Mengenal Marriage Encounter (ME)

23 10 2006

Narasumber: Pastor Nicholaus Setija, OMI dan PaSuTri Jimmy & Jenny Yapianto (Koordinator ME). Host: Pipit & Dias.

Pipit:
Pastor Niko, bisa dijelaskan sedikit tentang apa itu ME?

Pastor Niko:
Marriage Encounter atau yang sering disingkat ME adalah sebuah gerakan dari Gereja Katolik Roma untuk pasangan suami istri. Lebih jelasnya adalah sebuah program yang diberikan setiap akhir minggu dimana para pasutri mendapat kesempatan untuk melatih teknik berkomunikasi dengan kasih yang dapat mereka gunakan sampai akhir hayat. Hal tersebut adalah sebuah kesempatan untuk dapat melihat jauh ke dasar hubungan mereka dengan satu sama lain, dan juga hubungan mereka dengan Tuhan. Jadi merupakan saat untuk berbagi perasaan, harapan dan mimpi-mimpi dari satu sama lain.

Penekanan pada weekend Marriage Encounter adalah pada komunikasi antara suami dan istri. Weekend tersebut memberikan suasana yang kondusif bagi pasutri untuk menghabiskan waktu bersama, jauh dari gangguan dan tekanan dari kehidupan sehari-hari, sekaligus mendukung mereka untuk memusatkan perhatian pada satu sama lain dan hubungan mereka.

Pipit:
Sebenarnya apa sih intisari ajaran gereja yang menjadi dasar dari ME, sehingga Gereja Katolik merasa perlu untuk memfasilitasi Marriage Encounter ini?

Pastor Niko:
Intinya ada dua:
1.      Kemanunggalan.

Dalam Kitab Kejadian 2:24 tertulis : “Sebab itu seorang laki-laki akan meniggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”. Terjamahan dari bahasa Ibrani menjadi ‘satu daging’ nampaknya secara harafiah, yang dimaksud sebenarnya ‘menjadi satu secara total’, ‘menjadi satu jiwa raganya’ jadi yang dikehendaki Tuhan bukanlah hanya pasangan suami-istri yang seragam, yang dua-duanya memiliki sifat-sifat dan kecenderungan yang sama. Juga bukan hanya pasangan yang harmonis, yang rukun-rukun, yang saling mengisi karena besar rasa toleransinya yang satu dengan yang lain. Yang dikehendaki Tuhan adalah kemanunggalan dari suami dan istri. Mereka bukan lagi dua melainkan satu! Satu secara total, satu jiwa raganya! Namun, mereka adalah dua insan yang berbeda jenis, yang satu wanita yang lain pria, yang mempunyai sifat-sifat dan kecenderungan berbeda karena perbedaan jenis itu. Belum lagi perbedaan-perbedaan yang disebabkan pohon keluarga yang berbeda, karena berlainan lingkungan, berlainan pendidikan dan lain sebagainya. Perbedaan yang mungkin merupakan kendala bagi tercapainya usaha kemanunggalan. Maka perbedaan-perbedaan yang menghambat atau menghalangi kemanunggalan itu perlu dihilangkan, setidak-tidaknya dikurangi. Artinya perlu adanya perubahan. Dan cara yang paling tepat untuk mengadakan perubahan itu bukan dengan mengubah pasangan — suatu tindakan yang biasanya mengakibatkan timbulnya ketegangan — tetapi dengan masing-masing mengubah diri sendiri, atas dasar kesadaran. Untuk mengetahui apa yang perlu diubah dari sifat-sifat dan kebiasaan-kebiasaan kita, diperlukan sikap keterbukaan. Keterbukaan yang dua arah, terbuka untuk menerima berarti kesediaan untuk mendengarkan dengan telinga, mendengarkan dengan mata, mendengarkan dengan tangan, mendengarkan dengan hati. Terbuka untuk menerima pasangan apa adanya. Terbuka untuk memberi, berarti bersedia untuk mengungkapkan dengan verbal maupun non-verbal yang dipikirkan dan dirasakan, mengungkapkan isi otaknya dan isi hatinya. Dan untuk bisa mendengarkan dan mengungkapkan dengan baik itu oleh Marriage Encounter telah diciptakan sarana yang kita kenal dengan nama dialog suami-istri. Jika dialog dalam arti umum adalah pengungkapan pendapat yang akhirnya sampai kepada satu kompromi yang dapat dilaksanakan, maka dialog suami-istri adalah pengungkapan perasaan-perasaan yang memperdalam pengenalan kita pada diri sendiri dan satu sama lain sebagai dasar untuk mengadakan perubahan-perubahan pada diri sendiri masing-masing dalam suasana relasi yang akrab dan bertanggung jawab, melapangkan jalan menuju kemanunggalan. 

2.      Pembaharuan Sakramen Perkawinan dan Sakramen Imamat.

Kalau panggilan untuk ‘manunggal’ berlaku bagi semua pasangan suami-istri, maka mereka yang pada waktu melangsungkan perkawinan sudah dibaptis menurut agama Katolik dan dengan demikian saling menerimakan Sakramen Perkawinan, mempunyai panggilan kedua sebagai Pasutri Sakramental, yakni menjadi tanda, menjadi pantulan cinta kasih Kristus. Maka sikap, tingkah laku, tindakan dan ucapan Pasutri Sakramental harus senantiasa menunjukkan sakramentalitasnya, harus selalu dijiwai cinta kasih Kristus. Begitu pula mereka yang mendapat panggilan untuk menerima Sakramen Imamat berkewajiban menyelaraskan segala sikap, tingkah laku, tindakan dan ucapan mereka dengan jiwa cinta kasih Kristus. Kedua Sakramen ini, Sakramen Perkawinan dan Sakramen Imamat, memang mempunyai persamaan; para penyandangnya, dalam kehidupan sehari-hari berkewajiban menunjukkan, bahwa mereka itu adalah pantulan cinta kasih Kristus. WorldWide Marriage Encounter, dalam kegiatan-kegiatannya, selalu melibatkan para penyandang kedua sakramen tersebut; acara-acaranya senantiasa dipimpin oleh seorang imam dan satu pasutri atau lebih. 

Dias:
Pak Jimmy, selaku koordinator ME, mungkin bisa jelaskan apa visi dan misi Marriage Encounter?

Jimmy Yapianto:
Visi ME: “Cintai satu sama lain seperti Aku mencintaimu”

Misi ME: Membaharui gereja dan merubah dengan membantu pasutri-pasutri dan imam-imam untuk hidup dalam relasi yang akrab dan bertanggung jawab dengan memberikan mereka pengalaman secara Katolik dan dukungan komunitas yang berkesinambungan untuk menunjang gaya hidup itu. 

Dias:
Dengan adanya visi dan misi tersebut, bagaimana cara ME menghayati dan mengamalkannya? 

Jenny Yapianto:
Agar dapat memahami dan menghayati dengan baik nilai-nilai yang diajarkan Marriage Encounter, maka para pasutri dan imam diwajibkan mengikuti suatu acara retret selama 2 hari, yang karena selalu diadakan pada akhir minggu diberi nama WeekEnd Marriage Encounter. Acara ini dipimpin oleh seorang imam dan dua atau tiga pasangan suami-istri sebagai team. Mereka memberikan kesaksian mengenai kehidupan perkawinan/imamat mereka dan mengajarkan dialog suami-istri.

Sesudah pulang, kepada para pasutri dianjurkan untuk melanjutkan dialog suami-istri secara teratur dan pada waktu-waktu tertentu berkumpul dalam suatu kelompok dengan teman-teman sehaluan, untuk saling membantu dalam menghayati nilai-nilai Marriage Encounter. Kepada para imam yang karena keadaan sulit untuk secara teratur berdialog dengan imam lain, dianjurkan untuk membentuk satu kelompok imam yang secara periodik berkumpul dan mengadakan dialog bersama. Untuk memperdalam penghayatan ada kesempatan untuk mengikuti Deeper WeekEnd dan WeekEnd Enrichment. “Cinta bukanlah cinta jika tidak dibagikan” , begitu kata pepatah. Maka bagi warga komunitas Marriage Encounter tersedia kesempatan-kesempatan untuk mengamalkan nilai-nilai yang telah di terimanya dengan :

  • Memimpin rekoleksi-rekoleksi bagi pasutri-pasutri yang belum pernah mengikuti WeekEnd seperti : rekoleksi untuk pasangan,rekoleksi untuk orang tua, rekoleksi kawin campur, rekoleksi keluarga dan lain sebagainya.
  • Ikut aktif dalam kegiatan paroki atau keuskupan yang berhubungan dengan pembinaan kehidupan keluarga. 

Dias:
Pak, secara umum, apa saja kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam ME? 

Jimmy Yapianto:
Ada 4 pilar gerakan MARRIAGE ENCOUNTER:

1.      Weekend

WeekEnd Marriage encounter adalah suatu sharing pengalaman dari 7 orang team (3 pasutri 1 pastor) serta para peserta dengan 15 presentasi selama 44 jam yang didukung oleh perhatian, cinta kasih dan doa dari komunitas Marriage Encounter. Tujuan WeekEnd adalah untuk menggugah setiap pasangan suami-istri agar dapat saling mencintai satu sama lain dimana melalui WeekEnd ini cinta mereka diperbaharui, dikukuhkan dan diperkuat. Para peserta WeekEnd harus memenuhi kriteria yaitu : harus berpasangan :

  • Suami Istri monogami
  • Imam dengan Imam atau bruder
  • Suster dengan suster
  • Sudah mendapat penjelasan mengenai WeekEnd
  • Cukup sehat untuk mengikuti seluruh acara WeekEnd
  • Usia perkawinan, imamat dan kaul 3 tahun keatas
  • Ada sponsor dari komunitas

Di dalam WeekEnd peserta harus terlibat (menulis reaksi, mendengar presentasi atau sharing team, menulis refleksi dan berdialog dengan pasangan), bukan sebagai observer. Banyak hasil yang telah dicapai oleh pasutri melalui WeekEnd, terutama dalam meningkatkan relasi mereka semakin hangat. Namun masih banyak lagi pasutri-pasutri yang belum dapat mengikuti WeekEnd dengan berbagai alasan baik berasal dari diri sendiri (berpendapat bahwa perkawinannya tidak mempunyai masalah, takut membuka diri) maupun dari luar diri sendiri seperti kesibukan pekerjaan, tidak dapat meninggalkan anak, jadwal WeekEnd tidak cocok dan antrian untuk ikut WeekEnd. Merupakan tugas dan tantangan bagi para pasutri yang telah ikut WeekEnd, team WeekEnd, pastor dan suster untuk semakin aktif menjala pasutri agar dapat mengikuti WeekEnd dengan cara mengatasi segala rintangan yang ada. WeekEnd telah diadakan di kota-kota besar dan kota-kota kecil di seluruh tanah air. Biji sesawi yang ditebarkan telah berkembang menjadi wilayah dan distrik.

2. Team Weekend

Sebagai pasutri yang telah mengikuti WeekEnd, kita telah menjalani perubahan dan pembaharuan dalam relasi berkat kesaksian cara hidup dan cinta para team WeekEnd. Kita juga terpanggil untuk meneruskan visi dan impian para team WeekEnd untuk membawa kabar baik kepada seluruh dunia melalui cara hidup kita sendiri yang berpengaruh dan berdaya pikat. Untuk menjadi team tidak berarti mempunyai fungsi tertentu dalan Gereja atau mendapat pekerjaan atau pangkat baru. Sebagai team, kita dipilih dan diutus oleh Gereja. Menjadi team adalah suatu janji atau kesetiaan menjalankan cara hidup yang berpusat pada relasi. Untuk menjalankan hidup berelasi diperlukan pengorbanan. Mengutamakan relasi dalam mencapai prestasi atau hasil relasi yang lebih baik, itulah panggilan sebagai team. Panggilan itu tidak berasal dari Marriage Encounter melainkan dari Gereja kita dan Allah sendiri. Team adalah anggota Gereja Katolik yang spesial dan telah dipilih menjadi lebih sadar terhadap panggilan kita sebagai pasangan atau imam sakramental. Untuk menjadi team, kita harus mengerti tugas kita yaitu sebagai pimpinan gerakan dan gembala. Sebagai pemimpin gerakan, Team dapat memberikan karisma dari cara hidup yang dijalankannya sebagai kekuatan berpasangan (couple power) dan kehangatan yang dipancarkannya.Team diterima, didengarkan, dihargai dan dicintai oleh peserta WeekEnd, Karena pelayanan dan cinta kasih yang dirasakan oleh peserta WeekEnd.Sebagai gembala, tugas team ialah mengumpulkan kawanan gembalaannya dan memimpin mereka untuk mendapat apa yang mereka butuhkan. Oleh karena itu sebagai, team perlu memiliki sifat-sifat kepemimpinan gembala yaitu beriman kuat, keinginan kuat, bergairah, visioner, kepekaan, percaya diri menghadapi masalah dengan riang, rekonsiliasi dan mengampuni. Siapa yang pantas untuk menjadi team?

Pasutri yang memenuhi kriteria untuk menjadi team adalah pasutri yang beragama Katolik, usia perkawinan antara 5-25 tahun, mengalami WeekEnd secara luar biasa, kepasutrian yang serasi dan seimbang, percaya dan melaksanakan dialog secara hidup.

3. Komunitas

Pada setiap akhir WeekEnd kita saksikan luapan kebahagian dan kegairahan para peserta WeekEnd. Inilah hasil dari dialog-dialog mereka selama WeekEnd. Sebagai kelanjutan dari WeekEnd diberikanlah pertemuan bridge process. Pertemuan bridge process penting sekali sebagai proses bagi para peserta WeekEnd untuk benar mempertimbangkan apakah akan memilih cara hidup berdialog sebagai cara hidupnya. Bila mereka memilih masuk kedalam komunitas Marriage Encounter.Komunitas Marriage Encounter adalah komunitas pasutri dan imam/suster/bruder yang telah memilih cara hidup berdialog dalam membangun relasi yang akrab dan bartanggung jawab. Untuk mendukung kehidupan berdialog diadakan program renewal enrichment, workshop, dialog, pertemuan kelompok dialog dan majalah sebagai media pengalaman.

4. Struktur

Marriage Encounter adalah komunitas orang-orang berdialog dengan menghayati nilai-nilai Weekend. Untuk itu perlu diatur agar setiap pasangan, imam, suster, dan bruder yang pulang dari Weekend dapat memperoleh dukungan yang sama seperti yang kita peroleh saat ini. Dukungan untuk memperdalam atau memperbaharui penghayatan akan nilai Weekend diberikan dalam Renewal dan kelompok dialog. Pengertian struktur bukanlah merupakan sistem yang mengatur hak dan kewajiban seperti dalam organisasi formal tetapimerupakan pengaturan proses dukungan untuk cara hidup berdialog dalam perjalan hidup bersama. Sehingga secara pasti setiap peserta yang memilih cara hidup berdialog tetap terkait sedemikian rupa dengan salah satu atau lebih kegiatan berdialog. Kelompok dialog adalah struktur dasar penting yang menentukan dinamika kehidupan gerakan dan merupakan sel-sel hidup dalam gerakan Marriage Encounter. Komunitas ME bukanlah organisasi yang mempunyai AD/ART. Tidak ada ketua, yang ada hanya koordinator, mulai dari Koordinator dunia – koordinator Asia – Kornas – Kordis – korwil – Kormep.

Pipit:
Ibu Jenny, sebagai bahan pertimbangan kami dan rekan setia gemaya khususnya, menurut pengalaman Ibu, mengapa sebaiknya pasutri Katolik dihimbau untuk ikut ME?

Jenny Yapianto:
Jadi begini, kita harus dapat mengenali kebutuhan-kebutuhan kita, ada kebutuhan pokok; yaitu kebutuhan fisik kita seperti makan, tidur, kehangatan, gaya hidup, dan sebagainya. Pada saat kebutuhan pokok ini tidak terpenuhi, kita mengalami ketidakpuasan, lapar, lelah, dingin, kesepian dan putus asa. Dengan mudah kita dapat menyadari hal ini dalam kehidupan kita.

Selanjutnya adalah kebutuhan Emosionil, ini terkait dengan relasi kita. Setiap orang mempunyai kebutuhan emosionil yang utama; yang pertama adalah harga diri. Di dalam diri kita ada kekuatan untuk menjadikan kita berharga, unik, dapat melihat diri kita sebagai seseorang yang mempunyai nilai dalam kemampuan kita untuk menghargai dan menerima diri sebagaimana adanya. Ini adalah kebutuhan harga diri: mempunyai nilai di mata kita sendiri dan di mata orang lain. Yang kedua adalah dicintai: dalam diri kita ada kekuatan untuk mencintai dan dicintai, untuk dapat diterima dan mempunyai tempat di hati orang lain, untuk mengalami kelemah lembutan, keakraban dan kehangatan. Kebutuhan dicintai, mempunyai makna dalam pandangan mata orang lain.Yang ketiga adalah keterlibatan: Bila kita telah membuat suatu komitmen dan setelah kita tahu bahwa kita tidak dapat memenuhinya, kita mungkin akan merasa tertekan saat berusaha untuk tidak mengecewakan teman-teman kita, keluarga kita. Mungkin setelah itu kita akan ditinggalkan. Saat kita ditinggalkan mereka, kita akan merasa kecewa dan kesepian. Yang terakhir adalah kebebasan: bila seseorang memberitahukan kita bagaimana melakukan sesuatu yang seharusnya dapat kita lakukan sendiri, akhirnya kita merasa didikte, timbul kejengkelan, dongkol. Perasaan ini menunjukkan kebutuhan menjadi diri sendiri hilang. Kemampuan untuk mengekspresikan diri hilang.

Cara mengatasi semua ini adalah dengan berdialog, bagaimana mengungkapkan keinginan dan kebutuhan kita agar pasangan kita, keluarga kita, teman-teman kita mengerti dan memahami akan kebutuhan kita. Hidup menurut rencana Allah, dengan dialog sebagai cara hidup kita, dengan menghayati sedemikian rupa, sehingga kita dapat meminta kepada pasangan-pasangan lain untuk dapat mengikuti langkah kami.Hidup menurut rencana Allah, berarti menghayati relasi yang intim, terbuka, percaya penuh dan bertanggung jawab. Coba kita ingat apa saja yang kita lakukan selama 24 jam dalam hidup kita – bicara, diskusi, membuat keputusan, bertengkar, makan, minum, bekerja, belanja, belajar, jalan-jalan, berjudi, seks, dan lain lain. Dengan dialog yang baik, mengajak kita mengungkapkan perasaan, sehingga kita mencapai relasi yang intim dengan pasangan kita.Dalam weekend ME, kita belajar mengenal dan mengungkapkan perasaan, dan kalau kita mampu mengungkapkan perasaan kita dengan baik kepada pasangan, dan mendengarkan ungkapan perasaan pasangan kita dengan baik, maka kita akan menjalin relasi yang intim. Kita merasa amat dekat, mendapat kehangatan yang mesra dengan pasangan kita. 

Pipit:
Menurut Pak Jimmy, seberapa pentingnya arti dialog dalam kehidupan berumah tangga? 

Jimmy Yapianto:
Dialog harian adalah suatu alat untuk membantu kita menghayati rencana Tuhan, maka seusai weekend kita para pasutri dianjurkan untuk melakukan dialog harian, agar terwujud segala keinginan kita untuk membina hubungan yang harmonis dalam keluarga. Dialog haruslah menyinari segala bentuk komunikasi yang kita lakukan selama 24 jam, sehingga dapat merubah pola kerja kita, pola pikir kita, pandangan hidup yang lebih positif, sebab dalam ME kita diarahkan untuk melihat pasangan kita dari segi positif.

Dalam ME kita juga dapat mengungkapkan perasaan kita kepada pasangan kita, sehingga kita tahu apa yang terpendam yang belum diungkapkan dari pasangan kita, yang selama ini dia rasakan tapi tidak tahu cara mengungkapkannya. Walaupun dalam suasana hati kita marah, tapi kita tetap bisa mengungkapkannya tanpa menyinggung perasaan pasangan kita karena kiat-kiat yang kita dapatkan selama mengikuti weekend ME. Kita bisa bayangkan kalau semua pasutri dapat mengungkapkan perasaan, menjalin dialog dengan baik, pasti tidak ada lagi kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan, ketidak jujuran, pertengkaran, dan sebagainya. Dan tentu saja tidak perlu adanya perceraian yang akan membuat efek saling menyakiti dan membuat anak jadi korban karena keegoisan dan cara kita mengatasi masalah yang keliru.

Dalam ME kita menyadari betul bahwa pasangan kita itu sangat berarti dimata kita. Bahwa saya sudah memilihmu dalam sakramen perkawinan kudus, dan saya ingin selalu mempertahankan milikku, sebab bagiku engkau sangat berarti. 

Dias:
Sebagai pasutri yang sudah mengikuti Weekend, apakah manfaat yang sudah dirasakan selama ini?

Jimmy Yapianto:
Yang pasti, relasi kami sebagai suami istri menjadi hangat kembali setelah mengalami weekend, dan semakin hari semakin mesra berkat visi dan daya yang saling kami pancarkan dalam berinteraksi sebagai pasangan, sebagai relasi dan sebagai teman seperjuangan sampai akhir hayat. Dan semua yang kami alami ini adalah berkat dari Tuhan yang paling indah. Sebelum mengikuti ME, kalau ada perselisihan pasti berlarut-larut, marah berubah menjadi benci dan bermusuhan sampai tak terkendali, namun puji Tuhan, setelah weekend ME kami tidak pernah berselisih sampai berlarut-larut, tidak mudah marah lagi dan lebih sabar dan tenang dalam menghadapi masalah dalam relasi pasangan kita, rasanya bahagia sekali, kerja lebih semangat dan tidur juga selalu nyenyak. Dalam sakramen perkawinan yang telah kita terima, kita telah mengambil keputusan untuk saling menerima segala kekurangan dan kelebihan, setia dalam suka dan duka hidup perkawinan kita yang sedang berjalan. Kadang-kadang badai perkawinan datang tanpa kita sadari telah membuat kita mengambil keputusan yang keliru. Hal ini bukan akhir dari segala-galanya. Kalau kita dapat melakukan dialog yang baik, saling membuka diri, menyadari kekeliruan kita, melihat sisi positif dari pasangan, kita pasti akan dapat mengatasi segala masalah. 

Dias:
Bagaimana Ibu Jenny, ada yang ingin ditambahkan? 

Jenny Yapianto:
Kita tidak dapat bicara mengenai relasi tanpa ada komunikasi yang terbuka, penuh cinta, saling menerima, maka dialog menjadi alat yang dapat kita pergunakan untuk berkomunikasi. Komunikasi kita bisa mencakup:

  • Relasi kita dengan Tuhan, membagi tugas gereja atau tugas pelayanan dan keterlibatan keluarga dalam pelayanan itu
  • Bagaimana kita mengolah keuangan keluarga kita.
  • Bagaimana kita memelihara kesehatan dan jalan keluar bila ada salah satu keluarga yang sakit
  • Membagi waktu antara pekerjaan di kantor, di rumah, hobby dan untuk kebersamaan dalam keluarga
  • Waktu yang kupakai untuk pekerjaan, apalagi kalau anak kita masih kecil yang masih ingin dibawa jalan-jalan sore, bermain dengan teman-temannya, rekreasi keluarga
  • Kapan seks itu dilakukan tanpa ada perasaan pemaksaan, dilakukan dengan sepenuh hati
  • Bagaimana cara kita mengatasi kenakalan anak-anak, pengawasan, pendidikan, pergaulannya
  • Bagaimana relasi kita dengan anak dewasa, untuk memilih pasangan hidupnya yang bisa dia andalkan untuk mendampingi hidupnya, tidak mendikte, tetapi membuka hati dan pikirannya dalam memilih jodoh
  • Bagaimana cara kita memperlakukan saudara-saudara (ipar) kita yang satu kota, yang lain kota
  • Bagaimana relaisiku dengan mertua
  • Mengenai komunikasi kita, apa sudah baik atau harus ditingkatkan lagi, yang mana yang harus ditingkatkan intensitasnya
  • Bagaimana kita mempergunakan waktu luang bersama, kapan harus istirahat supaya keseimbangan antara kerja dan istirahat dengan baik
  • Kalau waktunya pensiun, atau menjelang pensiun, apa yang harus dipersiapkan
  • Mengingat salah satu dari kita suatu saat akan meninggal terlebih dahulu, apa yang akan kita persiapkan untuk masa depan anak-anak, kelangsungan hidup keluarga tanpa salah satu dari kita yang telah menghadap Bapa.

Jimmy Yapianto:
Saya juga mau menyampaikan bagi pemirsa yang tertarik untuk bergabung dalam gerakan ME dapat menghubungi kami. Biasanya weekend ME diadakan pada tingkat keuskupan, berlangsung pada akhir minggu, dimulai hari Jumat sore sampai minggu sore, dan dialaksanakan ditempat tertentu, biasanya di luar kota (seperti di rumah retret Bukit Rahmat – Putak – Kutai) dan hanya diikuti oleh pasutri, tidak boleh membawa anak-anak, dll, sehingga benar-benar para pasutri berweekend dengan berkonsentrasi pada masing-masing pasangannya saja.


Aksi

Information

2 responses

8 10 2011
Henricus Kartono

Salam kangen buat romo Nico,
Saya teman “misdinar” di Purbayan dulu,
Saya dengar romo akan menjalani operasi di RS Harapan Kita ya,
kalau saya boleh tengok, kira-2 kapan ?
Hampir 40 tahun saya tidak pernah ketemu

Salam,
Henricus Kartono/Bekasi / HP 081532790275

12 01 2012
anna

– Bagaimana cara mendaftar utk ikut dalam program ME?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: