Aborsi: Pro-Life atau Pro-Choice

24 11 2005

(Narasumber: Pst. Kristianto, MSF & Dr. Rudiyanto, SpOG. Host: Lily Gandakusuma)

fetus.jpgRekan setia, topik kita pada malam hari ini akan mengulas tentang Aborsi Pro Life atau Pro Choice. Saat ini Aborsi menjadi salah satu masalah yang cukup serius, dilihat dari tingginya angka aborsi yang kian meningkat dari tahun ke tahun. Di Indonesia sendiri, angka pembunuhan janin per tahun sudah mencapai 3 juta. Angka yang tidak sedikit mengingat besarnya tingkat kehamilan di Indonesia. Selain itu, ada yg mengkategorikan aborsi itu pembunuhan. Ada yang melarang atas nama agama. Ada yang menyatakan bahwa jabang bayi juga punya hak hidup sehingga harus dipertahankan, dan lain-lain.

Lily: Dokter, apa sih definisi aborsi itu sendiri menurut ilmu kedokteran?
Dokter: Aborsi adalah penghentian kehamilan dimana janin berusia kurang dari 20 minggu.

Lily: Kalau begitu ada berapa macam Aborsi?
Dokter: Pengguguran kandungan alias aborsi (abortus, bahasa Latin) secara umum dapat dipilah dalam dua kategori, yakni aborsi alami (abortus natural) dan aborsi buatan (abortus provocatus), yang termasuk di dalamnya abortus provocatus criminalis, yang merupakan tindak kejahatan dan dilarang di Indonesia (diatur dalam pasal 15 ayat 2 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992).  

Lily: Dan jika dilihat dari segi medis, siapa yang lebih banyak melakukan aborsi, dari kalangan pranikah atau justru orang yang telah menikah mungkin ibu rumah tangga?
Dokter:
Justru dari kalangan orang yang telah menikah, contohnya ibu rumah tangga. Kalau PSK kebanyakan dari mereka sudah siap, sudah tahu resiko pekerjaannya sedangkan ibu rumah tangga tidak siap.

Lily: Dokter, sebenarnya apa yg menjadi alasan seseorang melakukan aborsi pada umumnya?
Dokter: Terlepas dari alasan apa yg menyebabkan kehamilan, aborsi dilakukan karena terjadi kehamilan yg tidak diinginkan. Apakah dikarenakan kontrasepsi yang gagal, perkosaan, ekonomi, jenis kelamin atau hamil di luar nikah juga keterikatan kontrak kerja sampai ketidaktauan mengenai KB.

Lily: Pastor,  Kalau tadi sudah dijelaskan mengenai aborsi menurut medis, bagaimana pendapat Gereja itu sendiri mengenai aborsi? 
Pastor: Kiranya aborsi hanya layak dibenarkan dalam dua kasus dilematis berikut: kasus dilematis pertama, yakni situasi dimana jelas bahwa janin akan mati bersama ibunya apabila tidak dilaksanakan pengguguran: dan kasus dilematis kedua, yakni situasi dimana ibu akan meninggal bila janin tidak digugurkan. Bahkan dalam kasus kedua itu beberapa ahli moral masih meragukan apakah hidup ibu selalu layak lebih diutamakan dibandingkan dengan hidup janin.

Lily: Bagaimana kalau memang kita sudah tahu ada kelainan pada janin, apa boleh aborsi?Mungkin Pastor dan Dokter dapat memberikan pandangan kepada kami. 
Pastor: Tetap tidak boleh. Gereja hanya menerima kedua kasus dilematis yang tadi telah dijelaskan. Kecuali kalau kelainan itu  mengakibatkan masalah dilematis seperti diatas tadi.
Dokter: Tergantung beratnya tingkat kelainannya, kalau memang membahayakan salah satu baik ibu maupun janin aborsi dapat dilakukan atas persetujuan Tim Dokter. 

Lily: Lalu bagaimana dengan korban pemerkosaan? Yang boleh dikatakan kematangan jiwa sang ibu perlu dipertanyakan misalnya karena anak yang akan dilahirkan akan dilecehkan oleh masyarakat.
Dokter: Kembali lagi ke persoalan apakah kalau kehamilan tersebut dilanjutkan akan membahayakan ibu dan janinnya
Pastor: Gereja membantu menyiapkan proses kematangan jiwa sang ibu misalnya melalui pendampingan oleh para suster sehingga sang ibu mau melahirkan anak dan membatalkan niat pengguguran. Gereja menyiapkan mental/ kejiwaan si korban perkosaan melalui pendampingan (konseling) bisa dilakukan oleh pastor dan suster.

Lily: Dokter, Mengapa masih ada dokter yang melakukan aborsi?
Dokter: Semuanya kembali ke kepribadian dokternya, mungkin ada dokter yang mau melakukan aborsi dengan alasan sosial seperti pada korban pemerkosaan atau alasan lain untuk kepentingan pribadi.

Lily: Lalu apa solusi pencegahan aborsi itu sendiri menurut gereja katolik?
Pastor : Beriman yang diwujudkan dengan:

  1. Sikap hormat terhadap kehidupan manusia sebagai ciptaan Tuhan yang ”serupa dengan citra Allah” (Berdasarkan Kej 1:26)
  2. Taat kepada perintah Allah khususnya perintah cinta / hukum cinta yaitu Cinta Kepada Tuhan dan sesama.
  3. Taati perintah ke -5 : ”Jangan Membunuh”
  4. Setia kepada ajaran Gereja yang melarang keras Aborsi (humanae Ultae).
  5. Pembinaan kaum muda: Memberi Katekese (pelajaran) mengenai seks dan seksualitas.
  6. Kursus persiapan perkawinan.

Lily: Pastor, dari segi medis telah dibahas bahwa kelainan janin diperbolehkan diaborsi, kalau begitu jika Gereja Katolik melarang aborsi, apa Gereja menyediakan lembaga untuk menampung anak-anak hasil gagal aborsi itu tetapi cacat?
Pastor: Ada kelompok suster dari ordo OSU seperti ”Gembala Baik” yang menampung anak-anak hasil perkosaan. Biasanya ibu-ibu hamil diluar nikah didampingi untuk disiapkan baik mental dan spiritualnya, diberi kematangan jiwa agar mau melahirkan dan memelihara bayinya.

Lily: Satu pertanyaan terakhir buat Pastor. Menurut gereja katolik apakah bayi yang diaborsi masuk surga?
Pastor: Aristoteles berpendapat, hidup manusia dimulai saat masuknya jiwa ke badan, Embrio modern menekankan hidup manusia langsung dimulai seusai proses pembuahan. Surga untuk anak2 namanya LIMBO.

Reference: 1. “MORAL DAN MASALAHNYA” oleh. Dr. Al. Purwa Hadiwardoyo MSF.


Aksi

Information

8 responses

11 10 2006
Venny

mengapa jika kehamilan janin membahayakan nyawa ibunya, boleh dilakukan aborsi? apakah nyawa seorang ibu dipandang lebih tinggi dibandingkan nyawa janin dalam kandungan itu? padahal, menurut saya, keduanya memiliki hak asasi untuk hidup. terima kasih.

12 10 2006
roberto

jika kehamilan membahayakan ibu, berdasarkan penilaian apa kondisi ‘membahayakan’ itu dibuat dan apakah dokter beserta teknologi di indonesia sdh bisa dipercaya 100%..? dalam banyak kasus, pasien yg sdh divonis mati secara medis aja masih bisa sehat kembali…

6 11 2006
Fr. Tuan Kopong MSF

Dalam hal perlu tidaknya abrosi perlu diperhatikan prinsip moral yang disebut prinsip minus malum. Memang nyawa seorang janin memilik HAM untuk hidup. Tetap perlu juga diperhatikan jika ibu itu sudah memiliki anak-anak yang lain yang perlu perhatin dan kasih sayang darinya. bahkan jika janin itu menyebabkan bahwa pada rahim ibu dalam arti janin itu terkena kanker ganas maka yang perlu dilakukan adalah pengangkatan rahim yang secara tidak langsung terjadi aborsi.Dalam hal ini diperkirakan juga bahwa jika ibu itu masih muda dan masih ada kemungkinan untuk melahirkan maka prinsip yang diambil adalah prinsip minus malum. Untuk memahami aborsi perlu dibedakan aborsi langsung dan tidak langsung.

30 12 2007
2 01 2008
2 01 2008
2 01 2008
4 10 2010
ngekngok

turut prihatin dengan adanya aborsi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: