Rumah Retret Bukit Rahmat

15 12 2005

BukitRahmat.JPG

Sudah lewat jam 20.30 ketika kami akhirnya mematikan mesin mobil di depan kapel Rumah Retret Bukit Rahmat. Hari itu, Sabtu tanggal 3 Desember 2005. Bisingnya deru mesin tergantikan oleh kesunyian dan kegelapan yang melingkup ketika kami menjejakkan kaki ke paving block pelataran. Sejauh mata memandang, hanya kegelapan yang terlihat. Kerlip lampu bersinar temaram dari bangunan-bangunan kompleks rumah retret ini. Gonggong anjing dan suara serangga terdengar mengisi senyapnya malam.Rombongan kami saat itu terdiri dari tiga mobil berisikan Silka, Tonny, Ibunda Silka dan Mike, David, Pipit dan Eggy, Lily dan Andrew serta baby sitter Andrew, Theo, Nita, Yenni dan Ipoet. Jalan masuk ke Bukit Rahmat ini sudah lumayan baik – saat kami melewatinya, masih berlangsung proyek pengaspalan jalan. Cukup gampang untuk mencapai Bukit Rahmat ini. Jika dengan kendaraan umum, dari arah Balikpapan, anda tinggal turun di Gapura Purwajaya (Kilometer 5) dilanjutkan dengan ojek menuju Putak. Kalau dari arah Loa Duri, anda tinggal turun di workshop KRS kemudian diteruskan dengan ojek ke Putak.

Kepenatan yang kami rasakan setelah lebih dari tiga jam berkendara dari
Balikpapan serasa sirna ketika kami melihat senyum Suster Hilaria Boliona, MASF yang keluar dari bangunan susteran – Wisma De Raay – dan menyambut kehadiran kami. Setelah berkenalan dengan masing-masing anggota rombongan, Sr. Hilaria mempersilakan kami untuk langsung menuju penginapan yang terletak di bawah kapel untuk membersihkan diri dan memilih kamar masing-masing. Terdapat dua wisma yang digunakan sebagai penginapan – Wisma Sinai dan Wisma Sion – yang mengapit satu bangunan aula yang biasa dipergunakan sebagai tempat acara jika ada kelompok-kelompok yang menginap disini. Aula ini diberi nama Wisma Getsemani. Di balik wisma, masih ada satu bangunan lagi yang biasa digunakan sebagai ruang makan umum.

Kami menempati lima dari delapan kamar yang disediakan suster untuk kami. Kamar sederhana dengan dinding dan lantai kayu, berisikan lima tempat tidur, satu lemari, meja dan kursi. Kebersihan dan kenyamanan terlihat dalam kamar.

Setelah membersihkan diri di kamar mandi – terdapat empat kamar mandi di masing-masing ujung wisma – kami kembali ke susteran. Di ruang makan susteran yang menjadi tempat kami berkumpul malam itu, telah hadir pula Suster Paula Retno Hartati, MASF yang menjadi penanggung jawab Rumah Retret ini. Sambutan yang luar biasa ramah juga kami dapatkan dari Sr. Paula. Beliau selalu mengatakan, “Saya ingin membuat tempat ini sebagai rumah untuk siapa saja. Tempat ini terbuka untuk siapa saja tanpa memandang suku atau agama. Siapapun boleh datang dan akan selalu disambut dengan tangan terbuka”. Dan itulah yang kami rasakan malam itu.

Makan malam sederhana yang telah disiapkan kami santap dengan lahap. Suasana dan keramahan yang kami rasakan membuat kami merasa berada di rumah sendiri. Apa yang disediakan, kami santap tanpa canggung. Dari balik jendela, masih terlihat bekas-bekas dapur dan ruang makan yang terbakar beberapa bulan lalu. Di lokasi yang sama, saat ini sedang diusahakan untuk didirikan bangunan baru dengan bahan dari beton, bukan dari kayu seperti sebelumnya.Sekitar jam 22.00, kami – Nita, Silka, Tonny, saya dan juga Mike yang masih belum mau tidur – memulai tugas yang menjadi tujuan awal kunjungan kami di Rumah Retret Bukit Rahmat ini. Berkumpul di Wisma Tabor yang juga digunakan sebagai kapel, kami mewawancarai kedua suster. Kurang lebih sebulan terakhir sebelum kunjungan kami ini, kami memang telah menghubungi Sr. Paula dan Sr. Hilaria mengenai kesediaan mereka menerima Team Gemawarta dan juga maksud kami untuk mengangkat topik mengenai rumah retret ini.

Pada awalnya, Bukit Rahmat memang sengaja dicari oleh satu team yang beranggotakan tokoh umat dari Paroki Katedral dan seorang suster MASF – Suster Magdalena, MASF – pada tahun 1994. Dari pelbagai usaha dan pertimbangan yang dilakukan, maka dipilihlah Bukit Rahmat ini untuk menjadi lokasi rumah retret. Saat itu sudah ada sek
itar 100 keluarga kristiani yang tinggal di bawah bukit dengan perimbangan 50 keluarga Kristen Protestan dan 50 keluarga Katholik. Pertimbangan lain adalah lokasi yang terletak di perbukitan yang cukup indah dan tenang. Untuk mencapai tempat ini kita harus masuk sejauh 4 kilometer dari jalan utama menuju ke tengah hutan. Ketersediaan air juga menjadi salah satu alasan utama pemilihan lokasi.

Setelah diketemukannya Putak, tahun 1995 Sr. Paula dan Sr. Hendrita, MASF – seorang suster berkebangsaan Belanda – mulai merintis pembangunan rumah retret dengan bersosialisasi dengan warga sekitar.  Setelah selama satu tahun bersosialiasi, pada tahun berikutnya keduanya mulai berkonsentrasi untuk pembangunan di atas bukit. Hal ini pun masih mendapatkan hambatan dengan tidak tersedianya sarana jalan yang memadai. Berbagai usaha dilakukan untuk memperoleh jalan yang terbaik dan tercepat untuk menuju lokasi. Perlu diketahui bahwa Bukit Rahmat masih berupa hutan yang lebat pada saat pembangunan mulai dirintis.

Tahun 1997, rute jalan menuju ke bukit ditemukan. Jalan ini pula yang sampai sekarang masih dipakai. Setelah itu, mulailah lahan dibuka untuk melihat kontur tanah. Lahan awal yang dibuka hanya seluas 4 hektar. Kompleks ini sekarang menempati areal seluas 10 hektar. Pembukaan lahan ini juga dimaksudkan untuk melihat alternatif bangunan apa saja yang mungkin untuk dibangun – lahan ini terdiri dari bukit dan jurang sehingga harus benar-benar dipelajari sebelum pembangunan dimulai. Bangunan pertama yang selesai, tahun 1998, adalah dapur dan ruang makan umum. Dilanjutkan dengan pembangunan 2 buah paviliun untuk penginapan dan aula yang selesai pada tahun berikutnya.

Gua Maria yang ada di kompleks ini dibangun beriringan dengan pembangunan berbagai fasilitas rumah retret dan diresmikan pada tahun 2000. Pembangunan kapel dimulai pada tahun 2001 dan memakan waktu yang cukup lama. Dibangun juga biara dan beberapa bangunan kecil yang mendukung operasional Rumah Retret. Pada April 2003, kapel diresmikan oleh Bapak Uskup Mgr. Sului Florentinus, MSF dan Bapak Drs. Yurnalis Ngayoh selaku Wakil Gubernur Kalimantan Timur.

Walaupun masih dalam taraf pembangunan, sejak awal didirikannya sampai sekarang, kompleks ini selalu digunakan silih berganti oleh berbagai kelompok dari berbagai kalangan dan berbagai latar belakang. Fasilitas seadanya tidak menghalangi mereka untuk menggunakan tempat ini. Dengan semakin bertambahnya fasilitas yang ada di kompleks ini semakin bertambah pula mereka yang berminat menggunakannya.

Sampai saat ini, tersedia tempat tidur untuk 80 orang terbagi dalam 16 kamar di dua wisma, aula yang dengan kapasitas 200 orang, demikian pula dengan kapel yang bisa digunakan untuk 200 orang. Listrik menggunakan listrik dari PLN dan juga dari generator jika ada masalah dari PLN. Air yang sempat menjadi masalah sekarang tidak lagi bermasalah dengan penambahan satu mata air sejak kurang lebih dua tahun yang lalu. Adanya dua mata air dan juga penambahan jumlah tandon air di tiap bangunan ini mencukupi kebutuhan rumah retret akan air.

Pada awalnya, pendirian tempat ini dimaksudkan sebagai pusat pengembangan dan pembinaan rohani umat Katholik di keuskupan Samarinda yang saat itu memang memerlukan tempat seperti ini. Namun pada akhirnya dibuka lebar dan seluas-luasnya bagi siapa saja, tanpa memandang suku, agama atau siapa mereka yang datang dan ingin mendekatkan diri dengan Tuhan melalui alam. Dan itulah yang sekarang terjadi. Kalangan gereja Kristen, umat Buddha, Muslim, juga ikut memanfaatkan Bukit Rahmat ini.

Rumah retret ini, selain digunakan oleh umat Katolik maupun Kristen untuk retret, juga digunakan oleh berbagai LSM dan perusahaan untuk lokakarya atau training. Camping Rohani atau Bible Camp juga sering dilakukan disini. Beberapa keluarga juga tercatat pernah menginap di Bukit Rahmat ini. Suster-suster yang bertugas juga akan dengan senang hati memberi pembinaan dan bimbingan rohani bagi siapa saja yang datang. Hanya saja, hal ini belum banyak diketahui oleh mereka yang menggunakannya selama ini.
Para suster tidak sendirian dalam mengelola rumah retret ini. Sr. Hilaria yang bertanggung jawab atas pengelolaan rumah retret ini mengatakan bahwa para suster yang bekerja di Bukit Rahmat ini dibantu oleh para karyawan dan anak asuh. Karyawan-karyawan ini mengerjakan proyek pengembangan Bukit Rahmat yang masih berjalan dan juga membantu kebersihan lingkungan di rumah retret ini. Anak asuh adalah anak-anak yang tinggal di kampung sekitar yang mayoritas berasal dari suku Dayak dan beragama Kristen dengan rentang usia SD – SMA. Tujuan dari program anak asuh ini adalah untuk memberi pembinaan mental spiritual, memberi pengalaman bekerja, mengajarkan disiplin selain membantu dalam hal dana. Anak asuh ini bertugas merumput, bersih-bersih, bercocok tanam untuk kemudian hasilnya dijual di kota. Sr. Hilaria dalam hal ini berperan sebagai koordinator para karyawan dan anak asuh.

Di Rumah retret ini, hanya ada 3 orang suster yang bertugas, kesemuanya dari kongegrasi MASF. Sr. Paula yang bertanggung jawab atas proyek pembangunan rumah retret, Sr. Hilaria yang bertugas sebagai Humas dan Sr. Yasintha yang mengurus rumah tangga susteran dan rumah retret ini.

Prinsip keterbukaan yang sejak awal diperlihatkan oleh Sr. Paula memperoleh hasilnya. Dalam hubungan sosial dengan masyarakat, dirasakan tidak pernah ada masalah. Namun demikian, para suster lebih berkonsentrasi pada dunia anak yang tinggal di sekitar rumah retret. Ini jelas terlihat dengan adanya program anak asuh. Pelayanan pastoral dan kemasyarakatan juga dilakukan para suster kepada masyarakat sekitar. Kedekatan para suster dengan RS Dirgahayu memungkinkan mereka untuk juga melakukan pelayanan kesehatan. Sr. Paula berharap pada pertengahan tahun 2006, sudah dapat mulai menjalin relasi dengan beberapa kelompok untuk membuat suatu program bersama untuk umat keuskupan.

Tradisi tahunan yang selama ini dilakukan adalah mengadakan bazaar dan pasar murah yang didukung juga oleh SDK St. Theresia dan SMPK St. Mikail Balikpapan sebagai sponsor tetap. Tak jarang, murid SMPK St. Mikail ikut terjun langsung dalam acara bazaar dan pasar murah ini. Hasil pasar murah yang didapat disumbangkan kembali kepada mereka yang tidak mampu dan dibagikan bergantian – tidak kepada satu orang atau stasi saja. Bincang-bincang kami berakhir selewat jam 23.30. Setelah berfoto bersama, Sr. Paula berpamitan dan kembali ke gereja yang terletak di kampung di bawah bukit. Sr. Hilaria kembali ke susteran dan kami kembali ke penginapan kami. Nyatanya, sudah lewat jam 2 dini hari ketika kami akhirnya beranjak ke tempat tidur. Suasana yang berbeda membuat kami dapat menahan kantuk dan rasa capek.

Paginya, kami menyempatkan diri berpamitan dengan Sr. Hilaria sebelum beliau berangkat untuk memberi pelayanan ke salah satu stasi. Sr. Paula sudah berangkat ke Hulu subuh tadi untuk menghadiri peresmian gereja.

Setelah menikmati sarapan dan beres-beres, kami menyempatkan diri memutari jalan salib yang ada di kompleks ini. Rute jalan salib ini berawal di depan kapel dan berakhir di Gua Maria dimana kami masing-masing berdoa untuk ujud kami masing-masing. Di seberang Gua Maria, ada satu bangunan lagi yang masih dalam taraf penyelesaian. Bangunan kayu itu nantinya akan diperuntukkan sebagai wisma keluarga. Walaupun belum selesai, kami sudah dapat melihat keanggunan dan kedamaian yang terpancar darinya.

Kami juga mampir ke workshop dengan didampingi Sr. Yasintha. Setelah membeli berbagai macam pernik yang ada, kamipun berpamitan dengan Sr. Yasintha dan melanjutkan perjalanan kami menuju Samarinda untuk kemudian kembali ke Balikpapan.

Inilah yang kami rasakan, limpahan rahmat yang mengalir membagikan kasih kepada sesama, kepada mereka yang membutuhkan uluran kasih terpancar jelas dari keramahan wajah para suster yang ada disini. Dan semoga, sesuai dengan namanya, Bukit Rahmat akan tetap menjadi tempat untuk menimba rahmat Tuhan.

Alamat Surat-menyurat:
Sr. Paula, MASF           
d/a. Susteran MASF           
PO BOX 1062
Samarinda

Nomor Kontak Rumah Retret Bukit Rahmat:           
Sr. Paula:          0541-707-6360 (Senin dan Kamis)           
Sr. Hilaria:         0813-4747-7311

Biaya:           
Anak sekolah                 Rp. 50.000,-           
Dewasa/profesional       
Rp. 65.000,- (menu sederhana)                                               
Rp. 75.000,- (menu standar – menengah)                                               
Rp. 100.000,- (menu istimewa)

Masing-masing biaya adalah untuk hitungan per orang per hari.

Sistem yang digunakan adalah all-in.

Booking diharapkan dapat dilakukan 2 bulan sebelum hari penyelenggaraan acara, dengan memberikan uang muka sebesar 25% dari total biaya. (-atseputro-)

BukitRahmat2.JPG


Aksi

Information

9 responses

7 06 2006
A. Eddy Irwanto

Sebuah tempat yang akan memberi ‘kesegaran’ bagi mereka yang ‘letih’ , ‘lesu’ dan ‘berbeban berat’.

Sebuah tempat yang sangat mendukung bagi mereka yang ingin sejenak menengok kebelakang untuk meniti kembali perjalanan hidupnya selama ini agar dapat mengisi masa depannya dengan kehidupan yang lebih berarti.

Namun sayang sekali bahwa tempat yang begitu indah dan bagus kurang dimanfaatkan secara maksimal oleh umat Katolik di Balikpapan. Mungkin promosi untuk tempat retreat itu perlu ditambah porsinya agar dapat diketahui lebih banyak oleh masyarakat Katolik di Kaltim pada umumnya dan Balikpapan pada khususnya.
Sudah sekitar 6 tahun saya tinggal di Balikpapan. Dan kalau saya tidak keliru, rasanya belum pernah lihat/dengar ada promosi kegiatan2 seperti: retreat, termasuk juga doa novena bagi umat Katolik di Balikpapan. Mohon maaf kalau saya telah salah menilai.

Mungkin sudah banyak umat Katolik mendengar kata ‘retret’. Tapi bisa saja belum banyak umat katolik yang tahu apa sebenarnya retret itu? dan apa kegunaan dari retret itu bagi kehidupan rohani seseorang?

Disamping itu, pihak gereja (seksi diakonia) juga mesti mulai memasukkan kemungkinan2 untuk mengadakan event2 retreat kedalam program kerja tahunannya. Syukur2 bisa sedikit lebih sering. Karena percuma saja ada tempat dan peminatnya kalau event nya tidak ada.
Terimakasih.

16 11 2006
hendra

saya mohon informasi tentang gua Maria bukit rahmat, mungkin bisa memberi informasi tambahan. Bulan depan saya balikpapan jika ada kesempatan saya meninjau gua Maria ini sekaligus menuliskannya kedalam situs saya, ada yg bisa memberi masukan bagaimana cara mencapainy

22 11 2006
gemawarta

Kalau dari Balikpapan mengarah ke Samarinda/Tenggarong melewati Loa Janan. Sampai di simpang Loa Janan belok kiri menuju arah Tenggarong (kalau ke kanan ke Samarinda) menyusuri tepi Sungai Mahakam. Sekitar 1 km dari simpang Loa Janan tersebut ada persimpangan kecil ke kiri menuju ke Loa Duri. Sekitar 4 km dari persimpangan itu terdapat Dusun Putak, dan di sana terdapat Rumah Retret dan Gua Maria Bukit ahmat – Putak. Foto-foto lokasi tersebut juga terdapat di Photo Album kami di Flickr, bisa dilihat di kolom kanan halaman ini. Terima kasih.

1 02 2007
Jesicha

tempat yang saya akan kenang selalu..
disini aku ikut bible camp IX..

satu kata yang terucap “SERU!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

saya mohon info tentang bukit rahmat serta foto-fotonya,
sehingga bisa di downland..

terimakasih

23 07 2007
Christie

tempat yang tenang,rindang,n religius banget…
seneng banget bisa kumpul sama temen2,suster paula n suster hilari saat retret kls 3 kmrin…

moga putak berkembang menjadi lebih baik…
GBU,thx…

17 09 2007
Peni Mindarwasih

Sr. Paula, saya pengen retret ke Bukit Rahmat tapi kalau dari Jakarta kog mahalan diongkos ya. Sukses selalu.

8 07 2008
Meyta

Bukti Rahmat… tempat yang sangat pas dan oke banget untuk Retreat.. saya udah sering ikut retreat dan acara kerohanian di sana.. asyik banget dech pokoknya…

thx
GBU all

30 10 2008
Theo

Luar Biasa….

kata yang tersirat saat saya membaca artikel ini,
saya tinggal di palembang dan masih kuliah,

sekedar sharing di palembang rumah retret pun menjadi sarana pembelajaran dan pembekalan untuk kaum muda katolik khususnya, kami diajarkan untuk memberikan pendampingan, rekoleksi, retret, bahkan pembentukan mental dan kepemimpinan.

sekarang sudah banyak anak muda yang peduli dan secara berkala ikut bergabung di sana, dan selalu disambut baik olek kakak-kakak senior kami yg baik hati (pastor dan suster yang berjiwa muda walau udah tua hehe…)

Viva cor Jesu…

8 09 2010
dedy

Tempat yang menarik buat acara-acara penyegaran jasmani dan rohani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: