Peran Ibu dalam Kehidupan Rohani Katolik

22 12 2005

Narasumber: Suster Marta, MASF dan Ibu Mey Host: Maria Paskanita dan Carolline Silka

MaryinGarden.JPGPada hari ini, 22 Desember, kita memperingati hari ibu. Ibu, mempunyai peran penting dalam perkembangan jiwa seorang anak dan kehidupan rohani keluarga. Kita  sadari, bukan hal yang mudah untuk dapat mendidik , mengurus keluarga dan juga aktif bekerja atau aktif di dalam kegiatan gereja & masyarakat.Nita : Seperti apakah peran wanita pada masa lalu, terutama pada Kitab Suci perjanjian Lama. Apakah situasi saat itu sudah mendukung peran aktif wanita?
Sr. Marta:  Peran & kehidupan wanita pada masa Yahudi masih belum begitu nampak , ini nampak pada

  • Anak Pria masih diagungkan dibanding anak wanita
  • Peran wanita belum terlalu nampak kegiatan agama

Nita :  Dari gambaran di atas, dapat disimpulkan bahwa Wanita masih belum diberi tempat maupun penghargaan yang baik  pada masa Yahudi. Apakah hal ini juga masih berlanjut, terutama disaat Yesus mulai mewartakan Kabar Gembira?
Sr  Marta: Tentunya berbeda, pada masa pewartaan Yesus, Yesus sudah menunjukkan penghargaan terhadap peranan wanita

Nita: Tentunya ini merupakan kabar gembira bahwa Yesus sendiri memberikan peran yang cukup penting dalam karya pewartaannya. Tadi kita telah mendengar peran wanita dalam Kitab Suci Perjanjian Lama dan pada masa Yesus. Namun apakah pandangan ini masih  kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan rohani maupun masyarakat? Ibu Mei mungkin bisa menggambarkan, dengan pengalaman Ibu yang pernah bekerja dalam perusahaan PMA dan aktif dalam kegiatan Gereja dan Masyarakat?
Ibu Mei:Dapat saya gambarkan bahwa pada hampir semua daerah, peran wanita masih dinomor duakan, karena kebanyakan adat di Indonesia masih menganut budaya patriakial. Namun semakin lama, ada perubahan yang lebih baik dalam menghargai peran wanita dalam kehidupan rohani dan kehidupan masyarakat.

Silka :  Dalam doktrin Katolik, peran & keterlibatan wanita dalam pelaksanaan Rencana Allah nampak dalam diri Santa Perawan Maria.  Mengapa kehadiran Yesus perlu diwujudkan dalam proses kelahiran dari seorang wanita?
Sr. Marta: Proses kehadiran Yesus Tuhan kita melalui perantaraan wanita dalam proses kelahiran, mau menunjukkan bahwa Yesus benar–benar Allah dan benar-benar manusia.  

Silka :  Lalu, mengapa Santa Perawan Maria yang terpilih menjadi Ibu bagi Yesus dibandingkan dengan wanita lain?
Sr. Marta: Alasan SP Maria dipilih menjadi Ibu Yesus, dikarenakan oleh Iman Maria  dan juga karena Iman kedua Orang tua Maria, yaitu St Anna dan Yoakim

Silka: Dalam proses selanjutnya, setelah kelahiran Yesus, keluarga kudus harus mengungsi ke Mesir  untuk menghindari pengejaran & pembunuhan terhadap anak lelaki yang baru dilahirkan oleh Herodes. Dari peristiwa ini, nilai rohani apa yang dapat kita ambil?
Sr. Marta:
Dalam perenungan, kita dapat membayangkan bagaimana sebuah keluarga muda harus mengungsi ketempat yang jauh tanpa sanak saudara. Maria sebagai seorang Ibu tentu mengalami

  • Kedekatan seorang Ibu terhadap anaknya
  • Kepasrahan Maria terhadap campur tangan Tuhan dalam kehidupan  

Nita: Sebagai orang Katolik, kita mempunyai figur Santa Perawan Maria sebagai panutan dalam mengarungi kehidupan sehari-hari. Dalam perannya sebagai Ibu dalam mendidik dan mendampingi Yesus, peristiwa apa saja yang mempunyai nilai-nilai yang dapat kita teladani sebagai seorang wanita atau ibu?
Sr. Marta:

  1. Peristiwa dimana Yesus yang berusia 12 tahun tertinggal di Bait Allah di Yerusalem. Ketika kedua orang tua Yesus datan untuk menjemput-Nya, kemudian Yesus berkata“Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Disini ada permenungan, kita sebagai seorang ibu dalam mengasuh anak yaitu: apa yang direncanakan oleh Allah bagi anak-anak kita.
  2. Peristiwa pesta perkawinan di Kana dimana mempelai kehabisan Anggur, Santa Perawan Maria menunjukkan kepedulian sosial dimana ia ingin membantu yang berkesusahan (dari rasa malu) dan mememerintahkan orang di situ untuk melakukan kata-kata Yesus dan Maria menunjukkan bahwa kita harus mempercayai kata-kata perintah Yesus walaupun itu di luar akal dan logika manusia
  3. Ketika Kristus wafat di salib, berdiri di sana Bunda-Nya, Maria, dan St. Yohanes Rasul; Yesus berkata kepada Maria, “Ibu, inilah, anakmu!” mempercayakan bunda-Nya yang janda ke dalam pemeliharaan St. Yohanes; dan kepada St. Yohanes, “Inilah ibumu!” (Yoh 19:26-27).

Silka:   Tetapi dari beberapa gambaran tadi, masih ada kejadian yang mengandung penderitaan, padahal sewaktu malaikat Gabriel mewartakan kabar kepada Maria, hal itu merupakan suatu kabar gembira.
Sr. Marta:  Hal ini sudah diramalkan oleh Simeon & Hanna sewaktu  Yesus dipersembahkan kepada Allah. Simeon mengatakan bahwa hati Maria akan ditusuk-tusuk sebilah pedang dalam mendampingi Putranya.


Aksi

Information

One response

22 06 2007
Lucas Nasution

Sayang komentar Ibu Mei tidak dibahas lebih jauh
peran Ibu (judulnya) tapi yang banyak angkat suara justru suster yang bukan itu
komentar saya basi (memang)
tapi supaya noted saja bahwa justru disini kelemahan dan kekuatan gereja- jika kaum ibu/wanita digerakkan
alangkah berbedanya gereja Katolik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: