga. Dan kami bersama-sama menyanyikan Lagu “Panjang Umurnya” buat salah satu anak sekolah minggu yang kebetulan berulang tahun pada hari itu. Sambil beberapa umat menikmati hidangan yang tersedia, umat lainnya melakukan doa dan intensi pribadi di dalam Gereja.
|
Atas: Photo bersama Peserta TdC dengan latar belakang Rumah Bunda, di Gereja Stasi St. Yosef, Argosari, Amborawang |
Kami lalu melanjutkan perjalanan ke Mangkupalas dimana terletak Gereja Katolik Hati Kudus Yesus yang saat ini dikepalai oleh Pastor Moses, MSF, yang juga sebagai Vikep Pantai Keuskupan Agung Samarinda. Kami diterima dengan baik oleh Pastor Moses dan Dewan Paroki setempat. Di dalam Pastoran, kami mendengarkan Pastor Moses bercerita mengenai sejarah Gereja ini, juga
mendengarkan kisah Pastor Moses berkarya sebagai Vikep Pantai, sambil kami
menikmati donat & minuman yang disediakan oleh Dewan Paroki. Selesai
mendengarkan kisah-kisah dari Pastor Moses, kami melakukan Aksi Sosial dengan menyumbang buku-buku bacaan Anak-anak untuk Sekolah Minggu Paroki Hati Kudus Yesus. Sumbangan secara simbolik diterima oleh Pastor Moses. Setelah itu, Peserta diperkenankan masuk Gereja dan dipersilahkan berdoa dan intensi pribadi masing-masing. Lalu kami berphoto bersama Pastor Moses dan Dewan Paroki Hati Kudus Yesus, kami meneruskan perjalanan kami ke Rumah Retret ”Bukit Rahmat” di Putak, Loa Duri.
|
Atas: Gereja Katolik Stasi Ratu Rosari, Handil II
|
Tiba di Putak, kami disambut gembira oleh Suster Hilaria, MASF, sebagai Tuan Rumah ”Bukit Rahmat”. Peserta menurunkan semua barang & tas bawaan dari dalam bus, karena kami akan bermalam di tempat tersebut. Sambil Peserta check-in di kamar yang sudah ditentukan oleh Panitia, Sr. Hillaria mempersilakan para Peserta untuk bersantai di Ruang Makan baru, sambil menikmati ubi & singkong rebus serta kopi atau teh hangat. Sedap sekali… Malam hari, selesai makan malam bersama, Suster Paula, MASF yang merupakan Suster Penanggung Jawab Rumah Retreat tersebut memberikan sharing dan renungan, yang diakhiri dengan Doa Taize di dalam Kapel. Doa Taize dibawakan oleh Suster Susana, MASF dan Suster Hillaria, MASF dengan sangat syahdu di antara taburan lilin-lilin yang menerangi seluruh kapel. Kami melakukan renungan pribadi dengan refleksi terhadap kehidupan kita sehari-hari, serta mohon pengampunan kepada Tuhan atas dosa-dosa selama ini. Seluruh dosa bisa ditulis di dalam kertas, dan kemudian dibakar di Api Unggun, sebagai tanda pertobatan kita dan janji untuk menjadi manusia yang lebih baru dan bersih. Perjalanan malam di Putak lalu dilanjutkan dengan bakar jagung dan singkong, namun sebagian Peserta yang sudah lelah dapat langsung beristirahat di kamar masing-masing.
Pagi hari, jam 8 pagi, rombongan sudah menikmati makan pagi bersama dan pamitan dengan Suster Hillaria, MASF & Suster Paula, MASF. Perjumpaan dan pamitan kami dengan Sr. Hillaria, MASF pagi itu, juga merupakan pamitan terakhir, karena Sr. Hillaria akan dipindah tugaskan ke Jawa. Selamat jalan dan berkarya di Jawa, Suster… begitu pesan kami buat Sr. Hillaria saat itu, cukup mengharukan.
|
Atas: Suasana Doa Taize, ditaburi lilin-lilin dan iringan instrument yang syahdu mengantar diri melakukan refleksi |
Bertolak dari Putak, rombongan menuju Samarinda untuk mengikuti Misa Minggu pagi, yang kami lakukan di Kapel Susteran MASF yang letaknya di dalam Rumah Sakit Bhayangkara, Samarinda. Misa dipimpin oleh Pastor Hendrik, SVD. Rencananya selesai Misa Minggu pagi, kami hendak bertemu dengan Pastor Yan Olla, MSF di Katedral Samarinda, namun sayang sekali tanpa disangka, ternyata hari minggu pagi itu Katedral sedang dirundung duka, karena salah satu Umat terbaiknya telah meninggal dunia. Peserta masih diperkenankan mengunjungi Katedral, namun tidak dapat beraudiensi dengan Pastor maupun Bapak Uskup. Katedral pun saat itu penuh pengunjung yang melayat dan melakukan Misa Requiem. ”Gagal” berjumpa dengan Bapak Uskup, kami pun melanjutkan perjalanan ke Temindung, dimana terletak Gereja Katolik St. Lukas yang terkenal itu dan Pastor Huvang, MSF sebagai Pastor Kepala Parokinya. Kami diperkenankan untuk menggunakan Aula Gereja sebagai tempat makan siang bersama. Lalu Pastor Huvang bercerita banyak mengenai tugas dan karya pelayanan beliau dulu di Balikpapan, sebelum akhirnya dipindah ke Temindung. Ceritanya sungguh menagumkan, hanya sayang karena hari sudah mulai sore, dan perjalanan kami masih jauh untuk mengunjungi Stasi KM45, maka dengan berat hati kami berpamitan dengan Pastor Huvang dan rombongan segera meninggalkan Samarinda menuju Gereja Katolik, Stasi ”Utuslah RohMu Ya Tuhan” di KM45.
Tiba di Stasi ”Utuslah RohMu Ya Tuhan”, KM45, kami disambut dengan meriah oleh Pastor Piero, OMI beserta Umat Katolik setempat. Setelah berdoa sejenak bersama Pastor Piero dan mendengarkan sejarah dibangunnya Gereja KM45 yang tergolong unik dengan begitu banyaknya relief-relief di tembok, lalu dilanjutkan dengan Aksi Sosial membagi-bagikan majalah anak-anak ke anak-anak sekolah minggu di KM45 ini. Stasi dengan jumlah KK tidak banyak ini sungguh sangat senang menerima kedatangan kami dan anak-anak pun bernyanyi bersama kami. Setelah melakukan Aksi Sosial, Peserta pergi ke Gua Maria yang letaknya berseberangan dengan Gereja dan untuk mencapai Gua Maria tersebut perlu sedikit usaha, karena masuk sedikit ke dalam hutan, agak menanjak dan berbatu dan tanah merah yang agak licin. Namun, kesulitan tersebut terbayar ketika menyaksikan sendiri indahnya Gua Maria KM45. Lalu kami pun melakukan Doa Rosario di tempat itu ditemani dengan suara-suara alam.
Tujuan terakhir pada hari kedua TdC adalah Stasi Kebangkitan Kristus, Karang Joang, KM15. Di sana kami disambut oleh Pastor Yoseph, OMI dan pak Subianto selaku Ketua Stasi. Dan seperti di Stasi sebelumnya, kami mendengarkan kisah dibangunnya gereja dan perkembangan umat Katolik di wilayah tersebut. Lalu kami dibawa ke belakang Gereja, ternyata ada Gua Maria yang waktu itu belum 100% selesai dibangun. Kami pun melakukan doa dan intensi pribadi masing-masing di tempat tersebut. Sesaat sebelum rombongan kembali ke Balikpapan, Panitia GEMA WARTA memberikan kenang-kenangan buat Suster Susana, MASF, yang telah mengiringi perjalanan ziarah ini dan memberi renungan-renungan. Dan Peserta dan Umat setempat berphoto bersama di sela turunnya matahari ke singgasananya. SAMPAI JUMPA DI TDC TAHUN 2008 !!!
GEMA WARTA mendukung kegiatan yang akan diselenggarakan oleh Keuskupan Agung Samarinda dalam rangka Peringatan 100 thn Misi Gereja Katolik di Keuskupan Agung Samarinda, Kaltim. Untuk itu, kami akan secara berkala mengupdate perkembangan kepanitiaan maupun acara-acara yang akan diselenggarakan, baik melalui web ini ataupun di milis kami di gemawarta@googlegroups.com.Berikut ini adalah Doa Syukur untuk memperingati momen bersejarah ini, semoga bermanfaat dan silakan diprint dan dibawa pulang sendiri bila diperlukan. Baca entri selengkapnya »
Bagi yang masih single di Balikpapan atau yang memberikan perhatian khusus bagi kaum single, kami bermaksud mengadakan misa ekaristi khusus untuk kaum single di Balikpapan dengan thema ‘PARA SINGLE DAN KEHIDUPAN YANG HARUS DIJALANI SEBAGAI KATOLIK’, dengan perincian:
Break down Thema:
Mari kaum single….. kita ikut berpartisipasi. Dont miss it….
Narasumber: Sr. Susana J.J., MASF, Ria Yosefine & C. Silka.
Host: Yenni Eka Sari & Lily Gandakusuma
Mengapa bulan Mei menjadi Bulan Maria? Bagaimana dengan bulan Oktober? Berdasar pada tradisi Gereja, dua bulan tersebut memang dikhususkan untuk menghormati Maria. Tapi, bulan Mei lebih disebut sebagai bulan Maria, sedangkan bulan Oktober sebagai bulan Rosario. Sebetulnya, tradisi yang memandang bulan Mei sebagai bulan Maria sudah ada sejak abad pertengahan. penghormatan terhadap Maria juga merupakan hasil perkembangan dalam Gereja, sejak abad XVII hingga abad XIX. Pada tanggal 1 Mei 1965, Paus Paulus VI dengan ensiklik Mense Maio menegaskan kembali tradisi kesalehan ini dengan menyatakan bahwa penghormatan kepada Bunda Maria pada bulan Mei merupakan “kebiasaan yang amat bernilai“. Adapun, kebiasaan bulan Oktober sebagai bulan rosario dinyatakan pertama kalinya oleh Paus Leo XIII pada akhir abad XIX yang menganjurkan umat beriman untuk berdoa rosario setiap hari pada bulan Oktober. Baca entri selengkapnya »
Nama Pulau Galang hanya pernah saya dengar dari sekelebatan berita-berita di waktu dahulu. Yang saya ketahui saat itu adalah bahwa pulau itu adalah tempat pengungsi Vietnam. Kapan pulau itu akhirnya sudah tidak dipakai lagi untuk menampung pengungsi, saya tidak pernah mencermati beritanya lagi. Tak disangka saya akhirnya sempat mengunjunginya sekian lama setelah pengungsi terakhir meninggalkan pulau Galang (tepatnya sejak 1996). Sisa-sisa kamp pengungsi itu tetap berada pada tempatnya, sebagian diperbaiki untuk menjadi monumen untuk mengenang masa lalu para pengungsi Vietnam. Baca entri selengkapnya »
Narasumber: Pst. Stanislaus Maratmo, MSF, Bu Yohanna Sattu, Bpk. M. Budi Kuntjoro.
Host: C. Silka
Silka: Apa yang dimaksud dengan jiarah?
Pst. Maratmo: Jiarah berarti perjalanan ke suatu tempat. Perjalanan yang bersifat rohani dalam kaitan dengan penghayatan iman untuk memperoleh rahmat ilahi dengan mendatangi, mengunjungi tempat-tempat yang dianggap suci oleh karena penampakan ilahi atau hadirnya hamba Allah guna menjumpai Tuhan di tempat itu. Baca entri selengkapnya »
Puasa dimulai hari Rabu abu ini (21/02/2007) dengan penerimaan abu yang merupakan suatu tanda pertobatan yang bersifat komunal. Di seluruh dunia setiap orang katolik menerima abu di dahinya sebagai ungkapan kesediaan mereka untuk memulai saat pertobatan. Abu yang telah kita terima di dahi itu tak dapat disembunyikan seperti halnya saat kita menerima suntikan, di mana setelah disuntik kita bisa menutupinya dengan menurunkan kembali lengan baju. Abu diberikan di dahi dan karenanya semua orang bisa melihatnya dengan mudah.
Di hari Rabu abu kita tidak datang menerima abu di tangan dan secara sembunyi-sembunyi kita kembali lalu mengoleskannya di dahi. Dahi yang bersih saat kita datang kini ditaburi abu untuk bisa dilihat secara jelas oleh semua orang tanpa mampu bersembunyi.
Tentu ketika kita keluar dari pintu gereja setelah menerima abu di dahi, kita mungkin akan merasa malu bahwa justru bagian diri kita yang biasanya dengan mudah dilihat orang kini dikotori. Apa lagi kalau kita berada di lingkungan yang mayoritasnya tak beriman sama seperti kita, yang tak mengenal dan tak memahami apa makna di balik kotornya dahi tersebut. Tapi justru inilah nilai rohani dari penerimaan abu, yakni bahwa kita secara terbuka dan dengan amat rendah hati berdiri di hadapan sesama dan berkata bahwa kita bukanlah manusia yang bersih. Kita adalah kaum pendosa. Kita butuh sesuatu yang melampaui kekuatan manusiawi kita, yakni kekuatan rahmat Allah untuk membebaskan kita dari keadaan kita saat ini, yakni membebaskan kita dari dosa-dosa kita.
Satu hal menarik saat kita menerima abu. Karena abu diurapi di dahi kita, maka amatlah mustahil bahwa kita bisa melihat secara langsung betapa kotoranya dahi kita. Kita hanya bisa melihatnya lewat cermin setelah kita kembali ke rumah. Namun kita bisa dengan amat mudah melihat kotornya dahi orang lain. Di sini orang lain seakan berdiri di depan kita dan menjadi cermin tempat kita melihat diri kita masing-masing. Dalam hidup nyata kitapun dapat dengan mudah melihat kekurangan, kelemahan serta keburukan orang lain. Kita sulit melihat dengan jelas kelemahan diri sendiri. Orang lain selalu salah sementara aku selalu berada di pihak yang benar. Namun di hari Rabu abu sesamaku adalah gambaran diriku. Sesamaku adalah cermin diriku.
Aku melihat diriku yang penuh kelemahan melalui orang lain yang kini berada di depanku. Tak ada yang bisa kita katakan di saat itu kecuali bersama-sama berdiri di hadapan Tuhan dan mengakui bahwa kita adalah manusia lemah, manusia yang sering jatuh. Kita adalah manusia yang bersama-sama membutuhkan rahmat istimewa dari Tuhan agar bisa bangun lagi dan menjadi layak lagi disebut anak-anak pilihanNya.
Selamat memasuki masa puasa dan lebih lagi mari kita mulai bertobat.
Source : PondokRenungan
”Aku akan menyertaimu sampai akhir jaman,” demikian Janji Yesus Kristus kepada kita seperti dalam Matius 28:20. Demikianlah hingga sekarang Kristus selalu menyertai kita GerejaNya kapan pun kita memperingatiNya. Demikian mesra hubungan antara Kristus dan GerejaNya sehingga GerejaNya bukan saja memperingati peristiwa Kristus tetapi Kristus juga sungguh hadir. Dalam surat apostoliknya Dies Domini, Paus Yohanes Paulus II sendiri menyatakan Hari Tuhan adalah Hari Gereja, Dies Domini sic etiam dies Ecclesiae revelatur. Baca entri selengkapnya »
Gereja bagai bahtera dan kita penumpangnya menumpang bahtera dalam mengarungi samudera kehidupan. Ada masa samudera sangat tenang tapi tak kurang pula gelora ombak siap menenggelamkan bahtera. Rekan setia, senada dengan lagu pengantar kita tadi, malam ini kita akan sedikit mengupas Gereja, khususnya pada periode-periode awalnya, yang sering kita sebut dengan periode Gereja Purba, yaitu mulai saat para murid berkumpul pada hari raya Pentakosta yang kita rayakan sebagai saat lahirnya Gereja sebagai persekutuan umat beriman. Periode ini seharusnya berakhir pada masa sebelum Konsili Pertama di Nicea sekitar tahun 325 tapi kita akan sedikit memperpanjangnya hingga sekitar tahun 500, jadi masih sebelum jatuhnya Konstantinopel yang mengakibatkan berdirinya Gereja Ortodoks Timur. Semoga kita bisa membicarakan periode berikutnya pada kesempatan lain. Pada periode ini kita akan melihat bagaimana para rasul berkeliling mewartakan Yesus Kristus, bagaimana suasana politik-sosial dan budaya pada masa-masa tersebut, para martir dan Bapa Gereja yang awal, juga bagaimana Gereja kita masa kini mewarisi semangat Gereja Purba tersebut. Baca entri selengkapnya »