Rahasia Natal

8 07 2006

oleh: David Constantiyn

Keluarga KudusSetiap Natal tiba, sukacita besar meliputi seluruh dunia. Suasana liburan mulai terasa dimana-mana. Lagu-lagu Natal diperdengarkan begitu merdu. Pohon-pohon Natal, lampu-lampu dan pernak-pernik Natal dipasang dimana-mana. Orang-orang begitu bersemangatnya mempersiapkan segala sesuatu, kue-kue, baju-baju, dan hadiah-hadiah. Wah, begitu meriahnya.           

Semuanya itu baik. Sama sekali tidak salah. Tapi semoga saja makna terutama Natal tetap menjadi yang terutama di atas segala kemeriahan itu.           

Semoga kita masih menyadari apa yang sesungguhnya dirayakan saat Natal. Hai jiwa kita, masih sadarkah engkau akan apa yang terjadi saat Natal? 

Misteri Yang Agung           
Suatu misteri besar yang sungguh agung dan dahsyat terjadi :  “Firman Allah” yang adalah Allah sendiri menjelma menjadi manusia seutuhnya, namun “Zat Allah” dan “Roh”-Nya sekaligus juga tetap berkuasa dalam Surga. Jadi melalui peristiwa Natal ini, dan setelah peristiwa Natal ini, Allah tidak saja berkuasa dalam wujud yang tak terlihat (Roh Allah, Roh Kudus)(Kej 1:2 & 2 Kor 3:17), tapi Beliau juga telah dapat kita lihat dan temui secara terlihat yaitu Yesus Kristus. (Yoh 1:1-18; 1 Tim 3:16).
            Misteri ini begitu besarnya, sehingga sampai saat ini, tidak semua orang di dunia dapat menerimanya. Semua ini membutuhkan rahmat dari Allah sendiri, sehingga sungguh beruntunglah orang-orang yang telah menerimanya dan menjadi pengikut Kristus. (Mat 7:14; Yoh 6:44&65; Yoh 15:16) 

Alasan Kelahiran Kristus           
Tidak sedikit orang yang menolak rahasia ini. Mereka tidak mengerti bagaimana mungkin Allah Yang Mahakuasa itu mau menjadi manusia biasa, yang lahir di kandang domba, hidup sederhana, mengalami suka duka kehidupan manusia, bahkan wafat di kayu salib. Sungguh mengherankan. 
           

Saudara-saudara, kalau kita hendak menyelami lebih lagi, sungguh, Allah melakukan semuanya ini dikarenakan satu alasan, yaitu Cinta. Sungguh, Allah sendiri adalah kasih (1 Yoh 4:8), kasih yang tak terselami, kasih yang bahkan tidak dapat dimengerti oleh akal pikiran manusia sendiri. Di antara semua makhluk yang telah diciptakan-Nya, Allah paling mengasihi manusia. Diberi oleh-Nya manusia-manusia ciptaan-Nya bentuk yang paling indah dan sempurna, kehendak bebas, akal budi, kuasa dan citra-Nya. Setiap manusia tanpa terkecuali adalah indah dan berharga di mata-Nya. Karena kasih-Nya yang tersangat kepada manusia, sehingga Ia memberikan diri-Nya sendiri, yaitu Yesus Kristus, agar manusia memperoleh selamat, dan memilikinya secara penuh dan melimpah  (Yoh 3:14-18,35-36; Yoh 5:21-24; Yoh 6:39-40; Yoh 11:25-26; Rm 5:9; Rm 8:1; 1 Tes 5:9).           

Ia Tuhan yang penuh kuasa sekaligus penuh kasih,  ingin tinggal di tengah-tengah umat-Nya, karena Ia ingin meraja di dalam hati manusia (1 Kor 3:16 & 1 Kor 6:19). Ia ingin selalu bersama umat-Nya (Yoh 17:24). Dan hal itu tidak mungkin terwujud kalau Allah mendatangi manusia berdosa dalam wujud keallahan-Nya yang sesungguhnya.  Allah adalah Mahakudus (Im 19:2). Manusia adalah makhluk lemah yang berdosa. Hal ini menyebabkan manusia tidak mungkin dapat berhadapan langsung berhadapan dengan Allah dalam wujud-Nya yang sesungguh-Nya (Kel 19:21-25). Manusia tidak akan kuat. Manusia akan mati seketika itu juga. Kedahsyatan Allah ini lah yang menyebabkan Nabi Musa menutup wajahnya ketika bertemu dengan Allah di gunung Horeb (Kel 3:6-7). Ingat pula pasukan-pasukan yang terjatuh ketika bertemu dengan Yesus di taman Getsemani (Yoh 18:6). Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika berhadapan langsung dengan “Zat Allah” sesungguhnya di Surga.            

Karena kasih-Nya yang teramat besar, Ia mau dan rela menjadi manusia. Ia ikut merasakan setiap fase-fase kehidupan manusia, mulai dari dalam kandungan, bayi, kanak-kanak, remaja dan dewasa. Ia yang adalah Allah, telah merasakan suka duka kehidupan kita manusia. Ia juga pernah mengalami dimusuhi, ditinggalkan, difitnah, segala yang buruk ditimpakan kepada-Nya. Dengan demikian, tidak ada alasan lagi bagi kita manusia berkeluh kesah bahwa Allah tidak mengerti. Tidak saudara. Allah sungguh mengerti setiap kesulitan kita, bukan hanya karena Ia Mahamengetahui, tapi lebih dari itu Ia telah merasakannya 2000 tahun yang lalu (Ibr 2:14-18). Karena itu, setiap segi dalam kehidupan manusia dikuduskan, sehingga manusia dapat menemukan kekudusan dan mencapai kekudusan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Sesederhana apapun itu, tapi dengan syarat : Mau menjalaninya karena cinta kepada Allah, seperti yang Yesus teladankan kepada kita.           

Dengan demikian, Yesus menjadi contoh yang sempurna seorang manusia. Jadi jangan pernah bertanya “kalau Yesus adalah Tuhan, kenapa Ia berdoa?”. Jawabannya sederhana sekali : karena memang salah satu misi—Nya di dunia ini adalah menjadi teladan bagaimana seharusnya manusia hidup di dunia. Logikanya : bagaimana cara untuk hidup berkenan di hadapan Allah, tentu hanya Allah sendiri yang mengetahui sehingga tentu saja Allah sendiri juga yang paling pantas mencontohkannya. Oleh karenanya, Yesus Kristus benar-benar Kitab Suci Yang Hidup. Ingin tahu bagaimana hidup benar di hadapan Allah? Carilah jawabannya pada Yesus. Pasti benar.           

Secara tradisional, gereja dan kitab suci mengajarkan bahwa Yesus Kristus datang untuk menebus manusia dari dosa-dosanya. Lalu manusia dalam kelemahannya tergoda untuk bertanya “Allah Mahakuasa. Jika benar demikian mengapa perlu Ia menjadi manusia dan wafat disalib? Padahal seharusnya hanya dengan berkata saja, Ia mampu menghapus segala dosa.” Ya, hanya dengan berkata saja, Allah mampu menghapus dosa. Itu adalah benar. Sama sekali tidak salah. Tapi harus diingat bahwa Allah itu Mahapengasih tapi sekaligus juga Maha Adil. Kedua sifat itu tidak bisa dipisahkan. Karena kasih-Nya, Allah pasti mengampuni dosa-dosa yang Anda mintakan ampun. Tapi tidak selesai di situ. Keadilan-Nya menuntut suatu kurban penebus, dan hal itu (karena kasih-Nya) ditimpakan pada diri Yesus (Yoh 1:36; 1 Kor 5:7b). Kurban binatang tidak mungkin menebus dosa. Hanya Allah yang bisa menebus dosa, tapi Ia memerlukan kurban, maka jadilah Yesus Tuhan mengurbankan diri-Nya. Karena kurban penebus yaitu Yesus adalah Allah sendiri, kurban itu menebus dosa. (2 Kor 5:21; 1 Yoh 1:9c & 1 Yoh 2:2) 

Tanggapan Kita           
Sekarang semuanya diserahkan kepada kita manusia. Apakah mau menerimanya atau menolaknya. Allah sangat mengasihi manusia sehingga Ia menghormati kehendak bebas manusia. Manusia dapat memilih secara bebas apakah ia mau menerimanya atau tidak. 
           

Ayo, ingatlah terus misteri ini. Cintailah Yesus. Sayangilah Ia dengan menjadi orang Kristiani yang baik. (Rm 13:11-12) Bukalah hati kita selebar-lebarnya bagi Allah (2 Kor 6:13) dengan mulai bertobat (2 Kor 7:1), berbuat kebaikan lebih banyak (2 Kor 6:9; Yak 2:24) dan membangkitkan kembali hidup doa yang berkobar-kobar di hadapan Allah dengan tak kunjung henti (1 Tes 5:17). Ayo, mulailah hidup sebagai anak-anak terang (Ef 5:8). Pergunakanlah waktu yang terbatas dalam hidup kita ini dengan sungguh-sungguh (Ef 5:16 & 2 Ptr 3:15).           

Bunda suci Maria merenungkan dan menyimpan peristiwa ini dalam hatinya ketika Yesus datang ke dunia. (Luk 2:19)           

Dalam suatu buku berjudul “Rahasia Jiwa-jiwa di Api Penyucian” yang sempat terkenal di Jakarta, dikisahkan di situ Maria Simma, seorang wanita Eropa yang mempunyai karunia khusus melihat dan berbicara dengan jiwa-jiwa dari Api Penyucian, berkata bahwa sangat banyak jiwa-jiwa yang dilepaskan dari Api Penyucian pada hari-hari raya tertentu, salah satunya yang terbanyak adalah pada saat Natal.           

Dalam suatu buku Islam tulisan Abduh Al-Maghawiri dikisahkan suatu cerita tua di kalangan umat Islam yang menceritakan bahwa pada saat Yesus Tuhan lahir di dunia, terjadi kegemparan dan ketakutan besar di seluruh neraka.           

Ada juga suatu cerita kuno yang menceritakan bahwa pada saat Yesus bersama kedua orang tuanya menuju Mesir dalam rangka pengungsian, terjadi gempa besar di seluruh Mesir. Berhala-berhala bergetar dan bahkan runtuh, karena konon dewa-dewa itu mengetahui bahwa “Dewa Yang Benar” yaitu Allah sendiri lah yang datang.             

Nah, jika jiwa-jiwa di Api Penyucian mengetahui sungguh bahwa Natal adalah istimewa, jika kuasa-kuasa neraka bergetar karena peristiwa ini, bahkan dewa-dewa Mesir pun bergetar karenanya, bagaimana tanggapan kita terhadap peristiwa ini? Cuek-cuek saja? Menganggap hanya biasa-biasa saja? Atau mau semakin mencintai Yesus dan menjadi pengikut-Nya yang baik dan setia? Semoga pada saat Natal kedatangan Tuhan, Anda sudah memiliki jawabannya.

David Constantiyn adalah host Gema Warta. Tulisan ini pernah dimuat di Sinar-X, buletin internal Paroki Santo Petrus dan Paulus, Dahor-Balikpapan

Iklan

Aksi

Information

2 responses

9 07 2008
Emelia

Sungguh luar biasa bagi saya hari ini setelah membaca artikel ini,alasannya walaupun saya beragama katolik asli namun kadang2 saya ragu.Tapi keraguan saya bukan dari hati semata, tapi karna kadang2 logika n pikiran kita bertanya apakah agama yang saya tekuni ini memang benar2 dapat menjamin untuk saya terutama masalah batin.Karena kita memilih agama untuk meyakini dan mempercayai dan mengimaninya.Beberapa hari ini saya telah membuka sebuah kaset CD yang berjudul Apakah Yesus Tuhan ? yang di dalamnya berisi perdebatan antara muslim n kristen.Muslim tdk terima secara akal logika kalau Yesus adalah Tuhan,karena Yesus pernah hidup,makan minum,tidur dsb,seprti manusia biasa.Apalagi kalau mendengar kata Bapak,Putra n Rohkudus (Tritunggal) mereka tdk terima.Tapi dgn membaca artikel ini puji Tuhan Saya makin Yakin bahwa Yesus anak Allah,Tuhan yang menjelma menjadi manusia.Saya pikir Orang muslim tdk ngerti msalah tersbut itu karena mereka tdk mengerti dan memahami isi dari kitab suci.Jadi dgn ber bekal informasi yang saya dapat dari artikel ini saya punya bekal untuk menjawab pertanyaan dari teman2 saya yg kbanyakan muslim……….Trim’s Semoga iman kita makin diperteguh Amin.

9 07 2008
Emelia

Mungkin dikarenakan Saya kurang membaca isi kitab suci dan jarang ikut kegiatan gereja, jadi pengetahuan saya tentang agama masih sangat kurang. Jadi saran saya kepada pihak Narasumber Gema Warta menambah lebih banyak lagi artikel2 yang berkaitan dengan pola pendalaman iman……………..terutama tentang isi dan makna2 dari isi kitab suci.Mudah2an banyak lagi orang kristen katolik yang sadar akan ke2liruan mereka, dan tidakl mudah goyah dengan isi isu2 atau ocehan media massa………..Jangan ragu Roh kudus akan selalu membimbing kita ke jalannya……….Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: