Advent: Moment Membangun Harapan

1 12 2005

advent_wrath.jpg(Narasumber Sr. Yohanika, MASF dan Bapak Gabriel Wujon, Host: Ursula Vina Murti dan Theo Filus) 

Vina: Suster, sebenarnya advent itu apa ?
Sr. Yohanika: Advent berasal dari bahasa Latin, adventus, yang artinya kedatangan.Orang Katolik Perancis pada awalnya memakai kata adventus untuk menamakan masa persiapan menyambut Hari Raya Epifani dimana para calon Baptis dibaptis menjadi warga Gereja.Gereja Katolik kemudian memakai kata Adventus untuk menamakan masa persiapan perayaan Kelahiran Yesus Kristus, yaitu Hari Raya Natal.Masa Advent berlangsung selama 4 minggu, dimulai hari minggu dan biasanya setelah tanggal 26 November.Masa Advent mempunyai 2 tujuan utama, yaitu :

  1. mengarahkan hati, supaya dengan penuh harapan kita menantikan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua pada akhir zaman.
  2. menyiapkan Hari Natal, memperingati kedatangan Tuhan Yesus yang pertama dulu, di Betlehem, dengan kata lain mempersiapkan kedatangan Yesus Kristus secara Sakramental pada hari Natal.

Vina: Berarti, Masa Advent disini, ada 2 arti yaitu, memperingati Natal, yaitu kedatangan Yesus yang pertama, yaitu 2005 tahun yang lalu, dan sekaligus mempersiapkan kedatangan Yesus yang kedua. Bagaimana menurut Bapak Gabriel?
Gabriel Wujon : Katekismus Gereja Katolik menekankan makna ganda “kedatangan” ini: “Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menyongsong kedatangan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua”Jadi makna advent untuk kita : bersiap-siap dan berjaga-jaga setiap saat dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus. Hakikat advent adalah persiapan diri.Persiapan diri yang seperti apakah itu, yaitu tindakan yang selalu berjaga-jaga (awareness), dan menyiapkan hati, dengan :

  1. bertobat
  2. berdoa
  3. berbuat amal kasih

Oleh sebab itu, di satu pihak, umat beriman merefleksikan kembali dan didorong untuk merayakan kedatangan Kristus yang pertama ke dalam dunia ini. Kita merenungkan kembali misteri inkarnasi yang agung ketika Kristus merendahkan diri, mengambil rupa manusia, dan masuk dalam dimensi ruang dan waktu guna membebaskan kita dari dosa. Di lain pihak, kita  ingat dalam Syahadat bahwa Kristus akan datang kembali untuk mengadili orang yang hidup dan mati dan kita harus siap untuk bertemu dengannya. 

Vina: Adventus ini pada hakikatnya adalah seperti dalam injil, tentang perumpamaan dalam injil Matius, tentang 5 orang gadis bodoh dan 5 gadis pandai. gadis2 pandai yang selain membawa pelitanya, mereka juga membawa bekal berupa minyak. Karena kita tidak tahu, akan hari maupun saatnya kan tiba. Jadi di masa advent inilah kita harus seperti gadis2 yang membawa bekal minyak ya suster ?
Sr. Yohanika: Betul sekali tentang perumpamaan tadi. Kita memang harus selalu siap secara batiniah dalam menyambut kedatangan / kelahiran penebus kita.Apabila di dalam injil membahasakan persiapan tersebut sebagai ”bekal” minyak lentera yang penuh, nah, di dalam kehidupan kita secara nyata, ”bekal” tersebut adalah : persiapan kita, dalam bentuk : bertobat, berdoa, dan beramal kasih.Nah, Masa persiapan ini berlangsung selama 4 minggu, kita biasa sebut sebagai 4 minggu persiapan. Meskipun minggu terakhir Adven pada umumnya terpotong dengan tibanya Hari Natal. Namun untuk advent kali ini, pas sekali, utuh, karena Hari Natal kita, jatuh di hari minggu. 

Vina: Pada masa advent, di gereja ada empat batang lilin, 3 yang berwarna ungu dan 1 berwarna merah muda. Dan diikat dengan lingkaran daun2 berwarna hijau. Apakah maknanya Pak Gabriel? juga mengapa gereja didekorasi dengan nuansa warna ungu ?
Gabriel Wujon: Warna ungu melambangkan Pertobatan, Adven adalah masa di mana kita mempersiapkan jiwa kita untuk menyambut kedatangan Kristus pada Hari Natal.Lingkaran Adven, selalu dibuat dari daun-daun evergreen. Dahan-dahan evergreen, sama seperti namanya “ever green” – senantiasa hijau, senantiasa hidup. Evergreen melambangkan

  • Pengharapan,
  • Kehidupan, itulah Kristus, Yang mati namun hidup kembali untuk selamanya.
  • Keabadian jiwa kita. Kristus datang ke dunia untuk memberikan kehidupan yang tanpa akhir bagi kita.

Tampak tersembul di antara daun-daun evergreen yang hijau adalah buah-buah berry warna merah. Buah-buah itu serupa tetesan-tetesan darah, lambang darah yang dicurahkan oleh Kristus demi umat manusia. Buah merah itu mengingatkan kita bahwa Kristus datang ke dunia untuk wafat bagi kita dan dengan demikian menebus kita. Oleh karena Darah-Nya yang tercurah itu, kita beroleh hidup yang kekal.Empat batang lilin diletakkan sekeliling Lingkaran Adven, tiga lilin berwarna ungu dan yang lain berwarna merah muda. Lilin-lilin itu melambangkan keempat minggu dalam Masa Adven, yaitu masa persiapan kita menyambut Natal. Setiap hari, dalam bacaan Liturgi Perjanjian Lama dikisahkan tentang penantian bangsa Yahudi akan datangnya Sang Mesias, sementara dalam Perjanjian Baru mulai diperkenalkan tokoh-tokoh yang berperan dalam Kisah Natal. Pada awal Masa Adven, sebatang lilin dinyalakan, kemudian setiap minggu berikutnya lilin lain mulai dinyalakan. Seiring dengan bertambah terangnya Lingkaran Adven setiap minggu dengan bertambah banyaknya lilin yang dinyalakan, kita pun diingatkan bahwa kelahiran Sang Terang Dunia semakin dekat. Semoga jiwa kita juga semakin menyala dalam kasih kepada Bayi Yesus.Warna-warni keempat lilin juga memiliki makna tersendiri. Lilin ungu sebagai lambang pertobatan. Lilin merah muda dinyalakan pada Hari Minggu Adven III yang disebut Minggu “Gaudete”. “Gaudete” berasal dari bahasa Latin yang berarti “sukacita”, melambangkan adanya sukacita di tengah masa pertobatan karena sukacita Natal hampir tiba. Warna merah muda dibuat dengan mencampurkan warna ungu dengan putih. Artinya, seolah-olah sukacita yang kita alami pada Hari Natal (yang dilambangkan dengan warna putih) sudah tidak tertahankan lagi dalam masa pertobatan ini (ungu) dan sedikit meledak dalam Masa Adven. Pada Hari Natal, keempat lilin tersebut digantikan dengan lilin-lilin putih – masa persiapan kita telah usai dan kita masuk dalam sukacita yang besar.Pada kaki setiap lilin, atau pada kaki Lingkaran Adven, ditempatkan sebuah mangkuk berwarna biru. Warna biru mengingatkan kita pada Bunda Maria, Bunda Allah, yang mengandung-Nya di dalam rahimnya serta melahirkan-Nya ke dunia pada hari Natal.
Sr. Yohanika: Ada yang saya ingin tambahkan. Lingkaran Adven diletakkan di tempat yang menyolok di gereja. Para keluarga memasang Lingkaran Adven yang lebih kecil di rumah mereka. Lingkaran Adven kecil ini mengingatkan mereka akan Lingkaran Adven di Gereja dan dengan demikian mengingatkan hubungan antara mereka dengan Gereja. Lilin dinyalakan pada saat makan bersama. Berdoa bersama sekeliling meja makan mengingatkan mereka akan meja perjamuan Tuhan di mana mereka berkumpul bersama setiap minggu untuk merayakan perjamuan Ekaristi – santapan dari Tuhan bagi jiwa kita.Jadi, nanti jika kalian melihat atau memasang Lingkaran Adven, jangan menganggapnya sebagai hiasan yang indah saja. Ingatlah akan semua makna yang dilambangkannya, karena Lingkaran Adven hendak mengingatkan kita akan perlunya persiapan jiwa sehingga kita dapat sepenuhnya ambil bagian dalam sukacita besar Kelahiran Kristus, Putera Allah, yang telah memberikan Diri-Nya bagi kita agar kita beroleh hidup yang kekal.  

Theo: Suster, tadi suster menyebut-nyebut hari raya Epifani. Apakah Hari Raya Epifani itu suster?
Suster Yohanika: Epifani sendiri adalah sebuah hari raya pada tanggal 6 Januari yang memperingati Tiga Orang Majus atau kadangkala disebut Tiga Raja, yang mengunjungi Yesus yang baru saja lahir.Kemudian dengan perkembangan gereja, maka Epifani itu adalah Hari raya umat manusia yang menyongsong kedatangan Yesus di dunia sebagai Sang Juruselamat, yang dibarengi dengan upacara Sakramen Pembabtisan.
Gabriel Wujon: Epifani sendiri adalah berarti penampakan. Maksudnya, Tuhan Yesus datang untuk semua bangsa, tidak hanya untuk orang Israel. 3 orang Majus merupakan lambang dari berbagai bangsa dari seluruh dunia. 

Theo: Pak Gabriel, apa saja doa renungan advent di setiap minggunya dan apa artinya untuk perjalanan batin kita menyambut Natal ini?
Gabriel Wujon: Tiap-tiap minggu advent kita mengalami perhentian perjalanan batin kita. Seperti di dalam jalan salib, kita hening dan berdoa, mendengarkan pesan Allah. 

Pada MINGGU ADVEN I
Markus 13:33 , Yesus mengatakan kepada para muridnya: “Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! … Kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu datang.” Minggu I advent menjadi awal tahun liturgi gereja, Pesta Kristus Raja, selama 33 minggu biasa.Focus : mempersiapkan umat untuk menyongsong kedatangan Yesus. 

MINGGU ADVEN II
Markus 1:2b-3, "Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu; Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya" Focus : (insert) 

MINGGU ADVEN III
Yohanes 1 :26b, ”Di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal.” Focus : Yesus ada di tengah-tengah kita, namun kita tidak menyadarinya. Intinya, bahwa supaya kita mengetahui kehadirannya, kita harus benar-benar ”bersih” dan peka, sehingga bahkan kita mampu mendengar Suara Tuhan, dan mengamalkannya. 

MINGGU ADVEN IV
Lukas 1: 31 dan 38, ”Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akanmelahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu.” Focus : kita harus mengambil contoh seperti Bunda Maria yang suci, yang percaya dan yakin akan Allah. Sehingga, bahkan tidak tau maknanya pun Bunda Maria dengan pasrah dan tunduk akan kehendak Allah. Bagi kita, supaya kita suci dan layak untuk mengandung Yesus dlam diri kita, kitapun harus suci, yakin dan tunduk akan kehendak Allah akan kita. 

Vina: Suster, tadi sudah disinggung bahwa Masa Advent ini adalah masa pertobatan yang dilambangkan dengan warna ungu. Apakah maksud Pertobatan di masa advent dan perwujudan nyata seperti apa yang saudara-saudari kita bisa amalkan ?
Sr. Yohanika : Warna ungu disini berarti pertobatan, bukan seperti awam yang menganggap bahwa ungu itu berkabung. Pertobatan disini juga bertobat dengan penuh sukacita, karena kita sedang akan menjemput kedatanganNya yang kita nantikan.Membersihkan diri, memurnikan diri, supaya layak bertemu denganNya.Syarat untuk dapat diterima ke Kerajaan Sorga, simbol keselamatan dan kesejahteraan sejati yang abadi adalah Tobat. Tidak membawa apa-apa, harta benda, karir, gelar, prestasi  yang bisa membuat kita menjadi sombong, tinggi hati; kembali menjadi seperti bayi Kristus yang baru saja lahir.Adapun mengenai implikasi praktis dari pertobatan itu dinyatakan oleh Yohanes Pembaptis antara lain dengan menunjuk kepada perbuatan-perbuatan berikut, "Barangsiapa mempunyai dua helai baju, baiklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian." 

Vina: Pak Gabriel, bagaimana dengan ritual menyongsong hari natal ini dengan ajang jor-joran yang ada di hotel-hotel mewah, pusat perbelanjaan, dan mal-mal yang melenceng dari makna advent tersebut ? 
Gabriel Wujon : Memang benar, bahwa Masa Advent adalah masa pertobatan. Pesta-pesta Natal yang dilakukan dengan penuh gemerlap itu, selain mengacaukan persiapan menyongsong kelahiran Yesus, juga menggeser makna persiapan Natal yang sesungguhnya. Perayaan Natal yang dilakukan di pusat-pusat perbelanjaan sejak awal Desember mencerminkan adanya kepentingan lain yang pemodal besar yang tak lebih dari komersialisasi perayaan-perayaan Natal dengan tujuan akhir menarik pembeli. Akhirnya, pesan natal yang seharusnya disampaikan menjadi kabur. Pesan yang ingin disampaikanNya adalah kerendahan hati dan sikap solider dengan umat manusia lainnya, terutama rakyat kecil. Kelahiran-Nya dengan cara yang tak lazim itu pun melambangkan suatu kritik sosial terhadap praktik kekuasaan maupun praktik keagamaan pada zamannya. Apa yang ditampilkan dalam kegemerlapan perayaan Natal di mana-mana sesungguhnya merupakan sesuatu yang kontradiktif. Dalam hal ini, Gereja tidak berperan sendirian. Keluarga sebagai basis terkecil Gereja harus menanamkan kesadaran terhadap anggota keluarga untuk tidak terseret bisnis komersial pesta-pesta keagamaan. Anak muda perlu diingatkan bahwa materi bukan inti dari perayaan Natal, sebaliknya menjadi latihan yang menyegarkan bagi kesadaran, motivasi, untuk menciptakan perdamaian. Kalau Gereja tidak mampu menarik masyarakat untuk merenungi makna Natal itu, akibatnya pusat-pusat perbelanjaan yang akan lebih menarik masyarakat. Pesta keagamaan, merupakan pesta kerohanian. Sudah saatnya masing-masing pribadi memeriksa rohani kita sendiri dan motivasi diri. Tetapi, hal ini, dengan perayaan yang gemerlap ini, diserobot oleh materi. Kesadaran baru ini, akan memunculkan keinginan berkorban untuk orang yang berkesusahan melalui bantuan-bantuan yang nyata. Kesadaran itu harus dibangun dari lingkungan anak-anak, membangkitkan kesadaran kepada anak-anak agar lebih menghayati makna Natal, ketimbang pestanya. Yang penting perayaan Natal secara ESENSIAL daripada SENSASIONAL

Theo : Adakah pengalaman atau kesaksian lebih memaknakan masa advent sebagai perjalanan batin kita? 
Gabriel Wujon : Pengalaman dalam keluarga : Di satu sisi, di dalam keluarga dan masyarakat, sering mengikuti perayaan natal, pohon natal, pesta penyalaan lili, yang membutuhkan biaya yang besar.Namun disisi yang lain, anak2 kita sudah melakukan amal kasih kepada sesama dengan mengumpulkan baju2 dan mainan2 bekas untuk disumbangkan kepada saudara2 yang kurang beruntung.
Sr. Yohanika : Bagi saya, dalam Masa Advent ini, adalah KESEMPATAN untuk melihat kembali, flashback, meninjau kembali apa yang sudah kita lakukan di masalampau. Yang buruk ditinggalkan, dan yang baik ditingkatkan, untuk menuju hidup yang lebih baik dalam namaNya.Kemudian, yang saya lakukan yang lain, mengurangi makanan, supaya lebih memaknakan mati raga, dan berbagi rejeki pada yang kurang beruntung. Di lain pihak, pada saat mati raga itu, mendapatkan makna, bahwa doa bukan saja sebagai kegiatan rutin, namun lebih kepada KEBUTUHAN.Dengan mengurangi makanan, saya menjadi lebih peka terhadap dunia sekitar, bahwa dunia sedang banyak masalah, dan lain lain. 


Aksi

Information

5 responses

8 12 2006
Mr. Nunusaku

Satu dalam kasihnya, karena dia datang sebagai firman yang hidup
yang kita harus tetap teguh beriman kepadanya, dan salurkan kasihnya itu bukan hanya dalam golongan kita, kepada musuh kiktapun harus kita praktekan Kasih kritus itu kepada semana manusia barulah kita akan sebut anak-anak didalam Kristus.

Jangan kita hanya sebagai pendengar, pintar berhotbah tentang kasih Kristus, tetapi dalam prakteknya kita nol besar, oleh karena perbuatan kita tidak sesuai dengan ajaran kasih Kristus itu,..maka nama Kristus itu menjadi emohan bagi bagi sdr-sdr kita yang tak beriman pada Kristus.(DARI BUAHNYA KITA MENGENAL SIAPA MEREKA). Shalooom !

2 12 2008
Juls

Suster dan narasumber yang baik.
Saya merasa tergelitik dengan jawaban suster tentang arti kata adven. Kata adven menurut suster berasal dari bahasa latin, adventus yang berarti kedatangan. Saya secara pribadi kurang begitu setuju dengan arti kata adven sebagai kedatangan saja. Saya punya pendapat begini. Menurut saya adven memang benar dari kata adventus tapi yang bukan hanya berarti kedatangan tapi lebih berarti kepada kedatangan atau mendekati “kedatangan”. Saya lebih suka memilah kata adventus menjadi ad dan venire: ad berarti kepada atau menuju, venire datang. Dalam kamus bahasa latin, adventus memiliki beberapa arti: kedatangan, pendekatan, hal mendekati. Melihat konteks perayaan masa adven, yakni masa persiapan menyambut kedatangan atau kelahiran Tuhan Yesus, menurut saya adven lebih cocok kalau diartikan sebagai masa menuju kedatangan atau dengan kata lain masa penantian dimana kita menanti sambil bersiap diri menyambut kelahiran atau kedatangan Tuhan Yesus pada hari raya natal. Jadi adventus mungkin lebih baik kalau tidak hanya diartikan sebagai kedatangan tapi kepada kedatangan (mungkin dalam arti proses sampai datang), menuju kedatangan, mendekati kedatangan, hal mendekati.
Terima kasih. selamat menanti.

6 12 2008
JS. Kamdhi

Adven
masihkah ada makna bila gereja berAC
sejuk-enjoy-hedonis

masihkah ada makna palungan
gua-gembala-kambing-kotoran

adven
kini barang langka-mahal-tak menarik
di tengah dunia jungkir-balik

18 11 2009
Betty

JS. Kamdhi ytk.,

Gedung gereja yang ber-AC jangan dipandang sebagai bentukmencari kesenangan. Lebih baik kita melihat yang positif, manfaat dari AC tersebut.
Demikian juga palungan yang kotor, bukan berarti kita semua harus kotor. Lebih baik kita melihat makna yang mau disampaikan daripada kondisi fisik palungan atau barang lainnya.

18 11 2009
Betty

Terima kasih banyak atas artikel yang dimuat di https://gemawarta.wordpress.com. Artikel ini membantu kami redaksi Berita Jalan Sibolga Pematangsiantar, Keuskupan Agung Medan dalam membuat renungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: