Sejarah Gereja Purba

21 12 2006

Gereja bagai bahtera dan kita penumpangnya menumpang bahtera dalam mengarungi samudera kehidupan. Ada masa samudera sangat tenang tapi tak kurang pula gelora ombak siap menenggelamkan bahtera. Rekan setia, senada dengan lagu pengantar kita tadi, malam ini kita akan sedikit mengupas Gereja, khususnya pada periode-periode awalnya, yang sering kita sebut dengan periode Gereja Purba, yaitu mulai saat para murid berkumpul pada hari raya Pentakosta yang kita rayakan sebagai saat lahirnya Gereja sebagai persekutuan umat beriman. Periode ini seharusnya berakhir pada masa sebelum Konsili Pertama di Nicea sekitar tahun 325 tapi kita akan sedikit memperpanjangnya hingga sekitar tahun 500, jadi masih sebelum jatuhnya Konstantinopel yang mengakibatkan berdirinya Gereja Ortodoks Timur. Semoga kita bisa membicarakan periode berikutnya pada kesempatan lain. Pada periode ini kita akan melihat bagaimana para rasul berkeliling mewartakan Yesus Kristus, bagaimana suasana politik-sosial dan budaya pada masa-masa tersebut, para martir dan Bapa Gereja yang awal, juga bagaimana Gereja kita masa kini mewarisi semangat Gereja Purba tersebut.

Ivan :

Baik, Pastor Sinnema, bagaimana sebetulnya Sejarah Gereja Purba ini sampai kepada kita, apakah sama seperti Kitab Perjanjian Baru juga?

P. Sinnema:

Betul, saat awal terbentuknya Gereja dalam peristiwa Pentakosta tercatat dalam Kisah Para Rasul juga semangat para rasul Kristus untuk mewartakan iman akan Yesus yang bangkit dan pemahaman paripurna akan Perjanjian Lama yang telah digenapi. Lalu berbagai surat-surat rasul juga memberikan pemahaman kepada kita, kemana saja mereka pergi, bagaimana mereka menghadapi masalah, dikejar dan ditangkapi karena iman mereka. Situasi masa itu sangat sulit, mereka bukan hanya menghadapi bangsa lain yang curiga tapi juga bangsa mereka sendiri yang menganggap mereka sebagai pengkhianat. Kisah Para Rasul juga mencatat martir pertama, Santo Stephanus. Periode sesudahnya tentunya ditemukan dari berbagai catatan dan manuskrip kuno, yang tercatat bukan saja di Palestina, tapi juga terutama di Roma.

Ivan:

Kemana saja Gereja pada awalnya ini berkembang?

P. Sinnema:

Dari awalnya di Tanah Palestina, para murid menyebar ke banyak tempat. Tempat-tempat awal yang menjadi pusat hidup kekristenan dan menjadi apa yang kini kita sebut sebagai patriarkat. Ada di Konstantinopel, Alexandria, Antiokia, Yerusalem dan Roma. Kelak perpecahan Kekaisaran Romawi menjadi Barat di Roma dan Timur di Bizantium pada abad ketiga membawa pengaruh perbedaan utama antara ritus Barat dan ritus Timur. Selain itu karena perbedaan geografis juga terdapat banyak gereja-gereja lain dengan tradisi tersendiri pula, beberapa di antaranya dianggap tidak sejalan dengan kekristenan. Penyebaran kekristenan juga tetap berada di dalam penindasan terhadap para pengikut Kristus, baik di Palestina maupun juga di Roma. Penindasan yang terkenal adalah yang dilakukan oleh Kaisar Nero setelah peristiwa kebakaran di Roma tahun 64. Tapi kata kekristenan (Christianity) sendiri baru umum dipakai sesudah abad ke 2, tercatat digunakan pertama kali oleh Ignatius dari Antiokia. Umumnya pada saat itu para pengikut Kristus masih dianggap sebagai sebuah sekte sempalan dalam agama Yahudi. Masuknya orang-orang non Yahudi (terutama orang Romawi) juga menjadikan kekristenan semakin lepas dari anggapan sebagai sekte Yahudi, karena tidak mungkin orang non Yahudi diterima sebagai penganut agama Yahudi.

Ivan:

Lalu mengapa kekristenan sempat dianggap sebagai sekte Yahudi?

P. Sinnema:

Yesus dan para rasul semuanya adalah orang Yahudi. Yesus sendiri sangat banyak menggunakan naskah-naskah Yahudi saat mengajar. Kekristenan sendiri tetap menggunakan kitab suci orang Yahudi dalam Perjanjian Lama dan meneruskan doktrin fundamental Yahudi akan monotheisme dan harapan akan mesias. Kekristenan sendiri juga tetap menggunakan banyak bentuk-bentuk peribadatan Yahudi, seperti gedung peribadatan seperti sinagoga, doa, imamat, penanggalan liturgi, penggunaan musik dan nyanyian, perpuluhan, dan puasa. Tapi hal penting yang melepaskan anggapan bahwa kekristenan sebagai sekte Yahudi adalah pembaptisan akan Kornelius, seorang perwira tentara Romawi. Orang Romawi, yang tidak bersunat dan tidak mengikuti hukum Musa tidak mungkin menjadi penganut Yahudi. Kemudian kekristenan juga semakin meluas di mediterania.

Tetapi ini saja tidak langsung menjadi kesepakatan bersama. Ada yang menginginkan bahwa kekristenan seharusnya tetap melaksanakan tradisi Yahudi, seperti bersunat dan ada yang beranggapan bahwa kekristenan sudah tidak perlu melaksanakan tradisi Yahudi. Untuk memecahkan masalah ini, Gereja Perdana mencari kata sepakat lewat Konsili Yerusalem tahun 50, seperti tercatat pada Kisah Para Rasul Bab 15. Ini adalah cikal bakal tradisi para Bapa Gereja untuk berkumpul memecahkan persoalan besar seperti doktrin dan ajaran-ajaran resmi.

Ivan:

Kembali bersama Gemawarta, pada malam hari ini kami masih berbincang-bincang bersama Pastor Pieter Sinnema mengenai Sejarah Gereja Purba. Pastor Sinnema, tadi sudah kita bahas mengenai konsili Yerusalem. Kita yang hidup di jaman ini hanya sekedar mengenal konsili terakhir yaitu Konsili Vatikan II di tahun 1963-1965. Apakah ada banyak konsili sejak Konsili Yerusalem itu?

P. Sinnema:

Betul, ada banyak pertemuan para Bapa Gereja pada masa Gereja Purba, karena ada sangat banyak hal-hal yang perlu dijadikan sebagai keputusan resmi. Kita mengenal sebuah kesatuan, terdiri dari 7 kali konsili awal:

1. Konsili Nicea Pertama (325), terutama membahas Arianisme, paham yang menolak Yesus sebagai sungguh sungguh Allah hanya sebagai subordinat dari Allah Bapa. Dari Konsili Nicea Pertama ini lahir Syahadat Nicea yang membantah Arianisme dengan ungkapan kredo ”Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah Benar”.

2. Konsili Konstantinopel yang Pertama (381), memperbaiki ungkapan Syahadat Nicea dengan deskripsi tentang Roh Kudus: ”Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan; Ia berasal dari Bapa dan Putra, Yang serta Bapa dan Putra, disembah dan dimuliakan. Ia bersabda dengan perantaraan para nabi”

3. Konsili Efesus (431), menghasilkan doktrin Bunda Maria sebagai Bunda Allah (theotokos). Doktrin ini sekaligus juga menguatkan penolakan terhadap Arianisme

4. Konsili Chalcedon (451), menghasilkan doktrin Yesus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh manusia.

5. Konsili Konstantinopel yang Kedua (553), menghasilkan doktrin yang menganggap Nestorianisme sebagai ajaran yang keliru.

6. Konsili Konstantinopel yang Ketiga (680), menghasilkan doktrin bahwa bukan hanya memiliki dua bentuk, Ilahi dan manusia, tetapi juga dua kehendak sekaligus, kehendak Ilahi dan kehendak manusia.

7. Konsili Nicea yang Kedua (787), menghasilkan kesepakatan untuk menyetujui penggunaan icon kudus dalam kekristenan. Penggunaan icon ini sempat dihentikan pada 754. Gereja-gereja Protestan dewasa ini tidak mengikuti hasil Konsili Nicea yang Kedua ini.

Secara umum ketujuh Konsili ini yang menjadi doktrin dasar kekristenan hingga dewasa ini. Sesudah itu masih ada sangat banyak konsili-konsili, tetapi ada yang tidak diterima oleh Gereja Ortodoks Timur dan ada yang tidak diterima Gereja Katolik Roma. Tetapi beberapa Konsili Gereja Katolik Roma yang penting di antaranya adalah Konsili-konsili Lateran, yang memutuskan status selibat untuk para imam dan uskup dan doktrin transsubstansiasi (roti dan anggur sesudah konsekrasi sungguh-sungguh Tubuh dan Darah Kristus). Adapula Konsili Roma tahun 382 yang menetapkan kanon kitab suci.

Ivan:

Wah sangat banyak ya, lalu saya tertarik ada Arianisme ada Nestorianisme. Apa ada banyak isme-isme yang berkembang pada masa itu Pastor?

P. Sinnema:

Betul, ada sangat banyak pendapat-pendapat yang saling bertentangan pada masa itu. Sesudah ada ketetapan tentang doktrin apa yang menjadi persetujuan bersama, tentu saja pendapat yang bertentangan itu disebut bidaah atau heresy. Heresy sendiri berarti pilihan dan merujuk pada pilihan interpretasi akan ajaran Yesus. Tadi di atas sudah disebutkan tentang Arianisme yang mengajarkan bahwa Yesus tidak setara dengan Allah Bapa dan Nestorianisme yang mengajarkan bahwa Yesus sebagai manusia berbeda dengan Yesus sebagai Allah dalam satu tubuh yang muncul bergantian. Juga ada gnostisime yang memiliki cara pandang non-literal terhadap teks kitab suci. Gnostisisme sebenarnya adalah istilah modern untuk berbagai kelompok masyarakat kristiani pada masa itu yang juga membaca teks-teks non skriptural. Juga ada pula Marcionisme yang menolak sepenuhnya kontinuitas kekristenan dari Yahudi dan Perjanjian Lama.

Ivan:

Jadi ada sangat banyak ya masalah yang dihadapi Gereja Purba. Tapi lalu siapa sajakah orang-orang yang penting pada masa awal itu?

P. Sinnema:

Selain para rasul Kristus tentunya, termasuk juga Santo Paulus ada beberapa orang-orang yang berjasa. Kita mengenal Santo Ignatius dari Antiokia, murid Santo Petrus yang pertama kalinya menggunakan istilah ’Gereja Katolik’ dalam suratnya kepada Gereja di Smyrna. Lalu juga ada Ireneaus dari Lyon yang dalam tulisannya Adversus Haereses memberi pemahaman tentang bidaah/heresy yang terjadi. Lalu juga Tertullian, penulis Latin pertama yang menuliskan istilah Latin pertama untuk kekristenan seperti ”Trinitas”, ”Tres Personae, Una Substantia” dan ”Sacramentum” yang kita pakai hingga hari ini. Orang-orang yang mempertahankan doktrin kekristenan dengan tulisan-tulisannya disebut apologetik

Ivan:

Rekan setia, kembali bersama Gemawarta malam ini, dan bagi anda yang baru saja bergabung bersama kami, perbincangan kita malam ini adalah mengenai Sejarah Gereja Purba. Pada sesi ini kita akan membahas Gereja terutama sesudah masa penindasan sudah teratasi dan Kristen diakui di Romawi. Jadi bagaimana nih Pastor, sesudah kekristenan diburu-buru dan ditindas, lalu akhirnya Kekristenan diakui sebagai agama negara di Romawi. Ceritanya bagaimana nih pastor?

P. Sinnema:

Ini terjadi karena pertempuran tentara Romawi di Milvian pada tahun 312. Menurut cerita saat itu Kaisar Konstantin bermimpi untuk memberi tanda huruf Chi dan Rho dari abjad Yunani pada tameng para tentaranya. Mereka menang. Chi dan Rho sendiri juga adalah dua huruf awal untuk kata Christos/Kristus. Setelah kemenangan ini, Konstantin menghentikan penindasan kepada umat Kristen dengan Edict of Milan. Selain itu Konstantin juga menghibahkan sebuah istananya kepada Paus Miltiades. Istana ini yang kelak menjadi Basilika Lateran, tempat kedudukan Uskup Roma. Kemudian tahun 326 Konstantin juga membangun Basilika Santo Petrus di atas makam Santo Petrus, Paus pertama. Tetapi Konstantin sendiri baru dibaptis beberapa saat menjelang kematiannya, tahun 337. Lalu akhirnya pada tahun 380, Katolik ditetapkan sebagai agama negara oleh Kaisar Theodosius. Kemudian proses kanonisasi Kitab Suci pada tahun 382 dan pemakaian Vulgata, kitab suci terjemahan Latin sehingga semakin banyak orang Romawi menjadi Kristen.

Ivan:

Baik, terima kasih pastor. Rekan setia, kita sudah banyak mendapat pengetahuan malam ini tentang bagaimana doktrin Gereja bersumber. Lalu bagaimana asal usulnya ada komunitas imam, bruder dan sebagainya pastor?

P. Sinnema:

Sebetulnya ini bermula dari teladan hidup Yesus sewaktu di gurun selama 40 hari. Banyak pengikut awal Yesus yang juga mencontoh sikap hidup demikian, mengisolasi diri di gurun pasir. Tapa laku demikian disebut hermit. Ini juga adalah sikap matiraga di mana setelah orang Kristen tidak lagi ditindas Romawi, dan mereka tidak akan lagi mati sebagai martir, mereka menjalani sikap hidup asketik dengan mengasingkan diri. Pada masa itu cukup banyak orang yang menjalani sikap hidup hermit di padang gurun di Mesir, di antaranya yang dikenal adalah Antonius dari Mesir. Walaupun awalnya tinggal tersendiri dalam kesendirian mutlak, mereka yang berdekatan akhirnya membentuk komunitas untuk bersama-sama berdoa dan bekerja.

Bentuk kehidupan ini semakin berkembang, di antaranya oleh Santo Makarius dan Santo Pachomius. Orang-orang yang memimpin komunitas ini akhirnya dipanggil sebagai Abba, dan sebutan itu digunakan hingga kini. Bentuk kehidupan ini akhirnya menjadi populer hingga ke Eropa. Di kalangan Kristen Ortodoks ada Santo Basillus dari Caesarea yang kemudian merumuskan aturan hidup membiara. Di kalangan Gereja Barat (Katolik Roma) ada Santo Benediktus di abad keenam yang juga merumuskan aturan hidup membiara dalam tulisannya ’The Rule of St Benedict’ untuk biaranya di Monte Cassino. Aturan hidup membiara ini akhirnya dipakai oleh banyak komunitas-komunitas lain.

Ivan:

Lalu kalau biara menjadi tempat mengasingkan diri, bagaimana bisa ada imam?

P. Sinnema:

Betul, biara memang adalah kumpulan para awam yang ingin mengasingkan diri. Tetapi tetap sebagai orang Kristen mereka membutuhkan rahmat sakramental. Jadi pada awalnya mereka bergantung pada paroki lokal untuk pelayanan sakramental. Tapi bila biara terdapat pada tempat yang sangat terisolasi mereka sangat kesulitan. Pilihan mereka akhirnya adalah mengharapkan ada imam yang menjadi anggota komunitas atau menjadikan anggota komunitas atau abba mereka sebagai imam. Hal ini yang kemudian mendasari perbedaan imam dari suatu ordo komunitas dan imam praja dari suatu keuskupan.

Ivan:

Lalu bagaimana pengaruh kehidupan biara ini pada kekristenan Pastor?

P. Sinnema:

Pada perjalanan Gereja Katolik, biara-biara memberi sumbangsih, baik dalam pelayanan kepada masyarakat di sekitarnya seperti menyelenggarakan pendidikan dan pelayanan kesehatan. Bagi Gereja sendiri, biara menjadi tempat menyimpan dan menyalin kitab suci. Bagi perkembangan ilmu juga biara seringkali menjadi tempat berkembangnya teknologi pertanian pada awal mulanya.

Ivan:

Ada berapa banyak biara-biara ini Pastor?

P. Sinnema:

Cukup banyak ragamnya, tergantung pada fokus pelayanannya juga. Seperti ditulis di atas ada biara Benediktin yang merupakan salah satu komunitas biara tertua yang tetap eksis hingga saat ini dengan usia mencapai 1500 tahun, oleh Santo Benediktus. Anggotanya memakai huruf OSB di belakang namanya. Selain itu kita tentu familiar dengan Fransiskan (OFM) oleh Santo Fransiskus Assisi, Kapusin (OFM Cap.) yang mempopulerkan kopi Cappucino, Dominikan (OP), Cistersian (OCist), Trappist (OSCO) hingga Ordo terakhir yaitu Yesuit (SJ).

Iklan

Aksi

Information

One response

28 09 2009
egata

Trimakasih pak untuk penjelasan yang telah diberikan mengenai gareja purba, pertama maaf apabila saya mengkritik atau mengkomentari tulisan bapak. bapak menuliskan sejarah gereja purba, tapi bapak tidak memberitahukan apa nama-nama gereja purba tersebut. setahu saya gereja purba itu ada 4 yaitu gereja matius, markus, lukas dan gereja yohanes, maaf kalo saya salah. seharusnya ini perlu bapak jelaskan dan mengenai tahun atau awal gereja itu bisa ada (karena gereja sudah mulai muncul sudah sejak kematian Yesus). salam Tuhan Berkati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: