Jalan Salib

28 02 2008

Jalan Salib, dalam bahasa Inggris disebut Stations of the Cross, dan dalam bahasa Latin disebut Via Dolorosa. Sejak abad pertama umat Kristiani telah mengadakan ziarah ke tanah kelahiran Yesus. Sesudah menemukan Salib Kristus pada tahun 325, Santa Helena, Ibu Kaisar Konstantinus, mencari makam Yesus dalam usahanya untuk mengenali dari dekat tempat Yesus dilahirkan, wafat dan dimakamkan. Segera makam itu menjadi pusat ziarah orang-orang Kristen. Seiring dengan itu, berkembanglah sebuah bentuk devosi yang menelusuri jejak perjalanan Yesus yang ditempuh sebelum disalibkan, yaitu dari Benteng Antonia sampai ke Kalvari dan ber-akhir di Makam Suci. Napak tilas jejak Yesus itu di-sertai dengan meditasi mengenangkan sengsara Kris¬tus. Pelan-pelan Gereja meresmikan devosi saleh ini.

Tetapi tidaklah mudah mencapai Yerusalem untuk mengunjungi Makam Suci ini dan melakukan napak tilas jejak Yesus. Ini disebabkan oleh jarak yang jauh, biaya yang tidak murah dan belum lagi bahaya yang muncul saat terjadi konflik mulai abad kesepuluh. Maka Gereja mengizinkan membuat semacam Makam Suci di pelataran gereja atau di biara atau di pertapaan. Dibuatlah peristiwa-peristiwa utama sengsara Yesus.

Pada abad XIV, biarawan-biarawan Fransiskan menemukan pemecahan yang praktis, yaitu mendirikan stasi-stasi Jalan Salib di paroki-paroki dengan ijin dari Takhta Suci. Salib-salib kayu sederhana ditancapkan untuk memperingati peristiwa-peristiwa penting dalam sengsara Kristus. Para biarawan Fransiskan juga menuliskan lirik Stabat Mater, yang biasanya dinyanyikan saat Ibadat Jalan Salib, baik dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Latin, maupun dalam bahasa setempat. Pelan-pelan, sta¬si-stasi itu dilengkapi dengan gambar. Jumlah stasinya beraneka sam¬pai Paus Clemens XII (1730-1740) menetapkannya sebanyak empatbelas pada ta¬hun 1731. Bapa Suci juga memberi izin untuk membuat stasi-stasi Ja¬lan Salib itu di setiap gereja. Versi yang lama mulai dengan pengadilan oleh Pilatus sampai Yesus dimakamkan. Sekarang ada versi baru, yang mulai dengan Perjamuan Malam Terakhir dan berakhir dengan Kebangkitan Tuhan

Kisah sengsara Yesus dalam Injil – terutama sekali tulisan St Lukas – menjadi sumber bagi sebagian besar dari keempatbelas perhentian Jalan Salib tradisional. Peristiwa Yesus dijatuhi hukuman mati oleh Pilatus, Yesus memanggul salib-Nya, Simon dari Kirene membantu memanggul salib, perempuan-perempuan yang menangisi-Nya, pakaian Yesus ditanggalkan, Yesus disalibkan, Yesus wafat, Yesus diturunkan dari salib dan dimakamkan, semuanya dicatat dalam Kitab Suci. Tetapi ada perhentian-perhentian yang tidak tercatat dalam Injil, misalnya peristiwa Yesus berjumpa dengan Maria, Bunda-Nya; Veronika mengusap wajah Yesus; Yesus jatuh sebanyak tiga kali. Memang benar perhentian-perhentian ini tidak tercatat dalam Injil tetapi berdasarkan tradisi dan catatan apokrif, semuanya adalah benar.

Walaupun demikian, ada pula bentuk-bentuk perhentian yang berbeda. Di Filipina, ada bentuk ibadat jalan salib yang perhentian-perhentiannya dimulai dari peristiwa perjamuan terakhir hingga kebangkitan Yesus.

Pada Jumat Agung 1991 Bapa Suci Yohanes Paulus II mengenalkan bentuk lain ibadat Jalan Salib dengan perhentian-perhentian yang seluruhnya dimuat dalam kitab suci, mulai dari Yesus berada di taman Getsemani, dikhianati Yudas hingga dikuburkan.

Ibadat Jalan Salib mengajak kita masuk dalam peristiwa-peristiwa yang dialami Yesus dalam sengsara-Nya sampai Dia wafat dan dimakamkan. Yesus mengajak murid-murid-Nya, untuk “memanggul salibnya” dan mengikuti Dia (Mat 16:24). Kristus telah menderita untuk kita dan telah meninggalkan teladan bagi kita, supaya kita mengikuti jejak-Nya memanggul salib (1 Ptr 2:21). Inilah syarat yang diminta Yesus agar kita pantas disebut murid-murid-Nya (Mrk 8:34).

Melalui renungan akan Jalan Salib Tuhan, kita diundang menyadari betapa berharganya penderitaan dan sengsara yang dilakukan Tuhan Yesus untuk menebus dosa-dosa kita. Bilur-bilur yang ditanggung-Nya dan te-tesan darah yang dikucurkan-Nya memberi kita hidup kekal. Kurban Kristus mendamaikan kita dengan Allah, la ingin mengikutsertakan kita dalam kurban ini, karena kita adalah ahli waris-Nya (Mrk 10:39). Diharapkan lahirlah sikap syukur dan terimakasih atas pengorbanan dan kasih Yesus yang begitu besar.

Selain itu, ibadat Jalan Salib juga mengajak kita menjadi peka dan solider de¬ngan sesama, khususnya yang menderita. Simon dari Kirene dan Veronika menunjukkan keberanian yang luar biasa untuk membantu Tuhan yang sedang menderita. Keberanian itu seringkali menuntut pengorbanan, bukan hanya susah payah fisik, tetapi juga harga diri, tenaga, uang, bahkan kemapanan dan masa depan, dll. (bdk Luk 10:25-37). Teladan Yesus sendiri tak kalah mengagumkan. Meskipun tengah menderita begitu hebat, Yesus masih sempat menghibur perempuan-perempuan yang menangisiNya (bdk. Luk 23:28). Lebih dari itu, di puncak salib, setelah disiksa begitu keji, Yesus masih sempat mengingat kesejahteraan para penyiksanya, yaitu dengan memohonkan ampun untuk mereka (Luk 23:34). Kepekaan kepada sesama, khususnya yang menderita mengingatkan kita pada ajaran Yesus bahwa segala sesuatu yang kita lakukan untuk salah seorang saudara yang paling hina, kita lakukan untuk Dia (Mat 25:45).


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: